27' We All Make Mistakes

2.5K 139 1
                                        


Entah Rara-nya yang terlalu bodoh untuk menyadarinya atau memang Kila-nya yang tidak pernah terbuka kepada Rara soal perasaannya kepada Adit. Tapi memang sepertinya Rara yang nggak peka, perubahan sikap Kila disaat Adit menjemputnya di sekolah waktu itu sebenarnya sudah menjadi pembuktian.

Rara mencoba mendekatinya, tapi kaki Kila malah bergerak mundur. "Just don't."

Hati Rara merasa ditusuk. "I'm sorry. I--"

"I trusted you, Ra. Gue berusaha jauhin lo dari Adit karena gue nggak mau lo sakit hati. Gue sayang sama lo sebagai kakak. Tapi kenapa lo tega?" isak Kila.

Mata Rara berkaca-kaca. Ia ingin menangis, ia merasa bersalah, tapi seketika ia mengingat betapa Kila selalu dibanggakan oleh Mama dan Papanya. Betapa Kila selalu memiliki apa yang Rara inginkan, kasih sayang seorang Ibu dan Ayah.

Dalam sekejap, amarah itu muncul. "Jangan pernah lo ngerasa cuma lo doang yang sakit hati disini, Kil. You're not the only one who's broken."

Kini Kila menatapnya dengan kening berkerut. "What?"

"Selama ini gue juga sakit hati, Kil. Gue sakit hati karena Mama selalu ngebanggain lo daripada gue. Karena Mama selalu muji lo, cuma lo, dan hanya lo di depan temen-temennya," Rara mendesis tajam. "Dia lebih sayang lo daripada gue. Bahkan Papa juga diem aja ngeliat Mama pilih kasih sama gue. Mereka tuh nganggep gue gak ada! Mereka nganggep gue cuma seorang anak yang jadi beban buat mereka!" seru Rara, kini air mata sudah mengalir deras di wajahnya.

Wajah Kila kembali melembut. Air matanya sudah berhenti mengalir, tapi wajahnya masih basah. Tatapannya gamang dan kabur, entah apa yang ada di pikiran Kila saat ini. Tapi setelah itu keduanya kembali terdiam, tenggelam dalam perasaan masing-masing. Hanya ada suara tangis yang mengisi keheningan.

Tiba-tiba keduanya tersentak ketika pintu kamar Karin dan John terbuka. Rara buru-buru berbalik dan menghapus air matanya. Ia bisa mendengar suara langkah kaki mendekatinya. Dan tak lama kemudian tubuhnya menegang ketika seseorang memeluknya dari belakang.

"Mama minta maaf, Ra." Kalimat sesingkat itu cukup membuat air mata Rara merembes keluar, bergulir turun membasahi wajahnya. "Mama minta maaf. Mama salah. Mama nggak maksud pilih kasih sama kamu. Mama minta maaf, ya Sayang. Mama salah." Kata-kata itu terdengar sangat tulus.

Hati Rara rasanya ikut menangis bersamaan dengan air matanya yang tidak bisa berhenti. Ia lantas berbalik dan langsung memeluk Karin dengan erat. Tangisnya semakin deras ketika Karin mengusap-usap punggungnya. Hatinya hancur. Hancur berkeping-keping, seolah Tuhan sedang menjamah hatinya sampai ke lubuk yang paling dalam.

"Bukannya Mama nggak pernah muji kamu di depan temen-temen Mama, tapi yang selama ini selalu menonjol 'kan kakak kamu. Sementara kamu hobinya tidur mulu dari dulu. Mama udah sering tegur kamu, tapi kamu nggak denger. Kadang kalo kita mau orang berbuat seperti yang kita inginkan, kita harus melakukannya lebih dulu," ujar Karin dengan nada selembut mungkin. "Dan satu hal, Mama nggak pernah nganggep kamu sebagai beban, Sayang. Kalo Mama nganggep kamu gitu, kamu udah gak disini dari dulu."

Rara terisak. Karin ada benarnya juga. Apa yang mau dibanggakan dari seorang Rara? Rara yang suka tidur dan nggak pintar?

"Rara, Mama juga punya kelemahan sama seperti kamu. Sejahat-jahatnya Mama, Mama tetep sayang sama kamu, Nak. Percaya sama Mama," ucap Karin lembut, sambil mengecup puncak kepala Rara.

Sebersit perasaan damai menerjang hati Rara, menghangatkan, dan menghapus setiap luka yang berbekas disana.

Hanya karena sebuah pelukan. Hanya karena sebuah kata-kata yang menenangkan. Dan hanya karena sebuah kecupan penuh kasih sayang.

Sleeping Rara [On Editing]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang