🌸🍃 Hara 🍃🌸
Aku jatuh terduduk dengan lemas. Melihatnya pergi berlalu begitu saja membuatku seperti diterpa badai siang hari. Ia tidak menahan diri. Laki-laki itu terus melangkah semakin jauh membawa semua kemungkinan dan harapanku yang kosong bersamanya.
Aku menatap kosong ke seberang halaman istana. Tidak mengerti apa yang harus aku lakukan sekarang. Semuanya sudah terlambat dan aku mensia-siakan kesempatan yang ada dengan berdiam diri. Aku menyesal tapi tidak bisa berbuat apapun lagi.
"Kau melepasnya begitu saja. Kau bodoh Hara! Bodoh! Bodoh! Bodoh!" Aku menutup wajahku yang mulai panas dengan kedua tanganku yang gemetar. "Aku tidak boleh menangis."
Sekuat apapun aku menahannya air mataku tetap jatuh juga. Rasanya begitu menyedihkan tapi seharusnya aku mampu bertahan. Aku tersentak saat aku merasakan sebuah tangan yang hangat memelukku.
Aku membuka mata. Hampir saja aku berpikir bahwa Alexi kembali. Ia tidak benar-benar pergi dan memilih tinggal. Atau setidaknya dia memintaku ikut bersamanya. Tapi ternyata itu tidak terjadi. Harapanku hanya sebuah harapan kosong yang menyakitkan.
"Dia pergi?" Aku mengangkat wajahku menatap Adlan, kakakku.
"Aku membiarkannya pergi. Aku.. tidak bisa menahannya." Suaraku bergetar. Menyedihkan.
"Kau lucu sekali." Ucap Adlan sambil duduk disampingku. Melingkarkan lengannya yang kekar dipundakku.
"Kau mencintainya tapi kau berpura-pura tidak memiliki perasaan apapun padanya. Kau inginkan dia disini tapi kau memintanya pergi. Kau menipu dirimu sendiri. Ada apa?"
Aku tidak bisa mengatakan apapun. Aku sendiri tidak mengerti mengapa berlaku begitu naif. Aku menyesali apa yang sudah aku lakukan. Seharusnya aku lebih pintar dan berani mengambil kesempatan.
Aku menatapnya. "Aku pecundang. Memalukan. Bahkan aku tidak bisa memperjuangkan cintaku sendiri."
"Sst.. Jangan katakan itu." Adlan memelukku erat sekali. "Sudah sadarkah kau bagaimana harus mengambil sikap? Menjalani hidupmu sendiri tanpa bantuan orang lain?"
Aku mengangguk. "Tapi, apa aku bisa menjalani hidup dibawah bayang-bayang masa lalu?"
"Masa lalu untuk kau ingat. Bukan untuk hidup dengannya. Kau bisa ukir sejarahmu sendiri."
Aku berpikir keras. Dengan keadaanku yang seperti saat ini memilih tinggal di dunia ini sama saja aku menghancurkan keluargaku. Tanpa kekuatan apapun yang aku miliki sekarang. Aku adalah manusia dan seharusnya aku tidak berada disini.
"Adlan, ini pilihan yang sulit. Maksudku, aku mencintai kalian semua. Aku tidak mungkin meninggalkan keluargaku begitu saja." Aku menatap Adlan dengan perasaan bimbang. Seandainya aku tidak harus memilih.
"Aku juga mencintaimu Putri kecil. Aku akan merindukan panggilan ini untukmu." Adlan memelukku. "Kuatlah.. kau akan menjadi ratu yang hebat nanti."
Aku mengangguk. Adlan benar sama seperti apa yang dikatakan laki-laki teman dari Nayaka. Mungkin sebaiknya aku mulai menata hidupku sendiri. Membuat keluarga kecil dan membangun kerajaanku sendiri.
Mungkin nanti aku akan memiliki keluarga yang hebat seperti sekarang. Memiliki anak-anak yang kuat seperti ayah dan ibuku. Aku harus mulai dari sekarang. Jangan sampai aku menyesal untuk yang kesekian kalinya.
Aku bangkit berdiri menegakkan tubuhku, pandanganku hingga semua air mata kesedihan itu tidak lagi berarti. Kuangkat wajahku tinggi-tinggi. Berusaha kuat dan melangkah maju.
Air mataku tidak lagi mengalir. Kutatap Adlan dengan lebih berani dari sebelumnya. Laki-laki yang selalu menguatkanku. Seseorang yang selalu mengajarkanku untuk bisa bertahan sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Finding Love ( New Year Eve-Part II)
RomanceKeputusan yang berat bagiku untuk memilih satu diantara dua hal yang aku cintai. Tapi disetiap malam-malamku tak tenang saat bayang wajahnya tak juga hilang. Terutama tanda manis dibibirku saat terakhir bersamanya. Aku hanya ingin dia tau bahwa ia j...
