🌸🍃 Hara 🍃🌸
Aku melangkah cepat meninggalkan tempat makanku bersama Eezar. Tanpa aku sadari Aron sudah berada dibelakangku menarik tanganku dan menahannya. Aku tersentak dan langsung berbalik menghadapnya.
"Apa maumu?" Tanyaku ketus.
Ada segaris senyum manis diwajahnya. Aku memalingkan wajahku darinya tidak berniat menatapnya yang terlihat begitu senang dan bahagia. Aku tau apa yang membuatnya begitu merasa bangga dan aku tidak menyukainya.
"Kenapa kau marah Hara? Aku hanya ingin menyapamu. Lagipula aku juga sudah mengenal Eezar. Dia teman laki-laki arogan itu kan? Yang keras kepala dan penuh emosi?"
Aku menatap Aron dengan rasa kesal yang berlipat ganda. "Bisakah kau tidak menggangguku sebentar saja? Kau itu seperti.. seperti bayanganku saja yang selalu hadir disampingku."
Aku mendengar Aron terkikik. "Dan aku menyukainya. Sangat. Kau tau, seandainya aku terikat denganmu dengan tali yang tersimpul mati pun aku akan sangat senang." Ia mendekat padaku menatapku lekat. "Selama itu bersamamu."
Aku memelototinya. "Aron. Aku sudah katakan aku tidak ada perasaan apapun padamu."
"Belum. Kau hanya belum merasakannya." Potongnya.
Aku sudah sangat lelah. Aku tidak tau lagi harus dengan cara apa aku mengatakan pada laki-laki itu untuk menjauh dariku. Mungkin Fredella benar, Aron begitu menyukaiku. Tapi bagaimana jika aku tidak memiliki perasaan yang sama? Dan nyatanya perasaanku masih seutuhnya untuk Alexi. Walaupun kenyataannya aku tidak akan mungkin bersamanya selamanya.
Aron menggenggam tanganku membuatku tersentak dan kembali tersadar. Aku menatapnya menunggunya mengatakan sesuatu seperti rayuan yang biasa ia utarakan. Tapi selama aku menunggu ia hanya mengatakan perkataan singkat.
"Ayo, pulanglah. Fredella sudah menunggumu."
Aku membeku sesaat. "Aku akan pulang sendiri."
"Ah, terserah kau saja." Aron melepaskan tangannya. Ia mengambil langkah mundur sesaat lalu kembali menghadapku. "Berhati-hatilah. Aku akan menelpon untuk memastikan kau sampai dengan selamat."
Aku tidak menjawab. Aku hanya memperhatikan laki-laki itu kembali berputar dan mengambil langkah menjauh. Ada rasa yang aneh dihatiku melihat sikap Aron yang tiba-tiba acuh. Seperti ada sesuatu yang hilang.
"Ada apa dengannya? Rasanya sama seperti di mobil waktu itu." Aku menggelengkan kepala berusaha mengusir pikiran aneh dalam otakku.
Apa perduliku padanya. Mungkin laki-laki itu memang memiliki dua kepribadian yang aneh. Kadang ia bisa begitu perduli dan disisi lain kadang ia bisa begitu cuek dan emosi.
Aku baru saja ingin meninggalkab tempat itu dan kembali pulang saat aku melihat Eezar baru keluar dari dalam rumah makan. Aku cepat-cepat menuju kearahnya.
"Eezar!" Teriakku memanggilnya.
Laki-laki itu menghentikan langkahnya. Ia menatapku dari kejauhan lalu melambaikan tangannya kearahku. Akibat datangnya Aron secara tiba-tiba percakapanku dengan Eezar terputus. Padahal banyak hal yang ingin aku tanyakan padanya tentang Alexi.
"Maaf atas gangguan tadi." Ucapku sesampainya dihadapan Eezar.
"Tidak apa-apa Hara." Eezar mengedarkan pandangannya seperti ia mencari sesuatu. "Kemana dia?"
"Dia sudah pergi. Aku ingin menanyaka sesuatu padamu. Tentang Christine." Aku menggigit bibirku karena gugup. "Kau mengenalnya?"
Eezar mengangguk tanpa kata-kata. Wajahnya berubah datar seperti ia sedang memikirkan sesuatu. Sesaat ia menatapku lalu kembali berpaling. Aku menunggu hingga ia mengatakan sesuatu tapi nyatanya dia tetap bungkam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Finding Love ( New Year Eve-Part II)
RomanceKeputusan yang berat bagiku untuk memilih satu diantara dua hal yang aku cintai. Tapi disetiap malam-malamku tak tenang saat bayang wajahnya tak juga hilang. Terutama tanda manis dibibirku saat terakhir bersamanya. Aku hanya ingin dia tau bahwa ia j...
