Rani senang rumah kembali diisi dengan sosok Guntur. Tentu saja. Tetapi sosok Guntur yang menjalani aktifitas seperti biasanya, sedikit membuat Rani sebal. Tak ada pancingan. Tak ada celetukan.
Rani juga tak seharusnya menjadi uring-uringan. Jika dipikirkan kembali. Bukankah bagus jika Guntur tak menyentuhnya. Artinya pria ini sedikit beradab, apalagi dengan pernikahan mereka yang terpaksa. Tetapi kenapa hati Rani tetap kesal? Karena kamu menginginkan yang sebaliknya Rani... cibir sisi dirinya yang lain, membuat Rani merutuknya keras.
Tapi bukan berarti Guntur juga tak menginginkannya kan? bela sisi diri Rani yang lain. Kenapa juga Guntur membelikannya pil? Atau jangan-jangan Guntur hanya menginginkan Rani disaat pria itu butuh? Lalu Rani akan menjadi istri yang pasrah mengikuti perintah suami? Tidak! Mana bisa begitu! Zaman sekarang posisi pria dan wanita sederajat. Dan wanita juga berhak menolak, jika tidak ingin disentuh!
Yakin tidak ingin disentuh? Ejek sisi batin Rani yang lain. Matanya semakin memandang malas pada Guntur yang tampak mengunyah dengan cepat seperti biasanya.
Guntur menaikkan pandangan saat meraih gelas berisi air putih tak jauh dari hadapannya, ketika pandangan mereka bersirobok Rani langsung mengalihkan pandangan ke piringnya, yang tanpa sadar hanya dia aduk-aduk sejak tadi tanpa dikunyah karena sibuk melamun.
Guntur minum dengan gerak lebih pelan seraya memandang curiga.
"Kalau tidak mau dimakan kenapa dimasak," tegur Guntur ketika meletakkan gelasnya kembali. "Mubajir."
Kilatan langsung bersinar di mata Rani. "Begini pun Abang permasalahin? Aku sedang nggak selera makan, memangnya kenapa?"
Guntur menyandarkan punggung ke kursi. "Setiap hari aku lihat makanan menyisa banyak. Daripada dibuang lebih baik dikasih ke Ika—"
Bola mata Rani langsung membeliak. "Memangnya dia tidak masak di rumahnya? Ah... setahuku dia tinggal dengan Kakaknya aku yakin di rumah pun dia hanya tinggal makan." Rani mencampakkan sendoknya ke piring begitu saja. Astaga... Rani tak pernah seemosi ini.
Atau jangan-jangan service yang Ika berikan begitu hebatnya, sehingga Guntur tetap baik dan peduli kepada wanita itu?! Memikirkan itu dada Rani kian membara.
"Bi Sri, tetangga kanan-kiri." Dahi Rani berkerut dalam tak mengerti maksud ucapan Guntur. "Makanya kalau orang bicara jangan dipotong."
Bibir Rani cemberut semakin panjang. Memangnya iya Guntur hendak berucap seperti itu tadi? Tapi mengingat Guntur jarang berbohong sepertinya Rani bisa mempercayainya, namun tak mengurangi rasa kesalnya, karena pria itu menyebut nama Ika paling pertama.
"Aku akan memberikannya ke yang lain, tapi tidak ke Ika," cetus Rani cepat.
"Akan aneh kalau kamu memberi ke yang lain sementara jelas-jelas Ika bekerja di sini."
"Kenapa Abang selalu membelanya??" sergah Rani tanpa ditahan-tahan.
Guntur menyoroti semakin dalam. "Singkirkan sentimen pribadimu. Ika di sini jauh sebelum kamu berada di sini. Tidak ada yang akan kamu dapatkan hanya dengan merasa bisa mengalahkannya. Bersikaplah dewasa."
"Oh tentu ada," ucap Rani dengan hati meluap-luap dan pipi demikian memerah. "Aku istri Abang tetapi Ika mendapatkan perhatian lebih. Kalau aku bisa mengalahkannya, mungkin saja Abang lebih perhatian ke aku!"
Napas Guntur tertahan, dengan rona merah menyebar dari pipi hingga ke telinga. Dia ingin membentak Rani dengan berkata jika dia tak memiliki perhatian semacam itu ke Ika, tak lebih dari semua tetangga dan pekerja yang ada di sekitarnya.
Rani mengepalkan kedua tangannya dan jika Guntur kembali memancingnya Rani yakin pertengkaran tidak akan terelakkan. Dan jika Guntur mengembalikan ucapannya ke status Rani yang hanya istri sementara, mampuslah dia. Atau Rani sebaiknya mengancam pergi dari rumah lagi? Kalau Guntur tak mempan terhadap ancamannya kali ini dan membiarkan Rani pergi, bagaimana??
KAMU SEDANG MEMBACA
Jejak Dusta
RomansaGuntur Pradana Ginting pernah menjadi korban salah tangkap. Dan itu disebabkan oleh anak dari kepala polisi di desanya yang mengaku telah diperkosa oleh Guntur. Guntur membenci wanita yang bernama Aulia Maharani itu. Sepuluh tahun berlalu ia ingin m...
