Pagutan bibir Guntur mengisyaratkan kepedihan bagi Rani. Saat bibir mereka berpisah, dalam air mata yang terus menggenang, Rani mengamati lamat-lamat sosok Guntur. Jemari lentiknya mengelusi rahang pria itu. Guntur tak mempunyai salah apa pun padanya, sama sekali tidak ada, tetapi hati Rani ingin mendekati Guntur dan yang dilakukan Rani dulu justru menghancurkan kehidupan pria yang tak tahu apa-apa ini.
Ditatap demikian sendu membuat hati Guntur porak-poranda. Apa yang akal dan hati Guntur inginkan tak lagi jelas. Mungkin juga dia sudah hilang akal ketika kembali menyambar bibir Rani dan melumatnya dengan penuh gairah.
Apa? Kenapa? Bagaimana mereka bisa berada dalam kondisi begitu rumit seperti ini?
Guntur hanya ingin melarikan sejenak kawat duri yang mengikat tubuhnya, dan mencecap manisnya bibir Rani.
Tanpa sadar, tubuh Rani sudah berada di bawah kukungan Guntur. Rani tahu dari matanya, Guntur telah terselimuti gairah. Dia juga tahu, dia bisa saja mendorong bahu Guntur menjeda kegiatan mereka, meminum pilnya, atau—segalanya tak akan terjadi lagi. Ketika dia masuk ke kamar Guntur pasti telah sadar, dan keadaan intim mereka akan terpecah.
Segala pertimbangan Rani musnah ketika Guntur kembali meraih bibirnya, tangannya memeluk Guntur dengan sayang, pria ini tak seharusnya mendapatkan perlakuan seburuk itu. Dan semua itu disebabkan oleh Rani.
Rani menarik wajah Guntur saat mengecupi lehernya, dan balas melumat bibir suaminya itu dengan gairah yang sama.
Rani tersentak saat Guntur dengan tergesa menarik celana piama berikut celana dalamnya. Yang ada dipikiran Guntur saat itu, dia hanya ingin merasakan Rani sesegera mungkin. Ciuman Guntur kembali berpindah ke leher Rani hingga ke lekuk dadanya.
Mata Rani memejam merasakan begitu banyak sensasi yang selalu terjadi ketika bibir Guntur menyusuri tubuhnya. Mata Rani terbuka, dengan bibir bawah tergigit kuat, saat merasakan Guntur memasuki tubuhnya. Tidak ada permulaan yang lama dan lembut seperti biasanya, meski hasrat yang memenuhi tetaplah sama.
Rani tak lagi berpikir, bagaimana mereka bisa bercinta di atas kursi pudar seperti ini. Yang Rani rasakan hanya dia semakin terbang mengawang-awang ketika Guntur terus bergerak di tubuhnya. Dan semakin cepat, semakin Rani menggigit bahu Guntur rasa ingin berteriak.
Ketika klimaks itu menghantam, Rani mengerang tertahan di ceruk leher Guntur. Napas mereka saling memburu dan terdengar di masing-masing telinga. Keadaan itu berselang cukup lama, hingga napas keduanya saling berangsur normal, dan Guntur serta-merta bangkit, tak bisa membiarkan Rani menahan tubuh besarnya lebih lama lagi.
Guntur kembali memakai celananya. Sementara Rani kehilangan sedikit daya untuk bangkit. Tetapi yang tak disangka oleh Rani, Guntur justru memakaikan kembali celana tersebut ke tubuhnya.
Rani berhasil bangkit dengan bantuan tangan Guntur. Hanya saja, Guntur langsung duduk dan memandang ke arah lain, pria itu menghindari bola mata Rani.
"Masuklah ke kamar," gumam Guntur nyaris tertelan serak.
Saat itu Rani mengerti, pasti ada banyak hal yang tengah dipikirkan Guntur.
***
Keesokkan paginya, Rani tak keluar kamar hingga sadar Guntur telah pergi ke pasar seperti biasanya. Rani tak menyangka mereka akan melakukannya di kursi itu. Tetapi mereka menyelesaikannya dalam perasaan kacau balau. Pria itu juga tak masuk ke kamar semalaman. Mengingat semua yang terjadi di masa lalu pasti sangat berat untuk Guntur, keadaan yang tak akan pernah dapat digambarkan oleh Rani.
Rani menyelia tirai kamar, tepat di sebelah kamarnya. Kamar yang tak pernah dimasukinya sebab Guntur pun terlihat tak pernah memasukinya, jadi Rani anggap kamar ini adalah wilayah privasi. Perlahan Rani memutar handle, dan menguak daun pintu. Gelap. Begitu menemukan sakelar Rani pun langsung menghidupkan lampu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jejak Dusta
RomansaGuntur Pradana Ginting pernah menjadi korban salah tangkap. Dan itu disebabkan oleh anak dari kepala polisi di desanya yang mengaku telah diperkosa oleh Guntur. Guntur membenci wanita yang bernama Aulia Maharani itu. Sepuluh tahun berlalu ia ingin m...
