Sudah sejak pagi Guntur kedapatan berdiam diri dan memikirkan sesuatu.
Guntur kembali melihat kalendar dan sangat mengingat hari itu, besok adalah peringatan tiga tahun kematian ibunya.
Wajah Guntur kian dingin ketika membersihkan tangannya, membereskan pekerjaannya di kedai dan menuju ke dalam rumah. Pria itu langsung ke kamar belakang untuk mengambil baju ganti, namun tak seperti biasanya Guntur yang cepat dan bergegas, kali ini Guntur malah berdiam dengan beban pikiran yang sulit diurai.
Ada banyak pemikiran serta fakta yang masuk tumpang tindih di kepalanya. Andai saja Rani wanita menjengkelkan, pengeluh, serta pemarah, maka Guntur pasti tak akan segan-segan menyiksa wanita itu. Dia yakin bisa menjadi lebih buas dari seekor singa jika berhadapan dengan wanita manja tak tahu diri.
Hanya saja, kenyataannya tidak seperti itu. Rani adalah wanita keras kepala, yang bahkan kekeraskepalaannya itu membuatnya bertahan di sini, berusaha membaur, tidak mengeluh, tangguh sekaligus penurut.
Tetapi di sisi lain, penderitaan itu masih terasa membayangi Guntur dan pasti juga ibunya. Apa jika ibunya masih hidup, ibunya akan menerima kehadiran Rani di sini? Rasanya tidak mungkin. Hanya di tempat baru ini Guntur bisa diterima tanpa embel-embel masa lalu, begitu pun dengan keluarganya, Rani tak akan bisa memahami itu. Sakit yang diterimanya dan keluarganya menyayat hingga ke tulang.
Akan tetapi, Guntur tak bisa membenci atau berbuat jahat kepada Rani ketika menatap wanita itu saat ini, meski Guntur sangat membenci fitnah keji Rani padanya dulu. Sekaligus, membuat Guntur perih karena merasa telah mengkhianati ibunya, apalagi Guntur telah menikmati malam-malam bersama Rani.
Ataukah, sudah saatnya, Guntur melepaskan dendamnya, melepaskan kebenciannya, melepaskan Rani pergi dari sini.
Guntur melangkah keluar memaksa otaknya untuk tidak berpikir apa pun, meski tetap tak bisa. Guntur langsung mandi, dan berharap ada yang sedikit menyegarkan pikirannya.
Tetapi ketika dia keluar dari kamar mandi, dia justru bertemu kembali dengan Rani.
"Bang, bekalnya..." ucap Rani dengan nada seperti biasa.
***
Rani berulang kali memperhatikan Guntur. Suaminya itu diam sekali hari ini. Rani terus makan seraya berpikir, apa Guntur sedang ada masalah? Apa ada yang kembali berulah di tanahnya? Rani mengunyah dengan lambat, tak tahu bagaimana cara agar Guntur membuka mulut dan bicara padanya. Hanya saja, mencari gara-gara di saat seperti ini rasanya kurang tepat.
Makan malam selesai, Rani masih setia mengamati pergerakan Guntur. Pria itu hendak menutup kedai, awalnya Rani beranggapan seperti itu, tetapi Guntur malah tidak muncul-muncul juga.
Tangisan Melani mengalihkan perhatian Rani. Rani dengan terpaksa mengurus bayinya lebih dulu.
Dan ketika dia keluar kamar, Guntur sudah duduk di kursi seperti biasa.
Rani langsung mendekat, dan ikut duduk di sana.
"Besok ada pengajian di rumah. Kamu jaga Melani di tempat Bi Sri."
"Pengajian apa?"
"Tiga tahun meninggalnya ibuku."
"Kenapa harus mengungsi ke rumah Bi Sri, aku bisa di sini—"
"Banyak orang masak di rumah, nanti Melani terganggu."
"Sepertinya tidak akan begitu. Kalau Melani tidur aku bisa bantu-bantu. Kan, nggak enak sama tetangga kalau aku justru tidak ada di rumah—"
"Jangan keras kepala, ikuti saja kata-kataku."
Teguran itu membuat bahu Rani menegang. Tentu saja, sudah jelas sedang ada yang dipikirkan Guntur. Dan hal itu sepertinya tak boleh diketahui Rani. Apa ini ada hubungannya dengan ibunya Guntur?
KAMU SEDANG MEMBACA
Jejak Dusta
RomanceGuntur Pradana Ginting pernah menjadi korban salah tangkap. Dan itu disebabkan oleh anak dari kepala polisi di desanya yang mengaku telah diperkosa oleh Guntur. Guntur membenci wanita yang bernama Aulia Maharani itu. Sepuluh tahun berlalu ia ingin m...
