Chapter 19

41 1 0
                                        

🌸🍃 Hara 🍃🌸

Aku berjalan terseret saat langkahku mencapai bibir pintu rumah Fredella. Kejadian yang baru saja terjadi dihadapanku terus menerus berputar di kepala. Seperti mimpi buruk yang tidak ada hentinya terus berulang dipikiranku. Kata-kata itu terus berjejalan mengisi setiap sisi kosong pikiranku yang semakin membuatku gila.

Penyesalan yang menyakitkan ini menggerogoti perasaanku sedikit demi sedikit hingga membuat lubang besar yang mengerikan. Aku menghela nafas berat saat langkahku memasuki rumah Fredella.

Suasana didalam rumah wanita tua itu tampak sepi selama perjalananku menuju ruangan didalam rumah, aku belum juga menemukan Fredella. Tiba-tiba suara pintu yang terbuka menarik perhatianku. Dari arah kamar Fredella aku melihat Aron melangkah keluar. Aku membeku saat tatapannya tepat mengarah kepadaku.

"Hara.." Suaranya bergetar berbisik menyebut namaku. "Kau mengkhawatirkan Fredella."

Aku menatapnya dari jarak yang cukup jauh. Ia tampak tidak bersahabat dengan ekspresi wajah yang sulit aku mengerti. Tiba-tiba saja apa yang telah terjadi antara aku dan Aron berulang kembali dikepalaku. Apa yang telah ia lakukan dimobil pada malam itu yang membuatku lari dan meninggalkannya.

"Kemana kau? Aku khawatir saat tidak menemukanmu dimanapun. Kau benar-benar nekat pergi saat tengah malam sendirian. "

"Aku tidak takut!" Aku membentak. "Aku tidak takut apapun sekalipun itu sendiri ditengah malam. Daripada aku harus menghabiskan waktu semalaman denganmu."

Aron tersentak. Jelas ia kaget mendengar kata-kataku yang menantang. Aku tidak perduli apa yang ia pikirkan tentangku. Aku hanya ingin dia tau bahwa aku bukan wanita lemah yang dengan mudah dapat dipermainkan seperti boneka.

"Kau pemberani sekali. Itu membuatku lebih menyukaimu."

Aku memelototinya seperti aku hendak melemparnya dengan sepatu. Orang ini seperti sengaja memancing amarahku dan senang saat aku harus berurusan dengannya. Aku memalingkan wajah karena merasa muak pada laki-laki yang tak berhenti menatapku. Tatapannya seperti singa yang ingin menerkam rusa.

"Berhentilah bicara seperti itu atau aku akan.." aku baru saja ingin menyelesaikan kalimatku saat tiba-tiba Aron sudah berada dihadapanku menyentuh wajahku dan menahannya untuk menatapnya. "Lepaskan!" Teriakku tapi tidak digubrisnya.

"Cantik. Manis. Pemberani. Kau itu luar biasa, Hara. Jangan selalu jual mahal pada laki-laki. Nanti kau menyesal karena ia akan memilih yang lain dan meninggalkanmu."

"Itu bukan urusanmu! Lepaskan aku. Kau kurang ajar!" Aku menarik diriku menjauh dari Aron tapi tangannya yang kuat langsung mendekapku erat ditubuhnya.

"Suatu saat nanti kau akan datang padaku memohon dan memintaku untuk melakukan ini."

Senyumnya merekah menyeringai kearahku. Aku tidak melakukan apapun selain menatapnya dengan rasa jijik yang tidak dapat aku sembunyikan lagi. Aku benar-benar merasa muak pada laki-laki itu.

"Aku akan bersumpah tidak akan melakukannya." Aku menjerit hingga akupun kaget mendengar suaranya.

Aku mendorong tubuh Aron hingga memberi jarak diantara kami. Sambil membenarkan pakaianku yang berantakan aku berjalan meninggalkannya menuju kamar Fredella. Tanganku terulur meraih gagang pintu hingga memutar dan mendorongnya sampai terbuka.

"Jangan ganggu Fredella. Ia sakit karena khawatir memikirkanmu." Ucap Aron.

Aku berhenti sejenak. "Itu bukan salahku. Itu salahmu."

Setelahnya aku melangkah masuk tanpa menoleh lagi pada Aron. Mataku langsung tertuju pada seorang wanita tua yang tergeletak diatas tempat tidurnya. Kulitnya yang mulai keriput terlihat pucat. Berselimutkan kain tebal Fredella meringkuk sambil menggumamkan sesuatu.

Aku melangkah maju mendekati tempat tidur Fredella. Memposisikan diriku dipinggir tempat tidurnya menatapnya penuh rasa kasihan. Kusentuh kulit halusnya dengan ujung-ujung jariku yang terasa dingin.

"Maafkan aku." Bisikku pada Fredella.

Aku masih bergeming saat jari-jari milik Fredella mulai bergerak. Matanya yang sayu mulai terbuka kemudian menatapku. Ekspresinya sedikit terkejut mungkin tidak mempercayai matanya yang melihat keberadaanku disampingnya. Aku tersenyum namun tidak bisa menyembunyikan kesedihanku.

Fredella mengulurkan tangannya mencoba menyentuhku. "Kau baik-baik saja?" Suaranya terdengar parau hingga ia terbatuk beberapa kali.

Aku mengangguk. "Kau seharusnya tidak perlu mengkhawatirkanku sampai seperti ini."

"Kau sendirian diluar sana? Bagaimana aku tidak memikirkanmu?"

Aku menunduk kemudian memberikan satu ciuman di kening Fredella. Entah mengapa tapi perasaanku mengatakan wanita tua ini begitu menyayangiku walau ia baru mengenalku sesaat saja. Kebaikannya itulah yang juga membuatku menyayanginya.

"Berjanjilah kau tidak akan menyakiti dirimu dengan mengkhawatirkanku secara berlebihan. Aku berjanji untuk bisa menjaga diriku baik-baik."

"Nak," Fredella menatapku. "Ceritakan apa yang terjadi?"

Aku terdiam sesaat. Entah aku sebenarnya mengerti atau tidak dengan pertanyaan yang dilontarkan Fredella. Yang terjadi saat itu mungkinkah Fredella mengetahui kejadian malam iu saat aku bersama Aron. Mungkinkah Aron mengatakannya pada Fredella tentang apa yang ia coba lakukan terhadapku?

"Ahm.. Apa yang kau maksud Fredella?" Tiba-tiba aku merasa gugup.

"Aku ingin mendengarnya dari sudut pandangmu. Tentang cucuku, Aron. Benarkah ia berlaku tidak sopan padamu?" Ada rasa sedih yang terlihat jelas dari wajah dan suara Fredella. Dan aku juga yakin tentang alasannya.

"Tidak apa-apa Fredella. Itu hanya.. hanya kesalahpahaman saja. Sungguh."

"Aku tau sayang, Aron adalah anak laki-laki yang terlalu ekspresif. Kadang aku merasa ia terlalu berlebihan dalam mengekspresikan perasaannya. Termasuk saat ia mulai menyukaimu."

Aku bergeming. "Kau salah paham.."

"Tidak ada yang salah dari penilaian seorang nenek pada cucunya bukan?" Fredella tersenyum. "Aku mengenalnya sejak hari pertama hidupnya didunia ini. Aku tau apa yang ia sukai, apa yang ia tidak suka dan apa yang menjadi kebiasaannya. Anak itu seperti baru kemarin aku menggendongnya."

"Aku sempat lupa bahwa ia sudah tumbuh dewasa sekarang. Ia mulai mengerti gadis cantik sepertimu. Dan sayangnya cara yang ia gunakan terlalu berani kapada seorang gadis lugu sepertimu." Fredella menambahkan.

"Fredella. Aku tidak tau masalah itu tapi, aku sama sekali tidak memiliki perasaan apapun pada Aron. Maksudku, iya kami baru saja saling mengenal dan dia seperti.. seperti yang kau tau."

"Aku mengerti Hara. Aku hanya ingin kau tidak salah paham dengan sikapnya. Aku beritahu padamu sesuatu. Ia tidak pernah terlihat begitu menginginkan sesuatu seperti ia menginginkanmu."

Aku bergeming merasa membeku dan tak percaya. Apa yang dikatakan Fredella mungkin benar. Tapi kenyataan itu semakin membuatku merasa takut. Jika Aron memiliki perasaan sebesar itu padaku lalu apa yang terjadi dengan hubungannya bersama Elysia.

"Fredella, apa kau tidak pernah tau tentang gadis bernama Elysia? Aku pikir Aron menyukainya."

"Mereka hanya teman semasa kecil. Persahabatan yang tidak pernah berubah setauku." Fredella menggenggam tanganku. "Cobalah kenali dia lebih dalam Hara. Kau akan tau bagaimana dirinya sebenarnya."

Aku tidak menjawab. Kata-kata Fredella begitu sulit kucerna. Dan rasanya ada sesuatu yang wanita tua itu ingin sampaikan padaku tapi aku masih juga tidak mengerti. Atau mungkin berusaha menolak untuk mengerti.

"Apakah ia berniat menjodohkanku dengan Aron? Astaga! Ini buruk."

Finding Love ( New Year Eve-Part II)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang