🌸🍃 Hara 🍃🌸
Fredella mengajakku ke sebuah pasar yang cukup ramai. Rasanya seperti berada di tengah kota kerajaanku dulu. Namun ini lebih luar biasa dan lagi-lagi aku merasa asing.
Aku tak pernah jauh dari Fredella. Aku tidak ingin tersesat dan akhirnya hilang ditengah kerumunan manusia. Fredella sibuk menawar harga untuk barang-barang yang dibelinya. Sedangkan aku sibuk memperhatikan orang-orang disekelilingku.
Mereka semua berpakaian hampir sama denganku saat ini. Sebuah kaos lengan pendek dengan celana sebatas lutut. Aku merasa lega bahwa aku tidak tampak aneh diantara mereka. Semakin hari aku mulai menyadari betapa berbedanya diriku dengan mereka selama ini.
"Kau ingin sesuatu putri cantik?" Fredella menatapku.
"Tidak. Terima kasih."
Setelah Fredella selesai dengan acaranya kami pulang dengan membawa beberapa kantung berisikan bahan makanan. Sesampainya dirumah, Fredella mulai memasak bahan makanan itu. Dan untuk yang kesekian kalinya aku merasa asing.
"Oh Tuhan.. aku seperti bayi yang baru lahir. Aku tidak tau apapun." Pikirku saat memandangi aktivitas Fredella di dapur.
"Apa kau memikirkan sesuatu putri cantik?"
Aku menggeleng. "Fredella, apa semua manusia seperti kau?"
"Tidak setua diriku tentunya." Canda Fredella. "Apa yang kau maksud itu?"
"Apa semua manusia itu sebaik kau? Apa mereka juga melakukan pekerjaan seperti yang kau lakukan setiap hari?" Tiba-tiba aku merasa sangat bodoh sudah menanyakan hal tersebut.
Fredella menghentikan pekerjaan memasaknya. Ia menatapku dengan ekspresi yang datar. Mungkinkah ia mulai merasa aneh dengan sikapku yang tidak tau apapun? Aku mengutuki diriku lagi menyesali kata-kataku.
"Putri cantik. Apa kau tak pernah melakukan apapun dalam hidupmu?" Fredella menatap bingung. "Siapa kau? Mengapa kau bertanya seperti kau bukan manusia?"
Aku tersentak. Aku benar-benar dalam masalah besar. Bagaimana caraku menjelaskan pada Fredella tentang ini? Aku tidak menemukan sepatah katapun untuk bisa menjelaskan ini tanpa harus mengatakan yang sebenarnya. Jika sekali lagi saja aku salah bicara habislah riwayatku di dunia manusia ini.
Fredella masih menatapku dengan ekspresi penuh tanda tanya dan aku membeku seperti es yang dingin. Kebekuanku juga menjalar pada otakku yang tidak juga bisa menemukan cara menanggulangi masalah ini. Jika aku harus mengatakannya apa tanggapan Fredella nantinya?
"Jika.. jika aku mengatakannya apa kau akan mempercayaiku?"
"Katakanlah."
"Kau benar Fredella. Aku adalah seorang putri. Dan aku lari dari kerajaanku. Tapi bukan tanpa alasan aku melakukan itu." Aku mencoba mengatakannya sebaik mungkin. Walau suaraku terdengar bergetar karena gugup.
Fredella belum mengatakan apapun. Matanya menatap kosong kearahku. Tiba-tiba wajahnya yang sudah nampak berkerut itu berubah segar. Senyumnya mengembang dan tawanya renyah di telinga. Aku sempat berpikir bahwa Fredella terkena gangguan kejiwaan.
"Baiklah nak. Katakan padaku. Siapa kau? Dimana kerajaanmu?" Fredella menatapku serius.
"Aku Putri Hara. Aku tinggal di sebuah istana dikerajaanku. Kerajaan Siang dengan Raja Arkhan sebagai pemimpinnya." Aku tidak yakin akan mengatakan itu tapi semuanya sudah keluar begitu saja dari mulutku.
"Jadi itu alasanmu berpakaian layaknya putri dongeng?" Fredella menarik kursi dan duduk menghadapku. "Kenapa kau lari?"
"Aku tidak lari. Ya, sebenarnya hanya pergi tanpa pamit." Aku memainkan ujung rambutku. "Aku mencari seseorang."
"Siapa?"
"Laki-laki yang pernah membantu kerajaanku. Dia disini di dunia manusia ini." Aku mulai bersemangat saat mengingat kembali tujuanku berada disini.
"Namanya? Dia tinggal dimana? Dunia ini luas putri cantik."
Aku berpikir sejenak. Bahkan aku hanya tau namanya. Aku tidak pernah berfikir untuk menanyakan rumah atau dimana ia tinggal dan dengan siapa. Apa dunia manusia ini sangat luas hingga akan sulit bagiku untuk menemukannya?
"Aku hanya tau namanya. Alexi." Aku menatap Fredella berharap ia mengenalnya.
Sayangnya respon Fredella tidak sebaik dugaanku. Wanita tua itu menggeleng lemah. "Maafkan aku putri cantik. Tapi tidakkah kau punya petunjuk lain? Ini sangat sulit. Kau tidak bisa menemukan seseorang hanya dengan mengetahui namanya. Di dunia ini banyak yang bernama Alexi."
Aku tertunduk lemah. Fredella benar. Aku tidak tau apapun tentang Alexi tentang dunianya bahkan dirinya. Selama laki-laki itu bersama denganku, aku hanya mengacuhkannya. Dan kini aku dengan nekat pergi ke dunianya, mencarinya dengan cara seperti ini.
"Fredella.. aku sudah salah mengambil keputusan." Ucapku.
Fredella menyentuh tanganku menatapku penuh rasa prihatin. "Tidak ada yang salah. Kau hanya butuh usaha lebih keras untuk menemukannya. Percayalah."
Aku mengangguk. "Fredella, berjanjilah padaku untuk menjaga rahasia ini. Dari siapapun. Hanya aku dan kau yang tau."
"Tentu nak." Fredella mengecup pipiku lembut.
Setelahnya Fredella kembali memasak dan aku hanya bisa membantu sedikit dengan mencuci piring kotor. Setidaknya semakin hari aku semakin mengetahui dimana aku berada sekarang dan bagaimana caraku harus bersikap.
Aku benar-benar merasa beruntung bertemu dengan Fredella di dunia manusia ini. Ia sangat membantu dan menyayangiku seperti aku adalah anaknya. Aku berharap semua manusia sebaik Fredella.
Tidak terasa waktu berjalan cepat. Fredella sudah menyelesaikan masakannya. Ia mengatakan anak dan cucunya akan segera datang. Aku pun bergegas membersihkan diri dan berganti pakaian. Kali ini aku mencoba mengenakan baju atasan dengan rok diatas lutut. Rambutku yang kuning sengaja aku ikat disamping.
Aku beberapa kali memandang ke arah cermin. Melihat pantulan diriku yang tampak berbeda lagi. Aku merasa senang bisa memakai berbagai macam pakaian dengan model yang beragam di sini. Walau awalnya sangat memalukan dan tidak wajar tapi kini aku mulai terbiasa.
Setelah aku siap aku melangkah keluar kamarku dan mendapati seorang anak laki-laki sedang berdiri di dapur. Posisinya membelakangiku dengan rambutnya yang ikal kecoklatan. Aku tertegun menatapnya yang perlahan mulai berbalik menghadap kearahku.
Seorang laki-laki dengan tinggi tak jauh beda denganku menatapku kaget. Matanya yang coklat terbelalak seperti ia baru saja bertemu dengan hantu. Aku berusaha memberikan sapaan dengan tersenyum kearahnya. Tapi laki-laki itu tak juga bergerak hingga ia hampir saja menjatuhkan gelas yang berada ditangannya.
"Maaf aku mengagetkanmu." Ucapku dengan senyum terbaikku.
"Ah, tidak apa." Laki-laku itu akhirnya membalas senyumku. "Siapa kau? Sejak kapan kau disini?"
"Aku Hara. Aku menumpang disini. Jika kau tidak keberatan membiarkan Fredella bersamaku beberapa waktu."
Aku mengulurkan tangan mencoba mengajaknya berkenalan secara resmi. Setidaknya itu yang aku pelajari selama di sini. Laki-laki itupun mengulurkan satu tangannya menyambut jabat tangan yang hangat.
"Aku Aron. Cucu Fredella. Senang bertemu denganmu." Aron menjabat tanganku. "Kau cantik sekali. Dimana rumahmu? Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya?"
"Kenapa ia harus menanyakannya juga?" Ucapku dalam hati.
"Entahlah aku.. tersesat. Fredella menemukanku." Aku benar-benar kehabisan kata-kata. Seharusnya aku mencari skenario yang lebih meyakinkan dari ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Finding Love ( New Year Eve-Part II)
RomanceKeputusan yang berat bagiku untuk memilih satu diantara dua hal yang aku cintai. Tapi disetiap malam-malamku tak tenang saat bayang wajahnya tak juga hilang. Terutama tanda manis dibibirku saat terakhir bersamanya. Aku hanya ingin dia tau bahwa ia j...
