Dibaca juga ya Daun Muda Reta di works aku. Selamat membaca Emil-Ara.
---
"Enak kan, Sayang?" tanya Emil dengan raut harap-harap cemas menunggu respon Ara yang sedang menyantap omelette buatannya.
Tidak seperti pagi biasanya, pagi ini Ara langsung tertidur lagi setelah salat subuh bersama Emil. Ara sudah kembali dari Bandung sejak kemarin sore. Menurut supir yang mengantar Ara, selama tiga jam setengah perjalanan Bandung-Jakarta, Ara dua kali muntah. Padahal Emil tahu Ara bukan orang yang gampang mabuk perjalanan. Bahkan semalam pun Ara sempat muntah lagi dua kali. Ah, mungkin efek kehamilan.
Dahi Ara berkerut mendengar pertanyaan Emil. Lalu menutup mulutnya, dan berlari menuju wastafel yang berada dekat ruang makan. Emil mengikutinya, tangannya terulur untuk memijat tengkuk Ara yang sedang membungkuk dan mengeluarkan makanan yang belum sempat ditelannya. Dalam hati Emil merasa bersalah, karena masakan yang disajikannya penyebab Ara jadi seperti ini.
Ara menurut saja saat Emil menuntunnya kembali ke kursi makan. Emil membersihkan sekitar mulut Ara yang masih menyisakan air. Kemudian menyodorkan segelas air putih yang segera dihabiskan oleh Ara.
"Beli makanan di luar aja ya, mau?" tanya Emil penuh perhatian. Sungguh, Emil tidak ingin istrinya melanjutkan menyantap masakan buatannya.
Ara menggelengkan kepalanya. "Masakan kamu enak, tapi tadi aku tiba-tiba mual. Aku makan ini aja," ujar Ara sambil bersiap dengan sendoknya. Sementara itu, Emil kembali harap-harap cemas. Ia sendiri merasa tidak yakin dengan makasannya.
Nyatanya, sepuluh menit kemudian makanan di piring Ara sudah ludes. Emil bersyukur ternyata tidak terjadi apa-apa pada Ara.
"Aku berangkat dulu, ya," ujar Ara memecah keheningan mereka.
Emil cemberut. Semalam mereka sudah berdebat, Emil tidak mau Ara berangkat sekolah hari ini. Maunya, Ara beristirahat dulu. Sementara Ara memaksa untuk tetap berangkat sekolah, karena dua hari kemarin ia sudah tidak masuk sekolah.
Berbicara tentang sekolah, Emil sudah membicarakan bagaimana ke depannya sekolah Ara. Emil akan mengizinkan Ara untuk menyelesaikan sisa semester ini. Selebihnya, Ara akan didaftarkan untuk menjadi peserta didik homeschooling dan mengikuti ujian Paket C.
Ara sedih, tentu saja. Untuk seseorang yang menyukai belajar dan sekolah, tidak pernah terbayangkan oleh Ara berhenti menempuh pendidikan. Ayah dan ibunya terlihat kecewa, tapi sebagaimana Ara, mereka menghormati keputusan Emil selaku kepala keluarga sekaligus wali Ara.
"Ra, sebentar deh," ucap Emil ketika mereka sudah sampai di ruang tamu. Ara hanya mengerut dahi kebingungan. Emil berlutut di hadapan Ara, sejajar dengan perut Ara yang tertutup kemeja putihnya. Dalam hati Emil meringis membayangkan calon anak mereka harus terhimpit rok ibundanya. "Nak, temani bunda ke sekolah ya. Jadi anak baik dan pintar di dalam perut bunda. Ayah sayang kamu, Nak," ujar Emil sambil mengecup pelan perut Ara dengan mata tertutup. Terlihat jelas Emil melakukannya dengan sungguh-sungguh. Ara sampai ingin menangis saking terharunya.
Emil kembali berdiri, berhadapan dengan Ara yang wajahnya baper. "Bunda mau dicium juga sama Ayah ya?" tawar Emil sambil menyengir. Mau tak mau membuat Ara tersenyum juga dan mengangguk malu-malu.
Diraihnya wajah Ara, dikecupnya kening Ara lama. Tidak lupa mendoakan agar istri dan calon anaknya selalu sehat.
---
"Duh, calon ayah. Senyumnya nggak ilang-ilang," ledek Gifar saat dirinya dan Emil sedang dalam perjalanan menuju lokasi pemotretan di sebuah majalah online.
Emil menoleh dari foto USG calon anaknya. "Alhamdulillah. Gue bahagia banget, Far. Sebentar lagi gue bakal jadi ayah. Coba liat, anak gue masih sebesar kacang tanah aja udah keliatan hebatnya," pamer Emil tanpa melepas pandangan sedikit pun pada foto berwarna hitam-putih itu.
Gifar terkekeh pelan sambil menggelengkan kepalanya dengan sikap Emil. "Ehm... Mil, gue mau nanya sesuatu deh sama lo." Tiba-tiba saja Gifar bertanya serius pada Emil.
"Tanya aja." Emil tetap santai, sekarang ia sedang asyik mengelus foto calon anaknya.
"Status pernikahan lo, rahasia. Ara sebagai istri lo, rahasia. Apa anak kalian nanti juga dirahasiakan? Sampai kapan?"
Pertanyaan Gifar membuat senyum Emil memudar. Sampai kapan semua harus dirahasiakan seperti ini?
"Lo pernah nggak sih, nanya ke Ara, gimana perasaannya selama ini?"
---
Salam,
rul
KAMU SEDANG MEMBACA
Celebrity's Girl
RomanceAra hanyalah seorang gadis biasa-biasa saja. Usianya baru 17 tahun. Pelajar, dan punya dua sahabat yang sangat populer di sekolah. Yang mereka tidak tahu adalah bahwa Ara sudah bersuami. Emil selalu dielu-elukan kemana pun langkahnya berpijak. Seora...
