Chapter 5

41 2 0
                                        

🌸🍃 Hara 🍃🌸

Siang hari yang cukup membakar aku bersama Fredella memilih berdiam dirumah. Terik matahari di dunia ini sungguh sangat membakar. Aku bahkan merasa kulitku mulai berubah warna menjadi kecoklatan.

Di ruang yang sepi di rumah Fredella, wanita tua itu sedang bermain dengan gulungan benang wol dan jarum. Aku sempat bertanya padanya untuk apa itu semua dan ia mengatakan bahwa ia sedang membuat sebuah topi rajutan untukku.

"Fredella." Wanita tua itu menoleh kearahku. "Bagaimana cara untuk bisa menemukan laki-laki itu?"

"Cobalah bergaul lebih sering nak." Fredella meletakkan peralatan rajutannya. "Jika kau tidak bergerak dan hanya diam saja di dalam rumah ini, bagaimana bisa kau bertemu dengannya?"

"Sendirian?" Tiba-tiba aku membayangkan berjalan sendiri ditengah kerumunan manusia yang aku tidak mengenal mereka sama sekali. Tidak dapat aku bayangan jika aku tersesat dan tidak tau jalan pulang kerumah Fredella. "Aku bisa tersesat."

Fredella tersenyum. "Aku akan meminta Aron menemanimu."

Aku terbelalak. "Oh tidak. Laki-laki itu lagi. Entah kenapa aku merasa tak cukup nyaman berada di dekatnya. Tidak seperti saat aku bersama Alexi dan yang lainnya."

"Aku tidak enak jika harus menyusahkannya." Aku berusaha berdalih.

"Tidak apa-apa nak. Dia senang membantu."

Kemudian Fredella bangkit berdiri menghampiri sebuah benda yang ia sebut itu telepon. Beberapa saat ia bicara kemudian menoleh kearahku. Senyumnya manis sekali membuatku merasa tenang. Setelah telepon itu ditutup ia berjalan kembali ketempatnya membuat rajutan.

"Bersiaplah. Lima menit lagi ia sampai." Ucap Fredella yang kembali merajut.

Aku memperhatikan jarum jam yang berputar dan tepat lima menit kemudian sebuah ketukan pintu terdengar. Aku tersentak dan reflek menoleh kearah pintu kemudian beralih pada Fredella. Fredella melemparkan sebuah senyum dan anggukan.

Perlahan aku berjalan menuju pintu. Dari lubang kecil di tengah pintu aku dapat melihat rambut coklat milik Aron. Laki-laki itu sedang memandang kearah lain tidak menyadari aku sedang memperhatikannya. Kemudian aku membuka pintu berusaha untuk tidak membuatnya kaget.

"Hai.." Sapaku saat pintu terbuka lebar.

"Hai juga cantik." Sahut Aron dengan senyumnya yang manis.

Laki-laki itu menatapku seperti memperhatikanku secara ditail. Sontak aku pun ikut melakukan hal yang sama. Rambut coklatnya terlihat rapih aku bertaruh ia baru saja memotongnya dibeberapa bagian. Mata coklatnya menatapku tak berniat lepas sedikitpun. Pakaiannya cukup rapih dengan kaos dan celana warna biru tua.

"Kau terpesona melihatku?" Suara Aron menyadarkanku seketika.

"Tidak." Aku berusaha menutupi wajahku yang sepertinya kembali memerah.

Aron tertawa. "Lucu. Ayo cantik, mau kemana kita hari ini?"

Aku berusaha memusatkan kembali pikiranku yang sempat melantur. Tujuan utamaku adalah menemukan Alexi bukan merasa bangga karena aku berhasil menarik perhatian mausia selain laki-laki itu.

"Aku hanya ingin menambah teman." Jawabku.

"Tentu. Ayo akan aku perkenalkan kau dengan teman perempuanku." Aron lagi-lagi menggenggam pergelangan tanganku dan menahannya.

Aku tersentak tapi tidak melakukan apapun selain mengikuti pergerakannya. Aron mempersilahkan aku untuk masuk kedalam mobilnya. Aku sempat merasa asing dengan benda itu tapi setelah cukup lama berada di dunia manusia ini dan terus melihatnya aku mulai terbiasa.

Aron mengendarai dengan baik dan sesekali aku mendapati ia sedang memperhatikanku dari pantulan kaca. Mobil melaju dengan stabil dijalan raya yang cukup ramai. Aron menyalakan musik untuk menghibur kami selama perjalanan karena sejujurnya aku tidak banyak bicara dengannya.

"Aku suka sekali musik terutama yang beraliran jazz. Setiap aku selesai bekerja aku selalu menghibur diriku dengan musik ini." Aron terus berbicara ditengah perjalanan walau aku tidak memberikan komentar apapun.

Sesampainya mobil itu disebuah daerah yang penuh dengan rumah-rumah yang bentuknya hampir serupa. Aron menghentikan mobilnya tepat disebuah rumah dengan warna biru muda dan paduan warna kuning. Aku menoleh pada Aron saat ia juga sedang menatapku.

"Ini dia. Salah satu rumah teman baikku. Namanya Elysia. Aku rasa kalian akan cocok."

Aron membuka pintu dan keluar dari dalam mobil. Sesaat kemudian ia sudah berdiri disamping pintu mobilnya dan membukakan pintu untukku. Aku berterima kasih padanya kemudian keluar dari mobil.

Rumah dihadapanku jauh lebih terlihat besar dan berwarna jika dibandingkan dengan rumah milik Fredella. Pandanganku beralih pada bagian sisi kiri dan kanan rumah itu. Rumah lain pun berbentuk serupa dengan warna yang berbeda-beda. Tiba-tiba aku tersenyum sendiri.

"Betapa luar biasanya manusia didunia ini. Warna yang mereka ciptakan begitu indah." Pikirku.

"Ayo cantik." Aron menggenggam lagi tanganku menarikku untuk berjalan dekat disampingnya.

Taman kecil didepan rumah milik Elysia terlihat indah dengan bunga-bunga yang cantik. Rumput hijau bergoyang tertiup angin yang lembut. Tiba-tiba saja aku teringat pada kerajaanku. Bagaimana keadaannya sekarang dan betapa indahnya alam disana?

Aron menarikku lebih dekat membuatku tersentak dan lamunanku menghilang. Aku mengerjap berusaha mengembalikan pikiranku yang sempat melantur. Aku menoleh dan mendapati Aron menatapku lagi.

"Jangan suka melamun." Bisik Aron di telingaku.

Sesaat kemudian pintu rumah itu terbuka. Seorang gadis muda yang cantik berdiri diambang pintu. Ia tersenyum manis kearah Aron dan diriku. Gadis itu memiliki tubuh yang tidak lebih tinggi dariku. Rambutnya indah dan matanya bening seperti kaca.

"Hai, Ely!" Sapa Aron.

"Hai.. Sudah lama kau tidak datang." Suara gadis itu lembut dan riang. Tatapannya beralih padaku. "Kekasih barumu?"

Aron tertawa. "Ini Hara. Untuk saat ini ia tinggal bersama Fredella."

Aku tersenyum memberi sapaan pada Elysia. Tanganku terulur mencoba memberikan sapaan dan jabat tangan yang baik. Elysia membalas uluran tanganku dengan senyum manis miliknya.

"Senang bertemu denganmu Hara." Ucap Elysia ramah. "Masuklah kita bicara didalam."

Setelah pembicaraan yang singkat itu, aku bersama Aron dan Elysia memasuki rumah yang ternyata terlihat jauh lebih besar dari tampak luarnya. Rumah itu seperti istana yang berukuran kecil. Aku berdecak kagum betapa indahnya tempat itu.

"Aku berharap kalian bisa berteman baik. Dan aku tidak ingin mengganggu para gadis terlalu lama." Ucap Aron setelah kami memasuki ruang tamu.

"Apa maksudmu itu, Ron. Kau takut tiba-tiba Neal datang dan melihatmu disini?" Elysia tertawa kecil.

"Untuk apa aku takut padanya. Lelaki pencemburu. Jika aku mau sudah kurebut kau dari laki-laki kasar seperti itu." Aron berpaling. Ekspresi wajahnya berubah kaku. "Tetaplah disini Hara sampai aku menjemputmu."

Aku mengangguk. Setelah itu Aron berpamitan dan meninggalkanku bersama Elysia. Aku merasa ada perubahan situasi yang tidak enak saat Aron melangkah menjauh terutama sejak pembicaraannya dengan Elysia tentang Neal.

"Neal? Apa itu orang yang sama dengan Neal teman Alexi?" Aku terkesiap. Inikah saat yang tepat untuk mulai mencari keberadaannya. "Tuhan.. tolong bantu aku." Mohonku dalam hati.

Finding Love ( New Year Eve-Part II)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang