"Kunci pintu..." Rani masih mendengar perintah Guntur lamat-lamat.
"Ran..." tegur pria itu lagi.
"Hm? Abang kan pegang kunci. Kunci saja dari luar," gumam Rani dengan mata terus terpejam.
Sudah beberapa hari ini dia merasa tubuhnya lelah dan rasa ingin tidur terus. Atau jangan-jangan dia dehidrasi? Tapi Rani rajin minum air kok. Atau anemianya kambuh?
Tetapi Rani jadi kesal sekali, saat pikirannya ingin tubuhnya bergerak dan menyelesaikan pekerjaan rumah dengan cepat. Hanya saja, tubuhnya mengkhianati dan malah ingin berbaring lebih lama.
Guntur pasti sudah pergi. Rani sudah akan kembali terlelap, saat suara rengekan Melani lamat-lamat menusuk ke kupingnya.
Melani, sayang... jangan sekarang please... seru batin Rani. Tubuhnya sedang malas gerak.
Rani menelentangkan tubuhnya, mengambil ponsel dan membuka kamera, menatap wajahnya yang tak bersemangat. Sepertinya iya dia anemia.
Tangisan Melani mengudara, dan Rani segera menggulingkan tubuhnya hingga beranjak duduk dan memeriksa pampers Melani. Rani menggantinya terlebih dahulu, kemudian membuatkan susu. Sambil berbaring di sebelah Melani, Rani menyusui Melani, dan matanya tak tahan untuk kembali memejam. Ketika tersentak, Rani kembali membuka mata, memaksa dirinya duduk agar tak ketiduran dan menunggu hingga Melani selesai menyusu.
Lagi-lagi tak seperti biasanya, Rani yang selalu mengeluarkan keperluan Melani dan mencucinya di dapur lalu beres-beres rumah, kini wanita itu mencampakkan botol susu agak menjauh dan kembali tertidur di sebelah Melani. Rani berpikir untuk tidur sampai sekitar jam enam. Dan Melani yang tak tertidur tetapi cukup tenang itu membuat Rani terlelap lebih cepat.
Rani merasa dia baru lelap sebentar, dan suara rengekan Melani kembali mendengung di telinganya.
"Sayang... Mama masih ngantuk..." gerutu Rani dengan mata terpejam.
Namun, bukannya diam, rengekan Melani bertambah kencang, suaranya memenuhi seisi kamar.
Rani melenguh, dengan bibir cemberut, tetapi matanya seperti direkatkan oleh lem, begitu sukar dibuka.
Tetapi, ada seseorang yang menggoyang-goyang tangannya. Mana mungkin Melani yang masih bayi mampu melakukannya. Teringat akan pesan Guntur untuk mengunci pintu, lalu ucapan Guntur yang menyebutkan rumah itu pernah kemalingan, serta merta membuat kelopak mata Rani terbuka, dan melihat ada sosok yang menjulang di atasnya. Rani langsung memekik. "Ya Allah!"
"Bangun," gumam Guntur dengan wajah datar.
Napas Rani menderu dengan jantung berdegup kencang. Bagaimana bisa Guntur sudah tiba lagi di rumah? Atau pria itu tak jadi pergi ke pasar??
"Kok Abang pulang lagi?" tanya Rani heran.
Guntur mengerut heran atas pertanyaan Rani. Tanpa menjawab, Guntur mengitari sisi tempat tidur dan membuka jendela, sinar matahari langsung menerobos masuk.
Rani mengernyit, mengerjap-erjapkan matanya. "Astaga... Udah siang??" serunya kaget, kemudian meraih ponselnya yang sudah menunjukkan pukul delapan lewat di layarnya. Artinya Guntur sudah pulang dari tadi?? Kenapa dia tak membangunkan Rani?
"Ya, bahkan Bi Sri sudah selesai mencuci."
Rani gelagapan dan langsung turun dari kasur. "Kok nggak bangunin sih," gerutu Rani yang langsung melangkah ke pintu.
"Ini Melani nangis..."
Rani malah mengibaskan tangannya. "Abang urus dulu. Aku kebelet pipis."
Guntur menipiskan bibirnya dan mendekat ke Melani, mencium bau tidak sedap, Guntur langsung mengembuskan napas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jejak Dusta
RomanceGuntur Pradana Ginting pernah menjadi korban salah tangkap. Dan itu disebabkan oleh anak dari kepala polisi di desanya yang mengaku telah diperkosa oleh Guntur. Guntur membenci wanita yang bernama Aulia Maharani itu. Sepuluh tahun berlalu ia ingin m...
