Playlist🎧
• Tory Kelly - Paper Heart
🌷🌷
Seperti hari-hari sebelumnya, Rara keluar dari rumah dengan wajah cemberut. Mata sayu, bibir melengkung kebawah, dan hidung kembang kempis. Seperti baru saja melakukan perang dunia ketiga entah dengan siapa.
Adit tahu, penyebabnya sudah pasti karena calon mertua-nya -- Karin.
Dia tahu seberapa buruk hubungan Rara dengan Ibunya. Dia juga tahu apa yang menjadi alasan kenapa Rara begitu membenci Karin. Adit melihatnya dengan mata kepalanya sendiri tiap kali laki-laki itu mengunjungi rumah Rara saat dirinya masih menjadi kekasih Kila. Betapa Karin selalu memuji Kila dibandingkan Rara. Betapa Karin memberikan kasih sayang lebih kepada Kila, namun tidak kepada Rara. Dan yang lebih parahnya lagi, betapa sering Karin membanding-bandingkan Rara dengan Kila di depan teman-temannya atau bahkan di depan Adit sendiri.
Gadis itu sampai menangis ketika Karin melakukan itu, dan Adit menjadi iba karenanya. Dan karena itu juga, naluri untuk melindungi gadis itu pun muncul.
Entah mengapa, setiap kali Adit melihat Rara menangis, ada perasaan aneh yang menyelusup masuk ke hatinya. Seperti ingin segera membawa gadis itu kedalam pelukannya. Seperti ingin segera memberikan senyum pada wajah manis gadis itu.
Hari berganti hari, saat Adit semakin mengenal pribadi Rara, dia mulai mempertanyakan perasaannya. Apakah benar perlakuan dia kepada gadis itu selama ini hanyalah sebatas iba atau memang... dia mulai jatuh cinta kepada gadis itu?
Entahlah.
Mungkin dia memang sudah jatuh cinta. Bahkan, sayang.
"Muka jangan ditekuk mulu apa, Ra," sindir Adit seraya memasangkan helm ke kepala Rara dengan lembut.
Rara hanya terdiam, tidak peduli dengan sindiran Adit. Bibirnya masih ditekuk dan bola matanya menerawang kebawah. Rara memang terlihat seperti marah. Namun dibalik sikap marahnya itu, Adit tahu kalau sebenarnya gadis itu juga terluka. In the inside.
Adit menghela napas. "Is it because your mom? Again? Padahal gue udah berhasil bangunin lo dari pagi, lho."
Bola mata Rara bergerak keatas, menatap milik Adit. Jengah mendengar nama Ibunya disebut-sebut.
"Menurut lo?" Rara balas bertanya, kesal. Seakan pertanyaan Adit adalah pertanyaan paling konyol yang pernah Rara dengar. "Udah, ah. Ayo, jalan."
Rara kemudian memanjat motor Adit dan duduk dibelakangnya. Ia meletakkan tas ranselnya di depan dada, bermaksud menjauhi hal-hal yang tak diinginkan.
"Yaelah, masih aja takut, Ra. Emang itu lo segede apa, sih? Perasaan nggak gede-gede amat. Lebay banget, deh--AW! AW! AW! SAKIT!"
Adit kontan menjerit kesakitan ketika Rara baru saja mencubit lengan malangnya tanpa ampun. Dia berusaha menarik tangan Rara menjauhi lengannya, namun ternyata gadis itu malah lebih kuat dan semakin memperkuat cubitannya hingga membuat Adit berteriak lebih kencang.
Ternyata kalau Rara marah, kekuatannya bisa melebihi laki-laki manapun. Dan bahkan, sikapnya jadi menyebalkan.
"Oke! Oke! Gue--gue minta MAAF! Gue minta maaf!" Adit memukul-mukul punggung tangan Rara berulang kali seraya memohon dengan wajah meringis tak terkontrol. Berharap dengan melakukan tindakan itu, Rara akan melepaskan cubitan mautnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sleeping Rara [On Editing]
Teen FictionRara (15) hanya memiliki dua hobi, yaitu tidur dan... Tidur. Tidak terhitung berapa kali Rara tidur dalam waktu 24 jam. Makanya Rara dijuluki Sleeping Rara oleh seantero sekolah karena kebiasaannya yang suka tidur di sekolah. Tapi ini aneh dan la...
![Sleeping Rara [On Editing]](https://img.wattpad.com/cover/81933868-64-k231581.jpg)