But for me, all I know is
It's always been you, love
It's always been you, my love
[Always Been You - Marie Hines]
🍃🍃
"Pagi, Pa, Ma, Kila," sapa Rara sesampainya ia di meja makan dengan seragam sekolah lengkap.
Hari Sabtu, pengambilan raport dan acara Natal di sekolahnya. Waktunya seorang Rara menunjukkan suaranya di depan seluruh murid SMA Nusa Bangsa.
Entah kenapa, hari ini ia bangun lebih cepat dari biasanya--nggak juga, sih--maksudnya sudah hampir seminggu ini, ia selalu bangun lebih pagi dari biasanya. Cuma untuk beberapa hari kemarin, Rara memutuskan untuk menetap di kamar saja dan tidak keluar kemana-mana karena memang sekolah libur. Dan karena ia sedang tidak mood untuk jalan, even teman-temannya sudah berulang kali mengajaknya hangout.
Siapa lagi kalau bukan karena Adit yang membuatnya jadi seperti ini.
"Tumben kamu udah bangun jam segini? Biasanya kamu masih molor," tanya Karin dengan alis bertaut. "Biasanya Mama harus terpaksa teriak-teriak dulu di kamar kamu buat bangunin kamu."
Hati Rara sedikit mencelos mendengar pertanyaan Mamanya yang seolah menyatakan kalau dirinya ini anak yang selalu menjadi beban bagi orang tua. Tapi ia langsung mengusir pemikiran itu dan memikirkan hal lain yang lebih penting.
"Hari ini Mama ambilin raportku, ya. Jam 9 udah di sekolah," info Rara.
"Terus kenapa kamu bangun pagi?" tanya John.
"Aku mau ngurusin acara Natal dulu disekolah."
"Kayak penting banget sampe kamu bela-belain bangun sendiri tanpa harus Mama yang bangunin," celetuk Karin.
"Iya, dia udah jarang tidur loh, sekarang, Ma, gara-gara udah punya kesibukan baru," sahut Kila tiba-tiba.
Rara sontak melototi kakaknya. Penting banget nggak sih Kila ngomongin itu? Ia sama sekali tidak mau orang tuanya tahu tentang kesibukannya.
John mengangkat kedua alisnya. "Sibuk apa kamu, Ra?"
Pandangan Rara beralih ke John. "Sibuk--"
"Nyanyi dia, Pa," sahut Kila acuh tak acuh, benar-benar tidak memerhatikan ekspresi Rara yang seolah sudah siap membunuh Kila kapan saja dan dimana saja, tidak peduli dengan keberadaan orang tuanya.
"Kamu bisa nyanyi?" tanya Karin, syok.
Helaan napas keluar dari mulut Rara dengan terpaksa. Ia hanya menganggukkan kepalanya sebagai respon dari pertanyaan Karin.
"Sekarang dia udah manggung dimana-mana lho, Pa, Ma," tambah Kila dengan raut wajah tak berdosa.
Kaki Rara lantas menginjak kaki Kila dengan tidak manusiawi sehingga membuat kakaknya itu memekik. Kini Kila melototi Rara seolah berkata salah-gue-apa. Dan Rara membalasnya dengan tatapan gue-baru-tahu-kalo-lo-seember-itu.
"Kalian kenapa, sih? Dan kamu Rara, kenapa kamu gak bilang sama Mama-Papa kalo selama ini kamu manggung? Pantesan selama ini kamu pulang malem terus. Mama kirain kamu ada kerja kelompok, ternyata kamu malah keleweran kemana-mana," celoteh Karin.
Keleweran? Itu bukan keleweran, plis! Itu namanya mencari kebahagiaan yang nggak pernah gue temuin dirumah ini!
KAMU SEDANG MEMBACA
Sleeping Rara [On Editing]
Teen FictionRara (15) hanya memiliki dua hobi, yaitu tidur dan... Tidur. Tidak terhitung berapa kali Rara tidur dalam waktu 24 jam. Makanya Rara dijuluki Sleeping Rara oleh seantero sekolah karena kebiasaannya yang suka tidur di sekolah. Tapi ini aneh dan la...
![Sleeping Rara [On Editing]](https://img.wattpad.com/cover/81933868-64-k231581.jpg)