🌸🍃 Hara 🍃🌸
Aku tidak menyadari betapa dekat diriku dengan Aron sekarang. Dia lebih dari seperti bayangan yang selalu berada disampingku. Walau awalnya begitu sulit bagiku untuk menerimanya.
Sejak apa yang terjadi di sungai waktu itu, aku seperti mengenalnya lebih jauh. Aku mengenalnya jauh lebih baik. Dan rasa nyaman berada disekitarnya membuatku lebih terbuka.
"Berhentilah mencuri pandang seperti itu." Aku menatap Aron yang duduk di balik kemudi mobilnya.
Ia terkekeh sambil menatapku. Mata coklatnya memandangku seperti aku sebuah logam mulia yang sayang untuk disia-siakan.
"Kau selalu menarik hatiku untuk menatapmu terus."
"Sampai kau hampir menabrak penjual buah-buahan beberapa saat lalu." Aku menggelengkan kepala.
Aron tertawa. "Seperti tidak ada yang lebih indah dari melihatmu memerah seperti itu."
Aku memalingkan wajahku menghadap jendela. Kini kami dalam perjalan pulang dari luar kota. Selama beberapa waktu aku menghabiskan waktu dengan Aron disebuah penginapan dekat pantai. Tentunya setelah mendapat persetujuan dari Fredella.
Nyatanya Fredella sangat antusias dengan ide tersebut. Bahkan ia lebih bersemangat daripada aku yang akan melakukan perjalanan. Wanita tua itu sampai mempersiapkan segalanya dari makanan sampai pakaian yang akan aku kenakan. Sungguh memalukan.
"Hara, bagaimana kalau kita membeli sesuatu untuk Fredella. Sebagai hadiah karena ia sudah mengizinkanmu pergi bersamaku."
"Tentu." Aku menjawab tanpa menatapnya. Aku sibuk memperhatikan pepohonan yang terlewati oleh kami dalam kediaman.
Pikiranku melayang kebeberapa waktu lalu. Selama aku bersama Aron di penginapan. Seperti apa yang aku lewati seperti mimpi yang tidak mungkin aku lakukan. Tapi nyatanya aku melakukannya.
Penginapan itu terlihat sangat mewah. Terdapat kolam renang yang cukup besar di bagian atas gedungnya. Terlihat jelas luasnya samudra di sisi kirinya. Aron memilih kamar kami berdampingan. Tentu aku akan menolak dengan keras jika ia bersikeras memesan satu kamar saja.
Kamarku menghadap kearah pantai. Begitu indah saat waktu senja dan fajar. Sinar matahari memberikan warna yang begitu menarik. Dan aku senang menghabiskan waktu itu dengan memandangi kearah pantai dari jendela kamar.
"Hai tuan putri yang cantik, kau tidak bosan dikamar seharian? Aku mengajakmu bukan untuk tidur di kamar seharian." Tiba-tiba Aron sudah berada di ambang pintu kamarku.
Aku menatapnya dengan ekspresi kaget. "Ketuk pintu sebelum masuk Aron." Aku menatapnya tajam.
"Maaf maaf.." ucapnya sambil berjalan masuk. "Kita cari udara segar?"
Aku mengangguk. Aku mengikuti arah langkah Aron menuju bagian depan hotel. Laki-laki itu menggenggam pergelangan tanganku selama perjalanan kami seperti ia tidak ingin kehilanganku sedetik saja.
Dihadapanku saat ini terdapat pemandangan yang indah sekali. Pasir berwarna kecoklatan yang lembut saat bersentuhan dengan jari-jari kakiku. Angin berhembus memainkan rambutku hingga tampak berantakan. Dan diujung garis horizon itu aku melihat perpaduan warna yang indah dan begitu luar biasa.
"Lebih indah jika dilihat langsung bukan?" Aron berbisik ditelingaku.
Aron kembali menarik tanganku mengajakku mendekati pantai. Angin berhembus semakin kencang hingga aku memeluk tubuhku sendiri karena dingin.
"Duduklah." Aron menepuk sisi kosong disampingnya.
Aku mengambil posisi duduk disampingnya. Melipat kedua kakiku dan memeluk kedua lututku. Tatapanku lurus kearah garis horizon di hadapanku. Seperti ini tidak ingin berakhir seperti aku bisa merasakan ketenangan yang sudah lama tidak aku rasakan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Finding Love ( New Year Eve-Part II)
RomanceKeputusan yang berat bagiku untuk memilih satu diantara dua hal yang aku cintai. Tapi disetiap malam-malamku tak tenang saat bayang wajahnya tak juga hilang. Terutama tanda manis dibibirku saat terakhir bersamanya. Aku hanya ingin dia tau bahwa ia j...
