Guntur menarik alisnya, sudah berhari-hari Rani terlihat sangat sopan. Tidak meminta ini itu. Tidak memulai perdebatan seperti biasanya. Tetap melayaninya seperti biasa.
Tingkah Rani yang penurut dan menjawab dengan manggut-manggut seperti ini, persis seperti pembantu.
Apa Rani ingin bersikap sebagai pembantu selama dua tahun di sini??
Harusnya Guntur senang, sebab tak ada lagi wanita berisik yang mengganggu ketenangannya, akan tetapi jika hal itu dilakukan oleh Rani rasanya... sangat aneh. Dan justru membuat Guntur tidak nyaman. Ditambah lagi tidak ada ucapan basa-basi agar Guntur kembali tidur di kamar depan. Lalu bagaimana cara Guntur agar kembali tidur di sana? Sementara dia tidak suka basa-basi. Tapi mengatakannya secara terus terang sekarang, rasanya terlalu... aneh.
Seharusnya Guntur juga tenang, ketika santap makan malam dan berlalu dalam keheningan, tak ada Rani yang berisik. Akan tetapi, seperti sudah menjadi kebiasaan, dan ketika kini ditatapnya Rani yang makan dalam diam, seperti bukan Rani.
Guntur berdeham sesaat sebelum meraih gelasnya. Dan menandaskan isinya. Namun, Rani tetap bergeming. Bahkan ketika Guntur berdiri dan meletakkan piring kotor ke tempatnya, Rani langsung berdiri dan membereskan makan malam mereka.
Guntur masih berdiri di depan pintu penghubung, tapi lidahnya membelit dan tak tahu apa yang harus diucapkannya. Merasa kesal sendiri, Guntur langsung membalik badan dan menuju kursi.
Sial. Ada apa dengan diri Guntur, mengapa dia tak suka dengan sikap Rani yang seperti ini? Sementara Guntur memang tak berbakat memulai obrolan terkecuali ada hal penting untuk dikatakan. Lalu sejauh ini, otak Guntur buntu, tak ada hal yang benar-benar mendesak yang harus dikatakannya, dan hal itu membuat Guntur semakin kesal.
***
Rani memeluk guling, dan membolak balik tubuhnya, mencoba bermain ponsel atau membaca buku juga tak membantu.
Rasanya memang hidup terasa hambar jika tak mendominasi Guntur, apalagi pria itu tak akan pernah mengungkapkan isi hati atau memulai obrolan jika Rani tak memancingnya. Rumah terasa sunyi senyap. Tetapi, Rani harus menyabarkan diri, mungkin inilah yang diinginkan Guntur.
Pastinya, selama ini Guntur hanya menganggapnya beban.
Padahal dia merindukan belaian Guntur. Astagaa... baru memikirkannya saja, perut Rani langsung teraduk-aduk. Bagaimana jika dia tak tahan dan tetap mengganggu Guntur seperti biasa?
Tidak! Jangan Rani! Kasihan Guntur jika harus terus-menerus direcoki olehmu. Rani kembali cemberut, melakukan hal yang bertentangan dengan sifatnya ternyata sangat sulit.
Rani tersentak saat ponselnya bergetar.
Nama Mama muncul di layar. Hal yang selalu membuat Rani berdebar was-was karena dia harus menyiapkan kebohongan demi kebohongan. Akan tetapi kali ini, jantung Rani nyaris melompat dari sarang sebab, Mamanya melakukan panggilan video call.
Rani membiarkan panggilan itu berlalu dengan jantung berdegup serasa menghitung detik-detik bom meledak. Setelah panggilan itu berlalu, Rani masih menunggu dalam cemas siapa tahu ada panggilan berikutnya. Dan bersyukur Mamanya tak menelepon balik. Rani harus mengingat untuk mengabarkan Mamanya besok pagi kalau dia sudah tertidur, jadi tidak mengangkat panggilan telepon Mamanya.
Mungkin Mamanya memiliki firasat seorang ibu, jika putrinya tengah berbohong, meski nyaris dua hari sekali mereka tetap berkirim kabar melalui pesan Whatsapp.
Ponsel Rani kembali bergetar dan Rani nyaris terlompat dari duduknya, begitu melihat kontak 'Mas Arjuna' di sana, batin Rani langsung dipenuhi kelegaan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jejak Dusta
RomanceGuntur Pradana Ginting pernah menjadi korban salah tangkap. Dan itu disebabkan oleh anak dari kepala polisi di desanya yang mengaku telah diperkosa oleh Guntur. Guntur membenci wanita yang bernama Aulia Maharani itu. Sepuluh tahun berlalu ia ingin m...
