Rengkuhan lengan Guntur semakin erat, seiring dengan ciuman mereka yang berkepanjangan. Tangan yang lain bahkan menarik paha Rani agar terduduk di pangkuannya.
Rani cantik, wangi, mulus, dan bibirnya yang ranum terasa sangat manis. Rani tak bercela, Guntur tahu itu, selain dengan kebohongan keji yang pernah wanita ini lakukan kepadanya. Akan tetapi hal itu tak mampu menutupi gairah Guntur yang semakin berkabut.
Guntur melepaskan ciumannya, dan Rani yang belum sepenuhnya pulih terkejut saat pria itu mengangkat tubuhnya naik ke atas ranjang.
Kini dengan pandangan terang seutuhnya, Rani menatap tubuh kokoh Guntur yang hanya berjarak sekian senti dari tubuhnya. Jemari wanita itu bermain di tengkuk Guntur merambat ke atas mengelus rambut dalam gerakan lembut.
Membuat Guntur merutuk keras dalam dirinya, sebab dia sangat menginginkan Rani detik ini. Ditambah bibir Rani yang bengkak dan merah, dengan mata mengunci Guntur dalam tatapan lembut. Membentuk sebuah jaring tak kasat mata yang membuat Guntur tak bisa pergi ke manapun selain menikmati kebersamaan ini.
Guntur menyingkirkan sejauh mungkin keragu-raguan dalam dirinya, meski Guntur tahu akan ada banyak masalah yang dihadapi nantinya ketika malam ini tercipta indah. Akan tetapi dia tak peduli. Dia kembali menunduk dan mencium bibir wanita yang berstatus istrinya tersebut.
***
Napas Guntur masih memburu dengan kepala menghimpit di sela leher Rani. Jemari Rani masih bersarang erat di rambut Guntur seiring dengan napasnya yang juga menderu menderu, tubuhnya yang berkeringat, dan jantungnya yang berdetak tak keruan.
Sulit digambarkan, ketika Guntur bergerak di atas tubuhnya, seolah-olah ada kembang api yang meledak di dadanya. Tidak ada rasa sakit seperti yang dulu dia rasakan, hanya ada rasa ingin terpenuhi lagi dan lagi hingga tubuh Rani bergetar dalam klimaks.
Rani masih memeluk leher Guntur. Rasa posesif dari lubuk hati terdalamnya bangkit, dia tak ingin membagi Guntur dengan wanita mana pun. Bisakah dia terus bersama Guntur selamanya? Sekali pun Guntur hanya menganggap ini seks belaka. Namun, bagi Rani, ini adalah percintaan yang indah. Guntur bahkan menghadiahinya tatapan lembut seperti tatapan Guntur saat pertama kali mengajaknya untuk mengantar pulang.
Napas Rani kian reda, dan ingatan akan itu membuat sudut mata Rani berair. Andai dia tak mengatakan kebohongan di hadapan keluarganya, dia pasti masih mendapati Guntur dengan tatapan sungkan, namun sekaligus tak akan pernah ada obrolan yang tercipta di antara mereka. Lalu apa Rani harus mensyukuri itu sekarang? Sangat picikkah ia?
Rani menggerakkan kepalanya seiring dengan Guntur yang mengangkat wajahnya. Pria itu mengunci manik mata Rani dengan tatapan penuh arti.
Guntur memandang Rani antara pahit dan bahagia. Meski sulit mengakui rasa bahagia itu lebih dominan. Guntur berharap semua ini mimpi bahwa dia tidak mengkhianati ibunya, namun sekaligus sangat sadar jika semua ini adalah nyata. Akan tetapi, Guntur tetap ingin menyimpan dalam memori terdalamnya rasa bibir Rani, wajah Rani yang nyata cantiknya dengan rambut berantakan dan terasa lembut dalam pelukannya.
Rani terkejut dengan mata membeliak saat Guntur mengecup dahinya. Guntur akui gerakan itu spontan saja, seperti ada efek magis saat Guntur melakukannya. Namun, efek itu menjadi sangat berlebihan pada Rani yang tersenyum sangat manis.
Guntur semakin sadar akan situasi mereka, dan dengan kikuk bergerak menjauh.
Rani langsung tersentak.
Mata Rani langsung berkilat. "Jangan berani-berani keluar, ya, aku bukan pelacur Abang."
Guntur langsung menoleh dahi berkerut, lalu bergumam. "Aku mau pakai baju."
KAMU SEDANG MEMBACA
Jejak Dusta
RomansaGuntur Pradana Ginting pernah menjadi korban salah tangkap. Dan itu disebabkan oleh anak dari kepala polisi di desanya yang mengaku telah diperkosa oleh Guntur. Guntur membenci wanita yang bernama Aulia Maharani itu. Sepuluh tahun berlalu ia ingin m...
