24' Grateful

2.6K 142 1
                                        

A/N

Sorry, i'm not in the mood to put the song lyrics in here :(  and sorry again if i'm late :( love u guys, please dont be mad at me:(

•••

Bodoh.

Khanza merasa keputusannya untuk pulang bareng dengan Dio adalah kesalahan besar. Tidak seharusnya ia diam saja ketika Dio mengajaknya pulang bareng. Dan kini apa akibatnya? Dia merasa takut. Takut untuk jatuh cinta. Apalagi calonnya adalah Dio, cowok yang dari awal Khanza benci karena telah menyakiti sahabatnya dua kali.

Dio adalah cowok brengsek yang nggak punya hati sama seperti Ayahnya. Berulang kali Ayahnya menyakiti Ibunya dan membuatnya menangis. Dan itu sebabnya sampai sekarang Khanza belum memiliki pacar. Dia harus menetapkan standar yang tinggi dalam mencari teman hidup, agar ia tidak mendapatkan yang seperti Ayahnya.

Khanza tidak ingin nasibnya menjadi seperti Ibunya.

Menyedihkan.

"Khan," panggil Dio tiba-tiba, menyadarkan Khanza dari lamunannya.

"Hm?"

"Gue mau bilang makasih."

Khanza lantas menatap Dio dengan dahi berkedut. "Buat apa?"

Dio sekilas menatap Khanza sebelum kembali memusatkan perhatiannya kedepan. "Kemarin. Lo udah buat bokap gue berubah pikiran."

Khanza lalu memalingkan wajahnya ke jendela. "It's not me. It's you, Dio. Lo sendiri yang buat bokap lo berubah pikiran. Bukan gue."

Kini giliran Dio yang mengerutkan keningnya. "What do you mean?"

"Bokap lo liatin lo main drum. Dan dia liat senyum lo. Senyum yang nggak dibuat-buat. Seolah lo lagi jatuh cinta. That's why he changed his mind."

Entah kenapa, Dio ingin tersenyum. "Tapi gue yakin lo juga salah satu alasan kenapa bokap gue berubah pikiran secepat itu."

"Ya terserah sih lo mau nanggepinnya gimana. Gue nggak peduli," balas Khanza datar.

Dio lalu mencuri pandang ke Khanza yang tengah memandang keluar jendela mobil.

Kenapa--kenapa setelah sekian lama Dio bertemu dengan Khanza--sebagai sahabat mantannya sejak masa SD--Dio baru sekarang menyadari kalau Khanza itu ternyata... cantik.

"Di, depan belok kanan, ya."

Dio tersentak dan langsung menatap kedepan ketika Khanza memutar kepalanya dari jendela. "I-iya."

Kedua alis Khanza bertaut. Apa Khanza tidak salah lihat? Ia baru saja menangkap basah Dio yang tengah memerhatikannya entah sejak kapan. Apa mungkin ada yang salah dengan mukanya?

"Ini bukan, rumah lo?" Dio menunjuk sebuah rumah minimalis yang terletak di sisi kiri jalan dengan jari telunjuknya.

Bola mata Khanza mengikuti arah telunjuk Dio. "Ih, iya. Kok lo tau?"

Dio menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Khanza. "Kan dulu kalo nggak salah gue pernah nganterin Rara kerumah lo, deh. Jadi, gue masih inget-inget dikit," sahut Dio dengan senyum kecil menghiasi wajahnya.

Sleeping Rara [On Editing]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang