🍁🍃 Alexi 🍃🍁
Siang ini aku berniat menghabiskan waktu di tempat Joe. Sudah cukup lama aku tidak pergi kerumah makannya yang sederhana tapi berkesan. Biasanya hampir setiap minggu aku datang untuk sekedar duduk dan mengobrol bersama Joe. Tapi kesibukanku saat ini membuatku tidak ada waktu untuk bersenang senang sendiri.
Langkahku terhenti sesaat ketika mencapai anak tangga terakhir di depan rumah makan milik Joe. Merasa sedikit asing dengan tempat ini. Setelah beberapa lama menyesuaikan diri aku melangkah masuk.
Ruangan itu belum ramai hanya berisi beberapa orang yang sedang mengobrol. Aku menyapukan pandangan keseluruh sisi ruangan. Seperti biasa dibagian pojok ruangan aku sudah bisa melihat Joe duduk sendirian bersama buku bertuliskan angka-angka yang aku tidak mengerti.
Perlahan aku menghampirinya. "Apa aku mengganggumu?" Tanyaku membuat Joe mengangkat kepalanya.
"Hai nak. Sudah lama sekali kau tidak datang." Ucapnya penuh senyum. "Duduklah."
Aku menarik kursi dan menempatkannya didekat Joe. Ia tampak lebih sehat dan wajahnya juga segar. Aku senang mengetahui orang yang aku sayangi baik-baik saja. Senyumnya yang ramah dan teduh itu membangkitkan suasana hatiku yang sempat kalut.
"Bagaimana kabarmu? Dan dimana nyonya Luis? Aku merindukannya." Mataku berkeliling mencari wanita tua yang masih terlihat segar.
"Dia ada didapurnya. Jangan lupa bawakan aku beberapa cemilan sekembalimu dari sana." Joe tertawa setelah menelan kue terakhir yang ada di piring.
Aku mengangguk. "Ini alasan mengapa aku tidak perlu khawatir kau akan sakit."
Aku beranjak dari kursi menuju ruang dapur dimana biasanya nyonya Luis berada. Sesampainya diruang dapur nyonya Luis sedang berdiri membelakangiku sibuk dengan pekerjaannya. Disampingnya seorang gadis yang aku yakin adalah pelayan baru disini.
Hampir semua pelayan dirumah makan milik Joe ini aku mengenalnya. Hingga mereka pun berfikir aku adalah mandor mereka karena seringnya aku datang dan mengecek keadaan. Sedangkan gadis muda itu tidak pernah aku lihat sebelumnya walau ia sedang membelakangiku juga seperti Nyonya Luis.
Tiba-tiba Nyonya Luis menoleh karena merasakan kehadiran seseorang dibelakangnya. Wajahnya berseri tersenyum manis dan mataya yang teduh itu menatapku gembira. Ia meninggalkan pekerjaannya dan beralih padaku.
"Alexi sayang... Senang melihatmu lagi." Serunya sambil membentangkan tangan hendak memelukku.
Aku berjalan mendekat. "Senang melihatmu juga Nyonya Luis." Aku menyambut pelukan hangatnya. "Apa aku mengganggumu?"
"Sama sekali tidak nak. Bagaimana kabarmu?"
"Cukup sibuk hingga aku tidak dapat bertemu denganmu." Ucapku sambil tertawa. "Kau tampak sehat sama seperti Joe. Aku senang mengetahuinya."
"Terima kasih nak. Kau mau minum apa? Dingin atau hangat?" Nyonya Luis beranjak menuju meja untuk membuat minuman.
"Minuman dingin untuk otakku yang panas." Jawabku sambil menarik kursi untuk tempatku duduk.
"Bagaimana ibumu? Dia baik-baik saja?" Masih dengan kegiatannya membuat minuman nyonya Luis terus berbicara.
Aku menghela nafas. Sejujurnya aku tidak berniat membicarakan ibuku saat ini. Setelah cukup lama ia bersama kekasih barunya Artur perubahan padanya begitu banyak. Tapi sayangnya perubahan itu membuatku tidak menyukainya.
"Entahlah. Dia tampak bahagia dengan laki-laki itu." Suaraku terdengar seperti ejekan.
"Tapi kau terdengar tidak bahagia nak."
"Iya. Entahlah Nyonya Luis. Aku hanya tidak nyaman dengan hubungan mereka. Aku rasa Artur lebih cocok menjadi kakakku daripada ayahku."
Nyonya Luis berbalik berjalan kearahku membawa segelas jus untukku. "Semua yang ibumu lakukan pasti ada alasan yang tepat."
"Tapi ini tidak masuk akal. Mereka tidak cocok." Aku meneguk jus yang Nyonya Luis buatkan untukku. Terasa segar saat menuruni tenggorokanku yang kering.
"Setelah kau dewasa mungkin kau akan mengerti." Nyonya Luis mengambil posisi duduk menghadapku.
"Yah.. mungkin saja." Jawabku tidak tertarik. Pandaganku beralih pada seorang gadis yang sejak tadi berdiri membelakangiku. Seperti tidak bergerak ia tak melakukan perpindahan kemanapun. Hingga aku penasaran apa yang sedang ia lakukan.
"Sepertinya usahamu meningkat Nyonya Luis hingga mendapat tambahan pekerja lagi." Ucapku pada wanita itu.
"Oh.. terima kasih. Iya hanya beberapa. Perkenalkan itu anak angkat temanku. Hara kemarilah." Luis menoleh kearah gadis itu.
Aku mengamatinya dengan saksama. Gadis itu tampak tegang saat namanya disebut. Aku menunggunya berputar hingga menghadap kearahku. Aku tertegun saat gadis itu menatapku dari tempatnya berdiri. Tubuhnya yang ramping dibalut baju lengan pendek dan rok mini yang pas ditubuhnya. Rambutnya kekuningan dan matanya jernih menatapku.
"Hemm.." Gumamku tanpa sadar hingga membuat Nyonya Luis menepuk pundakku.
"Berkediplah dan jangan lupa untuk bernafas." Ledek Nyonya Luis yang mempergokiku sedang menatap gadis itu dengan sangat serius.
Aku menggelengkan kepala mencoba memusatkan perhatianku yang mulai melantur. Aku berdiri dan berjalan mendekatinya. Gadis itu tidak bergerak bahkan seperti tak bernafas ia diam seperti patung. Aku mencoba mengulurkan tangan mengajaknya berjabat tangan.
"Senang bertemu denganmu." Ucapku.
Ia menatapku dengan ekspresi yang aneh diwajahnya. Entah apa yang salah denganku atau cara bicaraku. Aku sontak memperhatikan penampilanku sendiri mungkin saja ada yang salah pada diriku. Namun sejauh itu aku tidak merasa melakukan kesalahan apapun.
"Aku.. aku juga senang bertemu denganmu. Alexi."
Suaranya terdengar lembut walau terbata-bata. Aku bingung dengan sikap gadis itu. Dia tampak canggung sekali dan ekspresinya membuatku tidak mengerti. Aku kembali menatapnya tapi ia mengelak hingga menunduk dan rambutnya yang tergerai jatuh menutupi sisi wajahnya.
"Aku akan memeriksa meja di depan." Ucapnya terdengar seperti bisikan. "Permisi."
Kemudian gadis itu berlalu dihadapanku dengan perasaan yang aneh. Sesaat walau hanya beberapa detik saja aku merasa pernah mengenalnya. Caranya berjalan mengingatkanku pada seseorang yang entah dimana aku pernah bertemu.
"Ada apa dengannya? Dia pemalu sekali." Komentarku saat gadis itu pergi.
"Dia orang baru di sini. Wajar saja jika dia masih menutup diri. Atau mungkin dia terlalu terpesona olehmu. Seperti wanita-wanita lain yang ada disini." Nyonya Luis tertawa hingga air matanya menetes.
"Kau senang sekali menggodaku Nyonya Luis."
Aku menatap lurus kearah pintu dapur. Gadis itu sudah menghilang dibalik pintu yang tertutup. Tapi entah mengapa aku masih terus mencoba untuk mengingat sesuatu yang sepertinya sempat terlupakan olehku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Finding Love ( New Year Eve-Part II)
RomanceKeputusan yang berat bagiku untuk memilih satu diantara dua hal yang aku cintai. Tapi disetiap malam-malamku tak tenang saat bayang wajahnya tak juga hilang. Terutama tanda manis dibibirku saat terakhir bersamanya. Aku hanya ingin dia tau bahwa ia j...
