Bab 29

5.4K 563 19
                                        

Guntur mengintip dari tudung saji, apa sekiranya yang dimasak Rani, dan manik matanya serta-merta melebar, tersenyum seraya menggeleng-geleng kepala, karena yang tersaji di sana adalah lele goreng utuh tanpa dipotong-potong.

"Abang..."

Mendengar panggilan Rani, senyum Guntur langsung menyurut, berganti dengan wajah datar. Guntur membalik badannya, dan Rani serta-merta menyodorkan telunjuknya yang terplaster.

"Lihat ini! Gara-gara Abang tanganku jadi luka!"

Guntur berdecak. "Pakai akal dong, kan bisa pakai sarung tangan, serbet, atau apa pun."

"Tadi ada kucing... mau curi lelenya! Jadi aku refleks ambil. Terus jadinya begini!! Kena tanduknya!" ucap Rani tak terima, masih jengkel setengah mati.

"Patil. Bukan tanduk," ucap Guntur membenarkan.

Rani semakin menatap dongkol. "Terserah apa namanya!"

Guntur menarik tangan Rani, berpura melihat jari wanita itu. Sementara wajah Rani langsung berseri, yang dia tutupi dengan rengut.

"Patil lele itu berbisa. Dan kalau kena, biasanya bisa sampai demam."

Mata Rani langsung membeliak ngeri. "M-masa? Terus gimana dong??"

"Ya nggak gimana-gimana. Kalau sakit, minum obat."

Rani langsung berdecak.

"Tapi sayang sekali. Kalau sampai demam, sepertinya besok aku akan pergi sendiri."

Bola mata Rani kembali melebar. "Maksudnya? Memangnya Abang mau ke mana??"

"Omong-omong soal memanaskan motor, sudah lama motor itu tidak kuajak jalan. Dan lagi, sudah lama aku tidak libur."

"Jadi maksudnya, kalau aku tidak demam. Abang mau ajak aku??"

Guntur melepaskan tangan Rani, kenapa dia yang jadi tertangkap basah dengan jelas? Guntur hanya berdeham kecil.

"Ini luka kecil aja kok. Tadi cuma kena sedikit. Aku beneran nggak demam. Kalau nggak percaya pegang aja dahiku..."

Guntur berusaha menghindar dengan menuju rak piring dan menuju ricecooker.

"Jadi intinya, kalau aku tidak demam kita jadi pergi ke pantai, iya kan??" tanya Rani ketika mengikuti langkah Guntur.

"Kita lihat nanti malam, mungkin saja kamu demam tengah malam."

Amit-amit... batin Rani yang langsung ngeri, dan mendadak mengapa darahnya berdesir. Astaga... jangan sampai.

Guntur lanjut menyendokkan nasi ke piringnya. Lalu duduk di kursi meja makan.

"Ini sudah kamu garami atau tidak?"

Rani langsung cemberut. "Sudah..." seru Rani, lalu mengambil lele-lele yang telah digorengnya dan meletakkannya ke piring Guntur. "Karena ini kesukaan Abang. Abang harus habiskan. Aku sudah emosi seharian hanya perkara lele."

Saat dilirik Rani, Guntur menatap tajam. Rani hanya mengendik. "Habiskan! Tidak boleh mubajir."

Astaga... bisa-bisanya wanita ini membalikkan ucapan Guntur.

***

Keesokkan harinya.

Rani memoles lipcream, dan berputar sekali lagi di depan cermin, dia memakai jins, tanktop, juga kemeja yang sengaja diikat dipinggang berwarna putih, senada dengan sepatunya. Tidak lupa membawa kacamata dan topi. Tadi begitu Bi Sri datang, Rani sudah menyiapkan segala perlengkapan Melani. Dan sekarang semuanya beres. Mereka tinggal berangkat!

Jejak DustaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang