Putus

1.7K 67 2
                                        

Akhir-akhir ini, aku dan Dilla sangat sibuk untuk daftar ke SMA. Membuat komunikasiku dengan Dilla jadi berkurang. Awalnya, aku dan Dilla daftar ke SMA negeri yang sama
Tapi nasib kita sama, nilai ujian nasional tidak mencukupi untuk bisa masuk ke SMA itu. Tadinya, aku akan dipindahkan Ayahku ke Jakarta untuk melanjutkan sekolah disana. Tapi aku menolaknya, karena aku tak mau jauh dari Dilla, aku akan kehilangan semangatku untuk sekolah jika tak ada Dilla. Akhirnya aku daftar ke sekolah swasta yang cukup dekat dengan rumahku, sedangkan Dilla daftar ke sekolah yang tak sama denganku.
Suatu hari, aku sangat merindukan Dilla, karena komunikasiku dengannya sangat berkurang, membuatku jadi bawel dan banyak bertanya pada Dilla. Beberapa kali aku menelpon Dilla, tapi Dilla tak menjawab. Aku SMS Dilla, tapi dia tak sering membalas, sekalinya Dilla membalas, pesannya sangatlah singkat.
Aku mulai kesal, aku mulai berpikir negatif tentang Dilla. Aku mengirim SMS lagi pada Dilla.
"Kamu dimana sih? Sekarang susah banget bales SMS" Kataku.
Dilla membalas pesanku cukup lama.
"Aku baru pulang dari Sekolah, capek."
"Perasaan, aku nggak sesibuk kamu. Aku juga kan sama daftar ke Sekolah."
"Kamu kenapa sih?" Tanya Dilla. Sepertinya Dilla kesal.
"Harusnya aku yang tanya."
"Gini deh, sekarang kita temenan lagi aja ya kaya dulu. Aku lagi males pacaran, aku lagi pusing, aku nggak mau sampai nyakitin kamu."
Aku kaget membaca balasan SMS Dilla. Aku tak mengerti mengapa Dilla berbicara seperti itu. Aku merasa tak berbuat salah pada Dilla. Tapi dia seperti menginginkan hubunganku dengannya berakhir.
"Maksud kamu apa? Kamu mau kita putus?" Kubalas pesan Dilla.
"Maaf banget Van." Kata Dilla.
Dilla tak memanggilku seperti biasa, Dilla memanggilku dengan nama.
Aku merasa sangat sakit hati, di saat aku benar-benar menyayangi Dilla, semudah itu dia sia-siakan aku. Aku merasa tak berbuat salah, dan sebenarnya kemarin hubunganku dengan Dilla baik-baik saja, tak ada masalah sedikitpun.
"Ya udah, kalau menurut kamu itu yang terbaik, silakan."
"Makasih Van kamu bisa ngerti, kamu baik."
Aku lemas sekali saat itu, aku merasa kehilangan diriku sendiri. Aku mencoba mengerti apa yang Dilla mau, tapi disisi lain, aku merasa sakit hati, sangat sakit hati. Aku berontak di kamarku, kubanting segala yang ada. Aku kesal mengapa Dilla sejahat itu, sia-siakan aku yang saat itu sangat sayang padanya. Dilla memutuskan untuk tak lagi berpacaran denganku. Bagiku, alasan yang Dilla berikan sangat tak masuk akal. Aku berpikir ada alasan lain mengapa Dilla memutuskan aku. Karena sangat tak mungkin jika alasannya karena capek, tidak diterima di sekolah negeri, ataupun malas berpacaran. Jika Dilla malas bepacaran, kenapa dia tidak menolakku saja waktu itu? Kenapa harus sekarang? Disaat aku semakin menyayanginya.
Esok harinya, aku terbangun dalam keadaan yang sangat tak baik, tak ada sedikitpun semangat untuk membuka mataku hari itu. Tak ada lagi kalimat sambutan pagi dari Dilla, tak ada yang membangunkanku lagi lewat SMS atau telpon. Sumpah, aku rindu kalimat kecil penyambut pagiku itu. Aku terus memikirkan Dilla, berharap Dilla menarik ucapannya. Aku tak berani memohon pada Dilla untuk tidak pergi, aku tak mau mengorbankan keutuhan harga diriku, meskipun aku sangat menyayanginya.
Saat itu, aku diserang rasa kesal, emosi yang tinggi. Aku tak tahu haru berbuat apa untuk mencurahkan rasa sakit hatiku. Saat itu aku menulis sebuah kalimat di akun facebookku.
"Semoga hari-harimu dipenuhi karma."
Aku sendiri merasa aneh mengapa aku bisa menulis kalimat itu, aku tak pernah mau mengharapkankan hal seperti itu. Hanya saja, emosi dan rasa sakit hatiku mengalahkan rasa sayangku untuk Dilla saat itu.
Tak lama, Dilla mengomentari status yang tadi kutulis, hingga terjadilah adu mulut antara aku dan Dilla.
"Maksud kamu bikin status kaya gitu apa? Kamu dendam sama aku hah?!" Tanya Dilla.
"Menurut kamu?" Kutanya balik.
"Aku juga tahu status itu buat aku kan? Kamu kenapa sih? Di depan aku kamu sok baik, tapi kenyataannya kamu dendam sama aku kan?!"
"Pikir deh sama kamu gimana rasanya kaya gini. Aku udah coba jadi yang terbaik buat kamu, tapi ujungnya kaya gini. Harusnya aku yang tanya, kamu kenapa?"
"Aku kan udah bilang, aku pengen bebas dan nggak pacaran dulu. Aku juga nggak mau kamu sakit hati kalau kita terus pacaran. Aku kira kamu ngerti, ternyata nggak."
"Aku yakin ada alasan lain, iya kan?"
"Alasan lain apa sih? Nggak ada alasan lain selain itu. Anak-anak juga tahu kalau aku lagi males pacaran dan pengen bebas. Sekarang, terserah kamu mau percaya atau nggak. Yang penting aku udah jujur."
"Nggak nyangka akhirnya kaya gini."
"Kamu cari masalah aja sih."
"Yang bikin masalah pertama siapa?"
"Siapa aja deh yang ngerasa."
"Aku nggak ngerasa nyari masalah, aku bikin status gitu sesuai apa yang aku rasain. Ngapain kamu larang aku bikin status kaya gitu? Nggak ada hak buat saling ngatur kan sekarang?"
"Siapa juga yang larang kamu bikin status kaya gitu? Nggak ada kan? Emangnya nggak boleh kalau aku komen? Kamu juga nggak punya hak buat ngelarang aku komen status."
Aku tak membalas lagi. Sebenarnya pada saat itu banyak teman-temanku yang ikut berkomentar, tapi aku dan Dilla tak menghiraukan mereka. Saat itu, aku sudah tak mampu lagi mengendalikan emosiku. Aku tak peduli jika orang menilai bahwa aku kasar pada wanita meski hanya lewat kata. Aku memang sangat menyayangi Dilla dan aku sama sekali tak berniat membuat status seperti itu, tapi aku sangat sakit hati atas apa yang Dilla lakukan padaku. Aku sangat tak menyangka akan berakhir seperti ini, tanpa alasan yang jelas. Aku dan Dilla yang dulu saling sayang, tiba-tiba berubah menjadi seperti ini, saling serang lewat kata-kata. Aku bersumpah, aku sangat tak ingin seperti ini, karena aku sangat menyayangi Dilla.
Sejak itu, detik menit terasa sangat berat untuk kulalui. Ini pertama kalinya aku patah hati, dan aku tak tahu bagaimana caranya mengobati luka yang tak terlihat ini. Aku tak pernah berharap Dilla pergi, aku selalu berusaha agar Dilla selalu nyaman di sampingku.
Esok harinya, aku mulai berpikir bahwa yang kulakukan kemarin sangatlah salah. Aku sayang Dilla, dan tak seharusnya aku menulis status seperti itu. Aku meminta maaf secara tertulis di akun facebookku.
"Maaf atas apa yang kuucap kemarin. Aku seperti ini karena aku menyayangimu, dan aku tak pernah mau kamu pergi seperti ini."
Aku juga mencantumkan inisial Dilla di statusku itu.
Kini, aku harus memulai lagi dari nol. Membangun kembali gairah hidupku, merangkai kembali kepingan hati yang hancur, melewati waktu tanpa Dilla. Dilla, yang sangat kusayangi. Hubunganku berakhir saat menginjak hari ke lima puluh lima. Aku mencoba untuk bisa berterimakasih atas hari-hari yang membahagiakan. Aku akan coba hidup sebaik mungkin, meski tanpa Dilla.
Aku sendiri lagi, melawan sepi setelah Dilla pergi. Dilla yang dulu pernah berjanji untuk tetap bersamaku. Ingin sekali bisa membencinya, tapi aku tak mampu. Yang bisa kulakukan sekarang, mencintanya dalam diam, dengan harap suatu saat dia akan kembali.
"Dilla, maaf jika aku tak bisa jadi yang kamu mau, hingga akhirnya kamu memilih pergi. Andai aku bisa memberi kenyamanan yang nyata, pasti kamu takkan pernah merasa malas untuk terus jadi pacarku. Aku memang membosankan, aku tak seasyik lelaki lain, tapi tentang rasa sayang, aku takkan pernah kalah."

KarmaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang