🍁🍃 Aron 🍃🍁
Aku membeku sesaat sebelum pikiranku mulai tidak terkendali. Jelas saja, saat ini aku berada di dekatnya. Hara, gadis cantik yang lugu dan polos yang membuatku sulit berpikir setiap ia berada di sekitarku.
Aroma tubuhnya yang seperti jeruk membuatku ingin menciumnya setiap saat. Walau aku benci buah bernama jeruk itu sendiri. Matanya yang bening berwarna kebiruan begitu menyenangkan saat ia menatapku. Rambutnya kekuningan terasa lembut saat bersentuhan dengan jari-jariku.
"Aku tergila-gila padanya." Itu yang aku rasakan.
Tapi kini di taman bunga ini gadis itu menangis. Menceritakan tentang hati dan perasaannya pada laki-laki lain. Sekuatnya aku menahan diri untuk tetap tenang. Tapi nyatanya aku tidak bisa menahan diriku lebih lama lagi untuk tidak memeluknya membelaikan jariku di sela rambutnya yang halus. Dan yang lebih buruk dari itu, aku ingin sekali menciumnya.
"Hara.." Bisikku di telinganya. Ia menatapku dengan kedua mata birunya. "Aku menyukaimu. Sungguh."
Hara tidak memberikan respon apapun selain tetap menatapku dengan pandangan kosong. Seperti ada sesuatu yang ia ingat didalam pikirannya. Kutangkup wajahnya dengan kedua tanganku. Ada rasa yang begitu asing dalam diriku saat kami saling bersentuhan. Dan yang aku yakini adalah aku menginginkannya. Tubuh ini, hati dan pikiran ini sudah teracuni olehnya.
"Aron.. " Suaranya begitu merdu saat namaku disebut olehnya. "Lepaskan."
"Kenapa?" Aku tidak memperdulikannya. Walau saat ini kedua tangannya berusaha untuk melepaskan tanganku dari wajahnya.
"Jangan bodoh. Ini tempat umum dan.."
"Dan apa?" Aku menunggunya. Ada ekspresi keraguan dalam matanya. Aku tau ia ingin mengatakan sesuatu berusaha menahanku untuk tidak berbuat nekat dengan menciumnya di depan umum.
"Kau tidak berhak melakukan itu padaku."
"Melakukan apa? Bahkan aku tidak melakukan apapun selain menatap wajahmu yang memerah." Aku menyeringai.
Hara memutar bola matanya lalu menatapku tajam. "Hentikan Aron. Aku tidak ingin ada yang salah paham disini."
"Siapa yang akan salah paham? Laki-laki itu? Siapa pun dia, dia juga tidak berhak untuk merasa cemburu bukan?"
"Bukan tentang Alexi." Aku tersentak saat Hara menyebut namanya. "Ini tentang perasaanku. Tentang hubunganku denganmu. Dengan Elysia."
Aku menegakkan tubuhku. Melipat kedua tanganku didada. Tatapanku tertuju pada Hara yang dengan cepat menarik diri. Ia seakan memberi jarak yang sejak tadi sepertinya terlupakan olehnya.
"Ely? Apa hubungannya dengan Ely?" Aku menatapnya bingung.
"Entahlah. Aku pikir kau dan Elysia.. ahm, ya kau tau maksudku. Kalian terlihat dekat." Ada semburat merah diwajahnya yang membuatnya terlihat lucu seperti cerry.
Aku tidak dapat menahan diriku dari tertawa hingga terpingkal-pingkal. Aku merasakan kehangatan dalam hatiku saat mengetahui bahwa gadis itu memperdulikan hubungan diantara kami.
Tanpa ragu aku menariknya lagi mendekat padaku. Matanya terbelalak kaget tapi ia tidak berusaha menolak keinginanku. Ku lingkarkan tanganku di pinggangnya membuatnya berdiri hingga tubuhku dengannya saling berhadapan.
"Kau manis sekali Hara." Bisikku. Tatapan matanya melembut padaku. "Dengar. Entah kau mendapat pemikiran dari mana. Tapi sungguh aku tidak ada hubungan khusus dengan Ely selain teman masa kecil."
"Benarkah?" Aku mengangguk. "Kalau begitu kenapa Neal begitu marah saat kau berada didekat Elysia?"
Aku diam sesaat. Masih menikmati saat-saat seperti ini. Saat di mana aku dengan leluasa menatap Hara dari dekat. Mencium aroma jeruk di rambutnya. Menyentuh kulitnya yang lembut di kulitku.
"Dia itu pecemburu. Bahkan menurutku sangat pecemburu." Aku menggelengkan kepala saat mengingat bagaimana Neal menghajarku karena aku tertangkap basah olehnya saat memeluk Elysia saat ia sakit dulu.
"Aku tau dia sangat menyayangi Ely. Dan aku berterima kasih untuk itu." Aku tersenyum puas. "Jadi tidak ada yang perlu kau khawatirkan seandainya pun kau memiliki perasaan lebih padaku, cantik."
Hara mengangguk beberapa kali. Ia seperti sibuk mencerna ceritaku. Dan saat hari mulai gelap dan kesunyian mulai melingkupi kami, aku merasa bersyukur berada disini bersamanya. Setidaknya tanpa kami sadari, kami sudah menghabiskan sisa waktu sore ini berdua.
"Hara.. aku menyukaimu." Aku mengatakannya dengan lebih keras. Aku tau ia mendengarnya tapi ia tidak menjawab apapun. "Aku tau kau tidak suka padaku bahkan kau benci harus menghabiskan waktu bersamaku."
"Tidak Aron. Tidak seperti itu." Hara menggelengkan kepalanya hingga rambutnya berantakan. "Kau dan Fredella sudah sangat baik sekali padaku. Aku merasa begitu asing di sini. Tapi sejak bertemu denganmu dan Fredella, aku merasa seperti memiliki keluarga baru."
"Tentu saja Hara. Kau adalah bagian dari kami." Aku memeluknya lebih erat saat angin berhembus lebih kencang. "Tapi aku menginginkan lebih. Aku ingin kau."
Aku merasakan perubahan pada diri Hara dalam pelukanku. Tubuhnya seperti menegang dan wajahnya terlihat kaku. Ia mungkin kaget mendengar pernyataanku yang begitu terang-terangan. Tapi aku tidak ingin membuang kesempatan dengan terus menutupinya. Ia harus tau, gadis itu harus tau tentang perasaanku.
"Itu tidak mungkin.."
"Kenapa tidak? Karena kau tidak.."
"Bukan!" Hara memotong kara-kataku. Suaranya tinggi seperti sebuah jeritan. "Maafkan aku Aron. Bagaimanapun walau berat untuk mengatakannya. Tapi aku tidak ada perasaan lain padamu. Aku menganggapmu seperti kakakku. Aku tidak.. bisa."
"Kau tidak harus mengatakannya sekarang apakah kau merasakan hal yang sama atau tidak." Aku mendekatkan wajahku padanya hingga kepala kami saling bersentuhan. "Aku akan menunggumu, Hara."
KAMU SEDANG MEMBACA
Finding Love ( New Year Eve-Part II)
RomanceKeputusan yang berat bagiku untuk memilih satu diantara dua hal yang aku cintai. Tapi disetiap malam-malamku tak tenang saat bayang wajahnya tak juga hilang. Terutama tanda manis dibibirku saat terakhir bersamanya. Aku hanya ingin dia tau bahwa ia j...
