34. Happy Wedding, Happy Ending

27 4 0
                                        

Langit masih gelap, setelah salat subuh tadi, mbak MUA yang menjadi andalan Dita sudah siap dengan alat tempurnya untuk menghias wajahku yang tidak seberapa cetar ini. Sepanjang proses menghias wajah, Dita tak sedetikpun meninggalkanku, dia selalu ada di sebelahku. Menyemangatiku dan memberikanku sedikit nasihat meskipun ia sendiri belum menikah. Sementara Sassy yang menjadi seksi sibuk masih belum terlihat wajahnya. Karena semalam ia bilang, ia akan memanggil MUA ke rumahnya.

"Nay, gugup banget ya rasanya?" tanya Dita yang mesem-mesem sendiri. Mungkin ia melihat dari raut wajahku yang tegang sejak semalam.

"Banget, Dit. Gue takut banget kalau nggak
Bisa jadi istri yang baik buat Ares," jawabku pelan.

"Lo itu baik banget, Nay. Lo aja nggak sadar dengan value diri lo. Buktinya dari sekian banyak perempuan yang dekat dengan Ares, ia justru nikahnya sama lo." Dita tersenyum sambil mengusap tanganku pelan.

"Gitu ya, Dit." Aku berujar lemah.

"Ares itu sejak dulu suka sama lo, Nay. Makanya gue mundur waktu itu. Meskipun kemaren sempat ada insiden yang nggak ngenakin hati lo, gue yakin Ares benar-benar sayang dan cinta sama lo, Nay," lanjut Dita lagi.

"Makasih, ya. Dit. Lo selalu ada buat gue yang gampang bingung ini."

"Udah, sekarang lo harus banyak-banyak senyum dan bahagia." Dita berdiri mengambil segelas air untuk kuminum.

"Done!" Mbak Dian, mengakhiri hiasannya dengan menyemprotkan setting spray ke wajahku. Setelah itu ia memberiku kaca, dan
Benar saja aku tampak berbeda di sana, sempurna banget hiasan mbak Dian ini. Pori-pori wajahku tertutup sempurna.

"Masyaa Allah, Nay. Cantik banget, gue yakin Ares bakal ternaya-naya ini mah," komentar Dita melihat hasil akhir dari wajahku.

Jam sudah menunjukkan pulul tujuh tiga puluh.

Aku sudah siap dengan segala macam riasan. Semalam sudah diberitahu sama RT dan petugas KUA yang datang, katanya sampai ijab kabul selesai aku tidak Boleh keluar kamar, jadi yang berhadapan dengan penghulu hanya Ares, Om Dedi dan dua saksi yaitu om Rayhan dan Pandu.

Sebelum acara dimulai, aku ditemani Dita di kamar dan juga Mama sudah hadir di sini bersama kami. Aku melihat mama sangat cantik dengan riasannya. Aku memeluk mama erat sambil menahan air mata yang mulai menggenang di ujung mata.

"Ma, terima kasih ya udah besarin Aku, udah jagain aku udah menjadi malaikat di duni ini untuk aku."

Mama menggeleng dielusnya pelan punggunggu, ia tersenyum sama sepertiku menahan tangis haru bahagia.

"Nay, kalau Ares macam-macam sama kamu, kamu cerita ke mama ya, biar mama yang menghadapinya, semoga malaikat-malaikat yang turun hari ini mengaminkan semua doa baik kita, kamu bahagia selalu sampai ke surganya kelak bersama Ares, ya."

Hanya itu yang mama ucapkan dengan lembut tapi penuh peringatan. Aku hanya membalas dengan anggukan.

Setelah terdengar suara "Sah" Dari luar kamar, aku mengucap alhamdulillah, lalu memeluk mama dengan erat sekali lagi.

Tante Desi tiba-tiba muncul dari balik pintu ke arahku ia memelukku erat bergantian memeluk mama. Tak bisa ku tepis air mata yang jatuh sekarang, tante Desi berbisi pelan, "Sayang, akhirnya kamu jadi anak mama." Aku masih agak asing dengan panggilan Mama.

"Tan, eh Ma, tolong bantu aku menjadi istri yang baik." Hanya itu yang keluar dari mulutku.

"Yaudah, ayok kita keluar kamu mau tandatangan sama ada talqin nikah dari Penghulu," ucap Mama Ares.

Dita langsung menggandeng tanganku untuk mengantar ke ruang tengah tempat  ijab kabul. Aku mengenakan kebaya putih dengan payet-payet khas akad dengan hijab berwarna senada, sementara itu pandanganku langsung tertuju kepada Ares yang juga melihat ke arahku, kami temu pandang, sesaat dunia terasa berhanti, lelaki yang aku kagumi aku sayangi sedari kecil itu sekarang sudah resmi menjadi suamiku. Ia tampak sangat gagah dan tampan hari ini, entahlah mungkin karena mengenakan pakaian pernikahan.

Miracle In 29thCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang