15' I Think I

3.1K 173 1
                                        

I think I love you
But it must be so, cause I miss you
Without you, I cannot do anything
And you are always on my mind

[I Think I - Byul (Ost. Full House)]

🐼🐼

"Koefisien x2 itu harus 1, terus konstanta pindah ke ruas kanan, terus
..." Adit menjelaskan dengan seksama tentang materi Persamaan Kuadrat pada pelajaran Matematika.

Rasanya kepala Rara mau pecah. Tapi mau tidak mau, dia harus belajar dengan sungguh-sungguh. UAS tinggal dua hari lagi. Dan Rara semakin panik ketika menyadarinya. Apalagi tiga hari telah terbuang karena Adit sakit.

"Sekarang latihan soal ya," tukas Adit, lalu mengambil selembar kertas dan pulpen.

Ia menuliskan 10 soal untuk Rara. Sementara Adit menulis, Rara tanpa sadar memerhatikan Adit dengan seksama. Jarak mereka cukup dekat. Ia bisa jelas melihat secara detail wajah Adit yang bersih dan mulus itu. Ada satu tahi lalat kecil di pelipis kanan Adit. Dari samping pun, Adit terlihat sangat tampan.

Kini bola matanya beralih ke bibir tipis Adit. Seketika kejadian di kamar Adit pun terngiang di kepalanya. Ketika Adit ingin mencium bibirnya. Ketika jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ketika makhluk bernama Kila Syafira datang secara tiba-tiba disaat yang paling tidak tepat.

Rara sontak menggelengkan kepalanya dengan cepat, menyadari pikirannya yang tidak masuk akal. Kenapa juga dia kesal ketika Kila menghentikan aksi Adit untuk menciumnya? Tidak berarti Rara mengharapkannya bukan?

Bodoh.

Adit yang menyadari tingkah Rara, mengerutkan kening. "Kenapa geleng-geleng?"

Rara tersentak. "Ng-nggak. Udah lanjutin nulisnya," jawab Rara gugup.

Untungnya, Adit tidak menyadari kegugupannya. Makanya cowok itu kembali melanjutkan aktivitasnya menulis soal.

Hembusan napas keluar dari mulut Rara. Tadi rasanya tuh kayak Rara hampir tertangkap basah mencuri underwear milik Adit. Deg-degan setengah mampus.

"Sekalian jawabannya juga ya, Dit," tambah Rara setelah jeda cukup lama.

"Boleh sih, tapi gue gak tanggung jawab kalo lo di DO dari sekolah," sahut Adit santai, fokusnya masih terarah pada kertas berisi angka-angka jahanam.

Tangan Rara mendorong lengan Adit dengan wajah cemberut. "Ish, nggak bisa diajak becanda lo mah."

Adit berdecak sambil meletakkan pulpennya keatas kertas. Lalu ia menatap Rara dengan wajah serius.

"Karena sekarang bukan waktunya becanda, Rara. UAS udah tinggal lusa, dan lo masih ada dua materi lagi yang belom dipelajarin," jelas Adit. Ia lalu menghembuskan napas sebelum melanjutkan, "gue nggak mau lo di DO, Ra. Gue care sama lo. Jadi tolong mulai sekarang lo harus serius belajar."

Speechless.

Rara mendadak bisu.

Yang tadinya hati Rara kesal, kini menjadi leleh. Ia tersentuh sekaligus merasa tidak enak karena telah menyusahkan Adit. Padahal tujuan Adit mengajarinya itu benar-benar tulus. Dan semua yang dikatakan Adit memang benar.

Sangat benar.

***

"Adit! Rara! Makan malam udah siap! Berhenti dulu belajarnya!" teriak Amanda dari ruang makan.

Mendengar itu, Adit dan Rara menghentikan aktivitasnya. "Iya, Ma!" sahut Adit, lalu bangkit dari duduknya. Ia menawarkan tangannya untuk membantu Rara berdiri. "Ayo, makan dulu."

Sleeping Rara [On Editing]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang