Chapter 31

20 0 0
                                        


🌸🍃 Hara 🍃🌸

Aku masih mengingat dengan sangat jelas setiap ditail perkataan Adlan. Laki-laki itu menemuiku saat malam dikamarku tanpa aku duga. Satu sisi aku bahagia nyatanya ia bisa dengan mudah datang ke dunia manusia dan kembali lagi. Tapi disisi lain ucapannya yang tegas tentang pilihanku membuatku merasa tidak nyaman.

"Kau tidak suka aku mengajakmu pergi?" Aku tersentak.

Seluruh pikiranku buyar dan aku kembali tersadar. Dihadapanku Aron menatapku dengan ekspresi yang cukup kesal. Entah sudah berapa kali ia memanggilku berusaha menarik perhatianku padanya.

Aku cepat-cepat mengembalikan perhatianku padanya. "Maafkan aku Aron." Aku memasang wajah sedih dihadapannya.

Aku mendengar Aron menghela nafas berat. Aku merasa tidak enak padanya karena sudah mengacuhkannya. Aku berusaha membuat semyuman yang semanis mungkin kearahnya.

"Entah apa yang aku pikirkan. Aku tiba-tiba merindukan keluargaku." Ucapanku langsung membuat Aron memusatkan perhatiannya padaku. Setidaknya aku berhasil meredakan kekesalannya.

"Bagaimana aku bisa membantumu untuk bertemu dengan mereka? Bahkan kau tidak ingat daerah tempat tinggalmu." Aron menyesap minumannya lalu beralih padaku lagi. "Kau seperti seseorang yang kehilangan ingatan, Hara." Lanjutnya.

"Entahlah Aron. Tapi itu kenyataannya." Aku mengambil satu potong pizza dan melumatnya dalam mulutku.

Hari ini Aron dan aku menghabiskan waktu siang dengan makan bersama. Aku juga tidak yakin apa alasanku menerima ajakannya. Yang aku tau bagiku ini hanya untuk mengistirahatkan pikiranku sejenak. Tapi nyatanya tetap saja seperti ini.

"Hara, aku lihat kau sekarang dekat sekali dengan Ely." Aku mengangguk. "Aku senang akhirnya kau punya teman baik."

Aku tersenyum tulus padanya. "Itu karena kau."

"Entahlah Hara. Ini pujian pertamamu untukku. Aku jadi merasa sedikit berbunga-bunga." Aron menyeringai.

Aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak tertawa melihat tingkahnya. Laki-laki itu terlihat lebih baik sekarang. Atau mungkin karena aku melihatnya sudah berbeda tidak lagi menutup diri seperti dulu.

"Sudah selesai makannya tuan putri?" Aron mengangkat sebelah alisnya menggodaku.

"Sudah pangeran katak." Jawabku diselingi candaan. "Ayo pulang." Aku bangkit berdiri hendak meninggalkan kursi dan meja makan.

"Buru-buru sekali kau." Aron menahan tanganku. Senyum manisnya menggodaku. "Ini bahkan masih siang. Bersantailah sejenak."

Aku mencibir. "Kau berniat menculikku dari rumah Fredella? Dia akan khawatir kalau aku tidak cepat pulang."

"Aku akan meneleponnya, cantik." Aron bangkit berdiri dan melangkah mengitari meja kehadapanku tanpa melepaskan genggaman tangannya di tanganku.

Aku memadang kearah kedua tangan kami yang saling bersentuhan. Setelahnya aku mengangkat wajahku menatapnya dengan ekspresi tanda tanya.

"Ayolah. Masih banyak tempat yang ingin aku tunjukkan padamu."

Aron membimbingku keluar dari tempat makan. Sambil berjalan beriringan menuju tempat parkir mobil yang tidak jauh dari pintu masuk. Beberapa kali aku melirik kearahnya tanpa laki-laki itu ketahui. Dan aku tersadar bahwa Aron belum juga melepaskan genggaman tangannya di pergelanganku.

Setelah sampai di dekat mobil miliknya. Aron dengan sangat lihai membukakan pintu untukku dan mempersilahkanku untuk naik. Aku mengagguk sebelum memasuki mobil silver miliknya.

Finding Love ( New Year Eve-Part II)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang