Chapter 17

34 0 0
                                        


🌸🍃 Hara 🍃🌸

Tubuhku terasa hangat seperti seseorang tengah memelukku dengan erat. Kedua lengannya yang kuat terasa nyaman saat berada di sekelilingku. Diam-diam aku semakin membenamkan diriku dalam kehangatannya yang membuatku ketagihan.

Aku tersentak dan seketika membuka mata. Betapa kagetnya ketika pandanganku menangkap keadaan disekitarku sekarang. Sebuah ruang tidur yang rapi dan minimalis. Diatas sebuah tempat tidur yang empuk berukuran cukup besar aku tergeletak dengan sisa tenaga yang ada. Disisi kiri tempat tidur ini sudah tersaji beberapa makanan dan minuman.

"Dimana ini?"

Aku bertanya-tanya sendiri saat melihat sekelilingku tidak ada seorangpun. Tatapanku beralih pada pintu yang tertutup diseberang ruangan. Tiba-tiba saja perasaan khawatir menghinggapiku karena teringat peristiwa yang terjadi antara aku, Neal dan kedua orang laki-laki yang berniat menculikku.

Dengan tergesa-gesa aku bangun dari posisi tidurku sambil setengah berlari menuju pintu diseberang ruangan. Tanganku terulur menggapai gagang pintu kemudian memutarnya. Kutarik pintunya berharap dapat terbuka dan tidak terkunci. Dan ternyata pintu itu dapat kubuka dengan mudah.

Aku menghela nafas lega mengetahui aku tidak sedang menjadi sebuah sanderaan kedua orang laki-laki itu. Jika aku tidak diculik oleh mereka lalu dimana ini dan mengapa aku ada disini. Aku mulai melangkah keluar kamar sambil terus mengamati sekelilingku. Perlahan dan penuh kehati-hatian menuju sebuah ruangan dengan pintu terbuka disisi kanan.

Rumah ini terlihat cukup besar namun sejauh aku melangkah aku tidak mendengar suara apapun apalagi bertemu dengan seorangpun. Aku semakin jauh melangkah mengamati setiap ruangan yang aku temui hingga tiba-tiba aku tersentak saat mendapati seseorang tengah berdiri berseberangan denganku, menatapku dengan tatapan yang datar tanpa ekspresi.

Aku mengerjap. "Ahm.. hai!" Tiba-tiba aku merasa bodoh karena ucapanku yang seperti itu.

Kutatap laki-laki itu yang masih bergeming ditempatnya menatapku tak berkedip. Aku melangkah mundur mencoba menenangkan diri dan bernafas senormal mungkin. Ketika itu laki-laki itu melangkah maju hingga menghapus jarak yang ada antara aku dan dirinya.

"Sudah jauh lebih baik?" Tanyanya padaku. Suaranya yang lembut terdengar indah ditelingaku.

Sekali lagi aku berusaha mengendalikan detak jantungku yang rasanya seperti ingin keluar dari dadaku. "Iya. Ahm.. Alexi.." Aku hampir kehabisan nafas saat mengucapkan namanya.

"Iya?"

"Oh Tuhan.. bagaimana ini? Aku tidak dapat berpikir walau hanya untuk mencari kata-kata untuk bicara dengannya."

"Dimana Neal?" Dan bodohnya diriku, aku lebih mempertanyakan orang lain dari pada hal yang lebih penting dari itu. Sekali lagi aku menyesalinya.

Aku menatapnya tapi saat itu ketika mataku hanya tertuju padanya tidak menangkap perubahan ekspresi apapun. Berusaha untuk tetap tenang aku mengubah pertanyaanku.

"Ini rumahmu? Kau menyelamatkanku dari dua laki-laki aneh itu?"

Alexi masih tidak menjawab tapi tatapannya tidak lepas dariku sedetikpun. "Ada apa? Kenapa kau memandangku seperti.. ehm.. seperti aku sebuah kue yang lezat dan kau berniat memakanku?"

Alexi melangkah lagi. "Ikut denganku." Tangannya terulur menggengam pergelangan tanganku. Ia mengajakku ke sisi ruangan dan menyuruhku duduk disalah satu kursi yang kosong. "Sudah berapa lama kau menyiksa diri dengan tidak makan apapun?"

"Bukan seperti itu. Hanya saja aku belum terbiasa berada disini."

Alexi membuka tudung saji yang menutupi beberapa makanan diatas meja. Semangkuk salad, telur dan ikan sudah tersaji diatas meja. Aku menatap Alexi dengan wajah penuh tanda tanya.

"Kau belum makan?" Tanyaku padanya.

"Jangan khawatirkan aku. Makanlah Hara. Mungkin ini bisa membuat wajahmu terlihat lebih berwarna daripada pucat seperti ini."

Aku tersenyum. Tidak mampu berkata-kata aku mengambil beberapa makanan dan meletakkannya di piringku. Tidak butuh waktu lama hingga makanan itu habis dan berpindah ke dalam perutku. Ditemani oleh Alexi disampingku saat acara makan siang seperti ini membuatku tidak ingin cepat menghabiskan waktu.

"Terima kasih." Ucapku setelah selesai dengan acara makanku.

"Terlihat jauh lebih baik." Alexi mencondongkan tubuhnya menatapku lebih dekat. "Ceritakan padaku tentang dirimu, Hara."

Aku terdiam sesaat. Mencoba memahami maksud dari kata-kata yang terlontar dari mulut laki-laki disampingku. Mengenalku lebih dalam hanya itu yang sempat terpikirkan olehku. Tapi aku sadar Alexi yang saat ini berada didekatku bukanlah orang yang sama dengan Alexi yang aku temui diduniaku, dikerajaanku. Dia tidak tau apapun tidak pula mengenalku.

"Apa kau yakin? Kau akan memercayainya walaupun ceritaku tidak masuk akal?"

Alexi mengangguk. "Katakan."

Aku menarik nafas panjang. Membenarkan posisi dudukku agar lebih nyaman. Ku tatap Alexi yang masih berpusat padaku. Ia tidak pernah melepaskan pandangannya dariku sedetikpun. Seperti perhatiannya terkunci padaku.

"Aku dulu adalah seorang putri kerajaan di kerajaan Siang. Kedua kakakku Adlan dan Nayaka kini sedang belajar memimpin rakyatnya. Dan aku.." kata-kataku terhenti ketika aku harus mulai menyatakan alasanku berada disini. Di dunia manusia ini.

"Aku melarikan diri. Dan sekarang berada disini untuk.. untuk bertemu denganmu." Lanjutku.

Alexi bergeming namun perubahan ekspresi diwajahnya menunjukkan bahwa ia kaget dan masih tidak mengerti. "Lalu, apa tujuanmu bertemu denganku sekarang? Bahkan aku tidak mengenalmu."

Ada rasa yang begitu sakit dihatiku saat Alexi mengucapkan kata-kata itu. Tidak mengenalku seperti aku bukan seseorang yang pernah ia temui sama sekali. Seperti aku bukan seseorang yang berada didekatnya dan menerima semua perhatiannya. Ataukah semua yang terjadi hanya menjadi sebuah bunga tidur baginya?

Aku menarik nafas lagi menenangkan diriku. "Kau bukan tidak mengenalku Alexi. Kau hanya.. melupakanku." Suaraku tertahan dan tenggorokkanku terasa tercekat.

"Ini menyakitkan. Sangat menyakitkan!" Aku menjerit dalam hati sekeras mungkin. Tidak terasa air mataku menetes. Cepat-cepat aku memalingkan wajah menghindari tatapan Alexi.

"Maafkan aku." Aku menunduk saat Alexi mengulurkan tangannya kemudian mengusap wajahku yang basah karena air mata.

Aku tersentak kemudian menatap balik kearahnya. "Kenapa Alexi? Kenapa kau melupakanku? Kenapa kau melupakan janjimu!" Aku menjerit karena sudah tidak mampu lagi menahan diriku yang merasakan sakit hati seperti ini.

Aku seperti kehilangan pengendalian diriku. Emosiku yang memuncak seperti ingin aku keluarkan seluruhnya. Kekecewaan yang aku dapatkan setelah seluruh usaha yang aku lakukan terlihat sia-sia. Seperti inikah rasa sakit hati seseorang yang cintanya tak berbalas?

"Cinta? Apa benar aku mencintainya? Atau aku hanya perduli padanya karena sudah bersamanya selama beberapa waktu? Atau aku hanya merasa nyaman dengan semua perhatiannya padaku." Begitu banyak pertanyaan yang muncul dalam pikiranku tapi aku tak mampu menjawabnya.

"Hara, aku berani bersumpah." Alexi menatapku dalam. "Aku tidak mengingat apapun. Aku tidak tau apa yang terjadi padaku beberapa waktu lalu. Bukan karena aku sengaja melupakanmu."

Aku menatapnya tak percaya. Ini tipu muslihat atau apa. Aku tidak pernah berpikir seseorang dapat lupa ingatan seburuk ini. Tidak dalam waktu tiga tahun. Aku menarik nafas dalam-dalam.

"Seharusnya aku tidak berada disini, denganmu." Bisikku lirih.

Finding Love ( New Year Eve-Part II)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang