Aku hadir lagi bukan di hari Kamis-Minggu. Ini aku update karena sampai akhir pekan nanti mungkin aku nggak upadate untuk CG. Aku mau nulis untuk cerita baru aku yang judulnya Daun Muda Reta. Cerita tentang dosen cantik yang terjebak cinta segitiga dengan duda dan berondong. Kalau berkenan mampir ya. :)
---
"Mutiaraku, kamu hamil, Sayang."
Hanya empat kata, tapi efeknya luar biasa bagi pasangan Emil dan Ara. Emil jelas menegang karena tubuh langsing dalam dekapannya jadi lebih kaku dari sebelumnya. Benak Emil bertanya-tanya, apakah Ara bahagia mendengar berita ini? Seperti Emil yang merasa bahagia. Sangat bahagia malah. Ada calon buah hatinya dan Ara dalam rahim istrinya itu.
Emil selalu siap dengan segala risiko yang akan dihadapinya saat ia menyatakan diri ingin menjadi suami Ara, termasuk menjadi seorang ayah. Meskipun Emil tahu, Ara tidak seperti dirinya. Bahkan mereka sepakat untuk menunda memiliki anak dalam waktu dekat. Akan tetapi, siapa yang bisa menolak rezeki yang luar biasa ini?
"Sayang," panggil Emil dengan lembut karena Ara masih tidak memberi respon.
Emil menjauhkan tubuhnya dengan Ara, tetapi tangannya masih tetap melingkupi pinggang dan punggung Ara. Siapa yang sangka akan serupa ini tampilan Ara setelah mendengar kabar bahwa dirinya sedang berbadan dua?
Wajah Ara sudah merah, begitu pun mata dan hidungnya yang memproduksi banyak cairan. Tidak ada senyum sama sekali di bibir Ara, kepalanya menggeleng kuat. Tangannya mendorong dada Emil, Ara memberontak. Reaksi yang tidak diinginkan Emil, meskipun sudah ia prediksi sebelumnya.
"Ka-kamu bercanda kan?" Akhirnya Ara bertanya dengan suara pelan dari selingan isak tangisnya.
Emil membelai seluruh wajah Ara yang basah karena dominasi keringat, dan air mata. Syukur Ara tidak menolak sentuhan Emil. Sesudahnya Emil menangkup kedua pipi Ara.
"Nggak, Sayang. Ada calon anak kita di sini," ujar Emil sambil membelai perut Ara dengan satu tangannya.
Keduanya terenyuh. Terutama Ara. Ia menunduk menatap tangan besar Emil yang menyebar di atas perutnya yang tertutup kaus rumahannya. 'Anak kita' adalah dua kata yang mampu membuat jantung Ara berdetak dua kali lipat. Hati dan perasaannya menghangat. Tapi ...
Ara menepis tangan Emil, membuat suaminya itu harus mengingatkan dirinya sendiri untuk lebih bersabar dan memaklumi kondisi Ara.
"Tapi aku masih mau sekolah, Gemilang!" Ara bersuara dengan nada tinggi. "Paling nggak enam bulan lagi sampe aku ujian. Kamu pikir ... kamu pikir aku bisa sembunyiin perut aku yang nanti buncit!" sembur Ara sambil menunjuk dada Emil berkali-kali.
Di sisi lain, Emil bersyukur sekaligus menahan tawa. Setidaknya Ara tidak berpikiran untuk menggugurkan calon anak mereka, Ara hanya berpikir bagaimana cara menyembunyikan perutnya yang nanti akan membesar. Membayangkan tubuh Ara menjadi montok dengan perut besar membuat Emil ingin tertawa lebar. Ups, untuk saat ini dia harus menahannya.
"Terus, kamu nggak suka hamil anak aku? Kamu mau marah sama Allah?" tanya Emil dengan nada yang dibuat semelas mungkin.
Ara memukul lengan Emil, keras sekali sampai Emil mengaduh. "Jangan sembarangan kamu!"
Bermain cantik. Itulah yang Emil sedang lakukan. Ia akan memanfaatkan pengalamannya dalam berakting untuk mengolah perasaan Ara. Karena Emil tahu, Ara tidak mungkin tidak menyayangi calon anak mereka. Ara hanya kaget dan bingung. Di sinilah peran Emil sebagai seorang suami dan laki-laki yang lebih dewasa berperan. Emil harus membantu Ara melewati fase ini.
"Aku emang takut, aku juga bingung, tapi ..." ucap Ara pelan, lalu menunduk dan menyentuh perut ratanya sendiri. "... aku sayang sama anak kita." Air mata Ara menetes mengingat bahwa dirinya kini membawa satu nyawa dalam rahimnya. Anaknya dan Emil.
Ada getaran dalam hatinya yang sulit didefinisikan. Di usianya yang ke-17 tahun, ia sudah hamil. Kalau ia bisa menjaga kandungannya, maka sembilan bulan ke depan, saat usianya sudah delapan belas tahun, ia akan menjadi seorang ibu. Dan Emil akan menjadi ayah.
Emil mengangkat wajah Ara, menguncinya dengan kedua telapak tangannya. Perlahan ia menghapus air mata yang mengalir dari mata indah Ara. Dikecup kening Ara lembut dan khidmat. Emil ingin memberi tahu bahwa istrinya itu tidak sendirian. Akan ada Emil yang selalu di sampingnya. "Aku juga sayang sama kalian, kamu dan anak kita. Kelak, anak kita akan jadi anak yang luar biasa. Kita akan terus sama-sama untuk menemani anak kita yang luar biasa itu. Kamu mau, kan?" tanya Emil sambil tersenyum. Senyum Emil bertambah lebar saat tangannya yang menangkup wajah Ara bergerak naik turun.
"Makasih, Sayang. Cinta kamu, Mutiara."
"Cinta kamu, Gemilang."
---
Salam,
rul
KAMU SEDANG MEMBACA
Celebrity's Girl
RomanceAra hanyalah seorang gadis biasa-biasa saja. Usianya baru 17 tahun. Pelajar, dan punya dua sahabat yang sangat populer di sekolah. Yang mereka tidak tahu adalah bahwa Ara sudah bersuami. Emil selalu dielu-elukan kemana pun langkahnya berpijak. Seora...
