Bab 28

4.3K 514 34
                                        

Selama beberapa hari terakhir Rani tak bisa menahan wajahnya yang semringah. Inikah yang dirasakan pengantin baru lainnya? Astaga... pipi Rani semakin bersemu, ketika mengharapkan pernikahan ini sungguhan.

Rani menidurkan Melani seperti biasanya, untuk kemudian ke kedai membeli air mineral. Sudah lama Rani tak masuk dari pintu samping kedai, dan sekarang, Rani masuk dari sana dengan dagu sedikit terangkat.

"Eh, astaga Kak Rani... ngagetin aja," seru Ika yang sedang duduk memainkan ponselnya, terkejut Rani yang mendadak muncul di sampingnya.

"Mau beli apa kak?" tanyanya kemudian terlalu ramah.

Rani tak menjawab, hanya mengambil lima botol air mineral yang satu per satu diletakkan di atas meja. Dia sudah lama tidak creambath, untung Rani membawa persediaan cream-nya sendiri.

"Berapa?" tanya Rani langsung.

Ika masih mengamati Rani, "Kakak masih marah sama aku soal yang waktu itu ya??"

Mata Rani langsung menajam dengan sorot menahan kesal. Astaga... sudah sekian lama Rani menjuteki wanita ini, dan Ika baru bertanya sekarang?? Awalnya Rani mengira Ika benar-benar muka badak, yang tak akan terpengaruh dengan berbagai situasi dan kondisi.

Rani berdeham keras sebagai balasan.

"Itu udah lama banget loh kak... tiga tahun yang lalu..."

Mata Rani semakin membeliak ketika Ika justru mempertegasnya. Padahal Rani sudah tak ingin mengingat-ingat pembahasan tentang itu.

"Setelah itu juga Bang Guntur pacaran kok... balik lagi ke mantannya."

Rani menoleh secepat kilat. "Balikan sama mantannya gimana?" Rani langsung buka suara dengan alis berkedut penasaran sekaligus was-was.

"Eh iya... memangnya Bang Guntur nggak pernah cerita." Rani memutar bola matanya saat dia kembali mendengar kalimat sialan itu dari mulut Ika. "Jadi awal aku ke sini tuh, Bang Guntur pacaran sama anak asisten perkebunan, cantik Kak... putih, manis, pokoknya terkenal kembang desa. Jadi ya sama Bang Guntur sama aku cuma... gitulah, aku sadar diri kok kak."

Dada Rani membusung menahan luapan berbagai emosi yang tiba-tiba saja berkumpul. "Intinya saja, jangan merembet ke mana-mana."

Ika lalu terkekeh seperti biasanya. "Iya... maksudnya dulu orang kampung ngira Bang Guntur bakal nikah sama Aisyah. Nggak tahunya mereka putus. Terus setelah ibu Bang Guntur meninggal mereka pacaran lagi. Orang ngira juga bakalan nikah. Eh... nggak tahunya Aisyah malah nikah sama orang lain."

Napas Rani tertahan sepersekian detik sebelum terembus kasar. "Lama?"

"Apanya?"

"Pacarannya??" sahut Rani galak.

"Oh... nggak sih, cuma beberapa bulan gitu, mereka putus nyambung."

Rani menyilangkan tangannya di depan perut, perasaannya mulai tak tenang. Sialan Ika, pembelaannya justru jadi boomerang buat Rani.

"Memangnya... darimana kamu tahu mereka pacaran?" Rani masih menolak cerita Ika, bagaimana pun mana mungkin pria cuek seperti Guntur berpacaran!

"Ih... Kak Rani, semua orang di sini pun tahulah... minimal dua minggu sekali mereka pasti jalan-jalan tuh naik motor Bang Guntur yang disarungin."

Mata Rani sontak berkilat, bahkan selama dia berada di sini, Rani tak pernah melihat Guntur mengendarai motor itu. Sial! Api di dada Rani semakin membara.

"Memang jalan-jalan ke mana sih kalau di sini??" tanya Rani tak terima.

"Ya banyaklah kak. Ke pantai, sungai, air terjun... banyaklah pokoknya."

Jejak DustaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang