Chapter 12

29 0 0
                                        


🍁🍃 Neal 🍃🍁

Aku benar-benar tidak percaya saat memandang seorang gadis muda yang tergeletak diatas tempat tidurku. Tubuhnya pucat seputih kapas dan terasa begitu dingin seperti es. Aku membalutnya dengan selimut tebal untuk menghangatkannya.

"Kau itu. Apa yang kau pikirkan sebenarnya?" Aku menoleh saat pintu kamarku terbuka. "Letakkan di situ."

Seorang wanita muda masuk membawa nampan berisi makanan dan minuman hangat. Setelah ia meletakkan semua diatas sebuah meja dekat tempat tidurku, wanita muda itu beranjak keluar. Tinggallah aku kembali bersama gadis yang masih tidak sadarkan diri diatas tempat tidurku.

Aku menggeram saat jari-jarinya mulai bergerak. Perlahan matanya mulai terbuka dan berusaha mengenali sekelilingnya. Sesaat kemudian ia menatap kearahku. Kedua matanya terbelalak dan wajahnya terlihat panik. Aku melangkah mendekat berusaha menjaga jarak agar ia tetap tenang.

"Bagaimana tidurmu?" Aku berusaha mengeluarkan suara yang lembut.

"Apa yang terjadi? Mengapa aku disini?"

"Tenang saja. Semua baik-baik saja." Aku berusaha menenangkan walau wajahnya masih terlihat panik. "Istirahatlah sebentar. Aku akan meninggalkanmu."

"Tidak!" Seketika itu ia beranjak dari posisi tidurnya. "Maksudku, katakan padaku kenapa aku bisa ada disini? Ini rumahmu?"

Aku mengangguk pelan. "Iyaa. Dan kau tidak perlu khawatir karena kita tidak hanya berdua disini." Aku kembali melangkah kearahnya.

Ia tampak bingung tapi segera memusatkan perhatiannya padaku. "Neal, aku pikir kau benar tentang Aron."

Aku tersentak saat sebuah nama itu terdengar ditelingaku. Aku sudah bisa menebak ada yang tidak beres dengan semua ini. Perlahan aku duduk disamping ranjang menghadap kearah gadis itu. Ada sesuatu yang aku lihat di matanya yang aku yakin ada hal yang ia sembunyikan.

"Katakan padaku Hara. Dia tidak melakukan apa-apa padamu kan?" Aku menatapnya tajam tidak sabar menunggu pengakuannya.

"Aku.. aku tidak yakin Neal."

"Apa maksudmu dengan tidak yakin?" Tanpa sadar suaraku mulai meninggi. Ini adalah tanda emosiku mulai tak dapat kukendalikan lagi.

Hara beringsut di tempatnya. Aku yakin ia sekarang merasa ketakutan karena nada suaraku yang mulai membentak. Entah harus seperti apa aku bersikap padanya. Namun sejak ia berada di dunia manusia ini sikapnya jauh lebih lembut dan perasaannya begitu halus. Jauh dari dirinya yang dulu sempat aku kenal selama menjadi Putri Kerajaan Siang. Sikapnya tegas dan terlihat tidak takut apapun.

"Maafkan aku." Ucapku berusaha mengembalikan nada suaraku yang sempat meninggi. "Apa yang terjadi sebenarnya?"

Hara tertunduk lesu. "Aku lari darinya semalam."

"Kenapa?"

"Ia mencoba menciumku." Jawabnya tanpa berani menatapku.

Seketika itu aku bengkit berdiri. Aku merasa ingin teriak dan memaki. Tapi sebisa mungkin aku menahan emosiku agar tidak meledak. Aku tidak ingin membuat keributan terutama membuat Hara ketakutan.

Kutarik nafas dalam-dalam. "Lalu apa yang terjadi setelahnya?"

Hara menggeleng lemah. "Aku mendorongnya lalu memukulnya. Aku lari meninggalkannya di mobil." Hara menutup wajahnya dengan kedua tangannya. "Neal, apa aku keterlaluan? Harusnya aku mendengarkan kata-katamu."

"Kau tidak salah. Hanya saja dia itu memang laki-laki brengsek yang tidak tau diri. Aku sudah berulang kali mengatakan itu pada Ely tapi dia tidak percaya." Aku memalingkan wajahku berusaha mati-matian menahan emosi. "Ingin kubunuh dia kalau berani menyentuh Ely seujung jari pun."

"Apa semua manusia seperti itu? Maksudku, mereka selalu mengungkapkan perasaan pada orang lain dengan cara seperti itu?"

"Tidak semua. Aku sudah katakan bahwa laki-laki itu brengsek."

Hara kembali menunduk. "Aku harus segera kembali bekerja. Aku tidak ingin mengecewakan Luis." Kemudian ia beranjak dari tempat tidur. "Neal, bisakah kau menemaniku? Aku tidak tau jalan."

Aku menggelengkan kepala benar-benar tidak menyangka gadis seperti Hara bisa nekat seperti ini. Bahkan ia tidak tau apapun. Aku pun sanksi jika ia tau caranya kembali kerumah Fredella. Aku melangkah keluar kamar setelah menyetujui untuk mengantarnya ketempat Luis.

Aku menunggunya diruang tengah rumahku yang cukup sepi. Ayah dan ibuku memang sudah pergi bekerja sejak pagi tadi. Sehingga mereka tidak harus bertemu dengan Hara sekarang. Aku hanya menjaga agar mereka tidak banyak bertanya pada gadis itu. Ia tampak seperti bayi yang baru lahir di dunia ini.

Pikiranku berkelana lagi memutar kembali kata-kata yang diucapkan Hara dikamarku tadi. Aku tidak dapat membayangkan jika apa yang dilakukan Aron terjadi pada Elysia. Aku benar-benar tidak akan pernah memaafkannya.

Dari ujung mataku Hara baru saja keluar dari kamar. Sekarang ia tampak lebih segar setelah mandi dan berganti pakaian. Wajahnya masih terlihat pucat tapi tidak lagi seputih kapas. Ia mengenakan pakaian yang aku berikan milik saudara perempuanku yang tertinggal disini. Rok pendek berlipat warna biru muda dengan kaos berleher V. Rambutnya terlihat basah tergerai bebas dengan warna kekuningan.

"Dia seperti boneka barbie." Ucapku tanpa sadar dalam hati.

"Ada apa?" Tanyanya bingung saat menatapku.

"Ah, tidak apa-apa. Kau terlihat berbeda saja." Kilahku. Entah apa yang merasukiku ketika tiba-tiba aku membayangkan Hara bersanding dengan Alexi.

"Jangan sampai aku mencurigaimu juga Neal." Ucapnya dengan ekspresi waspada.

Aku tertawa geli melihat wajahnya. Setelah selesai mengajaknya sarapan aku segera mengatarnya menuju rumah makan milik Joe dan Luis di pinggir kota. Walau tidak cukup sering aku kesana tapi aku tau mereka adalah pemilik tempat usaha yang baik dan ramah.

"Neal, aku mau bertanya sesuatu padamu." Hara menatapku saat kami sudah dalam perjalanan. "Apa yang kalian lakukan setelah kembali ke dunia kalian waktu itu? Sudah berlalu cukup lama bukan?"

"Iyaa.. sudah tiga tahun setelahnya. Dan sejujurnya aku hampir melupakan kejadian itu. Karena aku pikir semua seperti mimpi di tengah hari." Aku menganbil jalan sepi di bagian kiri jalan. Mobil melaju kencang tanpa hambatan hingga persimpangan menuju pinggiran kota. "Kenapa kau bertanya seperti itu?"

"Tidak. Aku hanya menebak apa yang Alexi lakukan setelah ia sampai disini. Apa kira-kira ia masih mengingatku atau tidak."

Aku melirik kearah Hara lewat ujung mataku. Gadis itu tertunduk dengan sebagian rambutnya yang mulai mengering menutupi sisi wajahnya. Rasanya aku tidak tega melihatnya seperti ini terus-menerus.

"Apa yang akan kau lakukan ketika bertemu dengannya?"

"Apa yang akan aku lakukan?" Ulangnya dengan aksen yang lucu.

"Jangan katakan padaku kau tidak tau apa tujuanmu bertemu dengannya?"

Beberapa saat tidak ada jawaban. Aku menoleh kearahnya saat mobilku berhenti di lahan parkir tak jauh dari rumah makan. Hara terlihat tegang tatapannya lurus kedepan hingga aku merasa ia tidak dapat berkedip. Saat aku mengikuti arah pandangnya aku mendapati seseorang yang sejak tadi kami bicarakan berdiri beberapa meter dari mobil.

Pandanganku beralih pada Hara. "Kejutan yang menyenangkan bukan?" Hara tidak memberikan respon apapun selain wajahnya yang terlihat tegang.

Finding Love ( New Year Eve-Part II)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang