21' Percik Romansa

2.8K 156 3
                                        

A/N

Maaf ya kalo nggak panjang hehe. Dan maaf juga kalo updatenya kadang lama kadang cepet. Yah begitulah gue, tergantung mood hoho...

Kalo gitu, happy reading!

👟👟

Dio : sori Ra, gue gak bisa ikut kalian.

Pesan singkat yang dikirim oleh Dio melalui aplikasi Line itu sanggup membuat Rara panik seketika. Usaha yang mereka lakukan dengan latihan berjam-jam sedemikian rupa setiap harinya tidak bisa dihancurkan begitu saja karena ketidakhadiran Dio. Karena tanpa drum, apalah arti sebuah lagu yang akan mereka nyanyikan.

Oleh karena itu dengan kecepatan tinggi, Adit dan Rara melaju menuju rumah Dio, meninggalkan makanan mereka yang masih sisa.

Lagi-lagi, sisa. Dan akhirnya secara tidak langsung mereka membuang makanan itu dengan sia-sia. Sedangkan banyak orang diluar sana yang kelaparan karena nggak ada uang buat beli beras. Betapa berdosanya Rara sudah dua kali melakukan itu.

Rara : gue sama Adit otw krmh lo. Send location gercep.

Dio : ngapain?

Rara : gk usah banyak tanya.

Dio send location.

"Nih, lokasinya," ujar Rara sambil menunjukkan lokasi yang dikirim oleh Dio kepada Adit.

"Untung deket, kalo jauh ogah amat gue jemput dia," sahut Adit ketus.

Adit jelas kesal karena Dio sangat menyusahkan dirinya. Kenapa juga Dio tiba-tiba nggak bisa ikut acara Natal sekolahnya? Padahal kemarin-kemarin dia bilang bisa. Kenapa cowok itu dengan gampangnya membatalkan janji tanpa alasan yang jelas? Berarti dia bukan gentleman, kalau omongannya nggak bisa dipegang. Ditambah lagi Rara yang ngebet kepingin jemput Dio karena alasan yang menurutnya sepele. Memangnya tanpa drum, penampilan Soulvibe jadi jelek? Nggak juga, tuh. Toh, mereka juga bisa akalin jadi akustik saja, nggak usah full band.

Ck.

Lima belas menit kemudian, Adit dan Rara akhirnya sampai di depan rumah Dio yang cukup besar dan mewah. Butuh waktu yang cukup lama untuk Dio membuka pintu setelah diketuk beberapa kali.

Terlihat kerutan di dahi Dio ketika melihat siapa yang datang. "Kalian ngapain kesini?"

Adit berdecak. "Pake nanya lagi. Jemput lo, bego."

Dio menatap Adit tidak suka. "Nggak guna."

"Nggak guna, gimana?" Rara bersuara dengan nada kecewa terselip di dalamnya. "Kita udah latihan hampir setiap hari cuma untuk acara ini. Apalagi nanti ada temen bokapnya Khanza yang katanya produser musik. Dan lo malah nggak dateng? Sia-sia usaha kita, dong?"

"Bukan gitu, Ra. Gue--" Perkataan Dio terhenti. Sejenak cowok itu terdiam sambil menatap mereka berdua dengan tatapan putus asa. Lalu detik kemudian Dio menghela napas, "gue... gue emang nggak bisa. Karena bokap."

"Bokap?"

Dio mengangguk lemah. Sekarang Rara mengerti kenapa Dio tidak bisa ikut. Rara jadi mengingat cerita Dio mengenai Ayahnya yang super nyebelin, mati-matian menjauhkan anaknya dari impiannya demi sebuah perusahaan. Rara tidak habis pikir bagaimana seorang Ayah tidak mengerti perasaan anaknya. Sama seperti yang dialami oleh Rara sendiri. Mereka hanya mementingkan diri mereka sendiri tanpa tahu apa yang dirasakan anaknya.

Sleeping Rara [On Editing]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang