35' Fight for Her

2K 124 9
                                        


Selamat membaca, folks!

<•>

"Kamu... gimana kabarnya sekarang?"

Akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari mulut Adit, setelah sekian lama ia memendamnya selama hampir setengah jam perjalanan yang entah kenapa terasa begitu panjang.

Gadis disebelahnya tidak langsung menjawab, ia memberi jeda sebelum akhirnya berkata dengan suara pelan, "Baik." Tak lama kemudian, Rara menoleh menatap Adit. "Kamu?"

Of course not when i just found you smiling with another man. "Gue baik." Adit memaksakan sebuah senyuman pada wajahnya. Ternyata berpura-pura itu tidak semudah yang Adit bayangkan.

Hening.

Rasanya aneh, berdua dalam mobil dengan mantan pacar sekaligus mantan sahabat tanpa mengobrol apapun, sementara masalah diantara mereka belum terselesaikan dengan benar.

Bagi Adit, putus melalui chat itu sama sekali nggak tegas. Dia butuh penjelasan lebih jelas dari mulut Rara secara langsung. Alasan kenapa gadis itu tiba-tiba memutuskan hubungan mereka dan lebih memilih bersama dengan laki-laki lain. Dia ingin langsung mendengarnya dari mulut Rara.

Namun, dia tidak punya keberanian untuk bertanya.

Hatinya belum siap untuk kemungkinan yang terburuk.

"Kamu udah selesai kuliah, dong, berarti?"

Pikiran Adit terusik ketika tiba-tiba Rara kembali bersuara. Ia menoleh sekilas menatap gadis itu, kemudian tersenyum simpul. "Iya, it's done."

"Then, you're staying here for good?"

Adit mengangguk tanpa menatap Rara. Adit nggak tahan menatap bola mata gadis itu lama-lama, bisa-bisa ia sudah melakukan hal yang tidak wajar seperti contohnya memeluk secara tiba-tiba--atau mungkin kemungkinan terparah, menciumnya.

"You can come back to the band, if you want."

Dan pertahanannya runtuh begitu saja ketika kalimat itu keluar dari mulut Rara. Kini, laki-laki itu menatap Rara lebih lama dari biasanya. Seperti black hole, ia seakan tertarik kedalam keindahan iris mata gadis itu. Ada sesuatu di dalam matanya yang sepertinya benar-benar mengingini Adit untuk kembali ke band. Diluar kesadarannya, Adit sudah ingin menarik Rara kedalam dekapannya kalau saja Rara tidak menjerit.

"Adit, kalo nyetir liat kedepan!" 

Adit sontak menyentakkan kepalanya kedepan, menatap jalanan yang untungnya sepi karena sudah larut malam.

Adit bego.

"So-sori," sahut Adit terbata-bata.

"Masih bagus jalanan sepi, Dit. Gimana kalo rame?" tegur Rara pelan.

"Kalo rame, paling kita ujung-ujungnya masuk rumah sakit." Entah kenapa Adit malah bercanda.

"Ih, nggak lucu tau nggak?" Rara merengut menatapnya sebelum kemudian kembali memandang keluar jendela. Adit bisa melihat melalui sudut matanya--pantulan wajah gadis itu pada kaca jendela, sudut bibirnya tertarik keatas secara diam-diam, membentuk senyum tipis yang hampir tak terlihat.

Seakan terhipnotis, Adit juga ikut tersenyum. "I'll think about it."

Rara kembali menatapnya. "Apa?"

Pandangan mereka bertemu.

"Kembali ke band. I'll think about it."


[.]

Sleeping Rara [On Editing]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang