Chapter 2

101 6 2
                                        


🌸🍃 Hara 🍃🌸

Aku terbagun dari tidurku dipagi hari yang cerah, di hari pertamaku di dunia manusia. Banyak hal yang aku tidak mengerti di dunia yang terasa asing ini. Walau tidak terlalu jauh berbeda dengan tempat asalku sebelumnya.

Diruangan yang minimalis ini aku beristirahat. Sebuah kamar tidur sederhana dirumah milik seorang wanita tua bernama Fredella. Aku bertemu dengannya kemarin dalam kebingunganku harus pergi kemana.

Aku menyingkap selimutku memaksa diriku yang masih lelah untuk bangun dan beranjak dari tempat tidur. Udara sejuk memaksa masuk di dinginnya pagi lewat jendela kamar yang aku buka. Dari dalam kamarku terlihat jelas hamparan kebun kecil milik Fredella. Bunga-bunga cantik itu mekar dengan warna yang indah.

Ketukan pintu membuatku tersadar. Fredella membuka pintu sebelum memberi salam padaku. Aku menyahut memberi tanda bahwa ia boleh masuk. Pagi ini Fredella masih dengan baju hangatnya yang kebesaran membawakanku semangkuk sup panas.

"Selamat pagi putri cantik." Sapanya sambil berjalan masuk.

Aku tertegun. "Dari mana ia tau kalau aku adalah putri?" Aku bergumam. Tiba-tiba aku dilanda rasa panik yang hebat.

"Hmm.. Fredella. Kau sebut aku apa?" Tanyaku meyakinkan diri. Jika Fredella mengetahui bahwa aku bukan manusia pada umumnya ini akan menjadi tanda bahaya yang besar.

"Bukan apa-apa nak. Apa kau keberatan jika aku memanggilmu putri cantik? Kau tampak cantik dengan gaunmu itu. Seperti putri kerajaan di dongeng." Fredella tertawa.

Aku menghela nafas lega. Setidaknya kekhawatiranku tidak mendasar. Mungkin di dunia ini panggilan putri bukan suatu yang mencerminkan penguasa kerajaan. Aku melupakannya. Ini bukan kerajaan ini dunia manusia dimana aku pun mencari seorang manusia juga.

"Aku punya beberapa baju yang mungkin akan kau sukai." Fredella mengeluarkan sesuatu dari dalam kantung yang dibawanya. "Ini milik anak perempuanku dulu. Sepertinya ukurannya sama denganmu."

Aku mengulurkan tanganku meraih tumpukan baju pemberian Fredella. Beberapa baju yang aku pikir bentuknya agak aneh. Bukan seperti baju yang biasa aku kenakan. Dan ini terasa sedikit membuatku tidak nyaman. Tapi aku harus membiasakan diri jika tidak ingin identitasku diketahui orang lain.

"Terima kasih Fredella. Ini.. bagus sekali." Ucapku memberikan apresiasi untuk usaha Fredella.

"Cobalah.." Senyumnya merekah menanggapi pujianku. Kini tinggal diriku yang panik dengan barang-barang ini.

Sepeninggalan Fredella dari kamarku. Aku panik tidak tau bagaimana cara menggunakan baju seperti ini. Aku mengeluarkan satu persatu baju dari kantungnya. Ada yang hanya menutupi bagian atas tubuhku jika aku memakainya. Lalu ada baju seperti yang sering aku lihat digunakan oleh laki-laki untuk menutupi bagian bawah tubuh.

"Oh Tuhan.. baju apa ini? Apa di dunia ini baju laki-laki dan wanita sama saja?"

Aku semakin frustasi saat berusaha mengenakannya. Aku melihat pantulan di cermin kecil di dinding. Mataku terbelalak. Pantulan diriku yang terlihat sangat berbeda. Aku mencoba mengenakan baju bagian atas dan baju bagian bawah yang terpisah. Aku nampak seperti anak laki-laki.

"Mungkinkah di sini tampilan seperti ini terlihat wajar?" Aku masih tidak mengerti.

Cukup lama aku berusaha meyakinkan diri bahwa aku tidak terlihat memalukan. Dengan memantapkan hati aku melangkah keluar kamar membawa mangkuk kosong yang sudah aku habiskan isinya.

Diruangan yang agak redup aku melihat Fredella sedang duduk sendiri. Wanita tua itu tampak lelah sekali. Wajahnya yang sudah berkeriput berusaha terlihat segar saat memandang kearahku. Aku membalas senyumnya.

"Entahlah Fredella. Tapi aku merasa agak tidak percaya diri dengan baju ini." Ucapku sambil meletakkan mangkuk kosong dibagian belakang.

"Kau tampak cantik putri. Kau tetap terlihat seperti boneka barbie dengan pakaian itu."

"Terima kasih atas pujianmu."

"Biarkan saja piring-piring kotor itu. Biar aku yang membersihkannya." Fredella bangkit berdiri berniat mengambil alih piring-piring yang kotor.

Sejujurnya aku ingin membantu tapi aku tidak tau bagaimana cara membersihkannya. Selama di duniaku aku tak pernah mengerjakan pekerjaan seperti membersihkan piring kotor. Semua selalu tampak bersih dan rapih setiap kali aku membutuhkanya. Tapi ini bukan duniaku. Ini dunia yang asing bagiku.

"Bisakah kau mengajariku cara membersihkan benda-benda ini?"

Fredella tampak ragu menatapku. "Tanganmu terlalu halus untuk melakukan pekerjaan ini."

"Tidak apa-apa Fredella. Di dunia.. ah maksudku di keluargaku dulu aku tidak pernah diajarkan dan diperbolehkan untuk melakukan pekerjaan seperti ini. Aku ingin sekali mencobanya." Aku mengutuk diriku yang hampir saja salah bicara.

"Baiklah.. pantas saja kau tampak seperti putri. Pasti tak pernah bekerja keras ya?" Fredella tertawa kecil. "Kemarilah akan aku tunjukkan caranya."

Fredella memperagakan cara membasuh dan mencuci benda-benda kotor itu di hadapanku. Aku meperhatikan dengan saksama. Terlihat sangat menyenangkan saat tanganmu dipenuhi busa-busa. Setelah aku mencobanya dan bermain-main dengan busa ditanganku, rasanya hati ini jadi lebih tenang.

Fredella tertawa memperhatikan tingkahku yang seprti anak-anak. Tapi aku tidak perduli. Aku terus meniup busa-busa ditanganku hingga ia beterbangan di udara. Tingkahku membuat Fredella semakin keras tertawa.

"Kau lucu sekali putri cantik. Kau sungguh menyukai pekerjaan mencuci piring?" Fredella menyeka air matanya yang keluar akibat tertawa terus menerus.

Aku mengangguk. Aku juga tidak mengerti mengapa pekerjaan ini terasa sangat menyenangkan bagiku. Setelah selesai dengan busa-busa dan air yang cukup dingin aku menyandarkan tubuhku di kursi. Rasa lelah mulai menderaku selepas permainan busa tadi.

"Apa kau lelah?" Tanya Fredella.

"Ada apa?"

"Mau ikut denganku. Kita pergi ke pasar untuk membeli bahan makanan." Fredella mengambil kantung kosong untuk tempat menaruh barang belanjaannya. "Anak dan cucuku akan datang hari ini."

Anak dan cucu Fredella akan datang. Itu artinya rumah ini akan ramai dan akan semakin banyak pertanyaan yang mungkin saja bisa menjebakku. Aku berpikir keras untuk bisa mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Aku menatap Fredella dengan ekspresi bimbang.

"Apa aku tidak masalah jika tetap disini?" Aku mendapati perubahan ekspresi diwajah Fredella. "Ah.. maksudku tentang anak dan cucumu itu. Mereka apa tidak keberatan dengan kehadiran orang asing sepertiku?"

"Kau tak perlu khawatir. Mereka ramah dan baik hati. Kau adalah tamuku. Dan mereka tidak berhak merasa tidak suka padamu."

Aku terdiam. Fredella sangat baik padaku. Membuatku merasa tidak enak padanya. Jika nanti keluarganya memberikan komentar buruk tentangku pastinya akan menyakiti hati Fredella.

"Ayo nak.. kita tidak ingin mendapatkan sisa-sisa bahan makanan bukan?" Fredella menarik tanganku memaksaku untuk berdiri.

Finding Love ( New Year Eve-Part II)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang