Sial. Karena celetukan Ika, Rani jadi tidak tenang. Sudah berhari-hari, Rani jadi semakin tegang karena dia tak kunjung datang bulan.
Tetapi pengaruh KB, bisa tidak datang bulan kan? Lagipula Rani juga biasa datang bulan dua bulan sekali. Hanya saja tiap memikirkannya Rani jadi berkeringat dingin.
Guntur tetap tidur di kamar seperti biasa, akan tetapi mereka tidak berhubungan intim, Rani yang sedang banyak pikiran malah lebih sering ketiduran lebih awal.
Dan malam ini Rani kembali kepikiran, semakin hari terlewati dia semakin gugup. Dia tidak bisa hamil dalam keadaan seperti ini. Dia bahkan belum menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepada Mamanya kepada keluarga besarnya. Rani tak mau keluarganya malah menyudutkan Guntur. Tidak boleh. Dia pasti tidak hamil.
Dan hari ini Rani merasakan tubuhnya lelah luar biasa, padahal tidak ada pekerjaan berat yang dia lakukan.
Rani membalikkan badannya mendengar suara decitan pintu. Senyumnya terkulum malu-malu. Salah satu hal lain yang membahagiakan harinya adalah, Guntur tak lupa masuk ke kamar, sekalipun mereka tidak bercinta. Dan Rani pun kini tidak perlu lagi mencari-cari alasan untuk memeluk pria itu sebelum tidur.
Rani menarik bantal guling dan bersandar ke headboard, mungkin malam ini mereka bisa berbincang sebentar sebelum tidur.
Guntur sudah melangkah mendekat, dan ketika pria itu menyibak kelambu, ponsel Rani bergetar. Rani sama tersentaknya, dan mendadak kaku ketika melihat nama kontak yang tertera di layar ponselnya.
Alis Guntur terangkat melihat gelagat Rani yang menarik ponselnya perlahan, menyembunyikan ke bawah tubuhnya.
"Kenapa tidak diangkat?" tanya Guntur dengan wajah datar.
"Um..."
"Dari Mas-mu itu?" sela Guntur dengan rahang berkedut.
Bola mata Rani berpendar liar. Jangan berbohong. Jangan berbohong, seru batinnya, Guntur pasti tidak suka jika Rani kembali berbohong.
"Mama," cicit Rani.
Rani menyadari wajah Guntur berubah kaku. Dan kejujurannya selalu memiliki dampak buruk.
"Angkat saja," gumam Guntur, tubuhnya kembali mundur dan kelambu kembali menjadi penghalang seperti kabut yang membatasi dua dunia.
Rani bergerak, ingin menyergah Guntur yang kembali keluar, akan tetapi ponselnya kembali bergetar.
Dengan napas tertahan, Rani mengangkat panggilan tersebut.
"Ha-halo, ya Ma?"
"Kamu belum balik juga ke Jakarta, Ran?" tanya Mamanya dengan nada panik.
"Udah... kok Ma."
"Terus kenapa video call Mama nggak pernah kamu angkat?"
Rani memijat-mijat pelipisnya. Pusing memikirkan alasan apalagi. "Iya Ma. Soalnya Rani lagi capek-capeknya, banyak banget kerjaan. Perusahaan lagi sosialisasi sistem baru. Jadi sampai apartemen langsung tidur."
"Hari libur pun kamu tidur seharian??"
Rani menggigit kuat bibir bawahnya. Lalu pura-pura terkekeh. "Iyalah Ma... Mana nggak sempat olahraga lagi."
"Minggu ini Mama nggak bisa ke Jakarta. Bulan depan kayaknya. Kamu ini kalau nggak dikontrol suka kebablasan."
Tubuh Rani langsung tegang. "Bu-bulan depan Ma? Duh... kayaknya jangan deh Ma." Rani menggigiti kukunya. "I-iya soalnya dua bulan lagi Rani cuti mau balik ke Medan." Setelah ini dia harus meyakinkan Guntur agar membiarkannya pulang sebentar untuk membuat Mamanya tenang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jejak Dusta
RomansaGuntur Pradana Ginting pernah menjadi korban salah tangkap. Dan itu disebabkan oleh anak dari kepala polisi di desanya yang mengaku telah diperkosa oleh Guntur. Guntur membenci wanita yang bernama Aulia Maharani itu. Sepuluh tahun berlalu ia ingin m...
