Kita tetap butuh ruang sendiri-sendiri
Untuk tetap menghargai rasanya sepi
[Ruang Sendiri - Tulus]
🍉🍉
"Eh, kemarin gue dapet kabar bandnya Adit manggung ya di kafe Kejora?" tanya Nala ketika mereka sedang berkumpul di kantin, seperti biasa.
"Masa?" tanya Khanza, yang selalu ketinggalan informasi penting.
"Tuh ada vokalisnya, tanya aja langsung ama orangnya," sahut Azof, sambil melirik Rara yang sedang melamun memikirkan sesuatu.
"Ra," panggil Khanza.
Rara tidak bergeming. Matanya menerawang entah kemana. Aneh, biasanya disaat seperti ini, Rara akan tetidur. Tapi nyatanya ia malah melamun.
"Ra," panggil Khanza sekali lagi.
Tetap tidak ada respon.
Dengan kesal, Nala berdiri dari duduknya dan berpindah tempat kesebelah kanan Rara dan bersiap-siap meneriakan namanya di telinga Rara.
"RARA!"
Alhasil, Rara tersentak kaget dan tidak sengaja melemparkan isi gelas yang di genggamnya tepat ke wajah Nala.
Nala membulatkan mata dan mulutnya secara bersamaan kala Rara berusaha mengeringkan beberapa bagian seragam Nala yang basah. Sementara Khanza, Mika, dan Azof, tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajah Nala yang unyu. Bahkan, Dori yang jarang memperlihatkan giginya, juga ikut tertawa kecil.
"RARA TUKANG MOLOR! Dandanan gue yang cantik ini jadi luntur gara-gara lo tau nggak!" seru Nala kesal setengah mati.
Untuk seorang Nala yang sangat memerhatikan kecantikannya, wajar kalau Nala jadi kalang kabut jika make up-nya yang sudah ia poles berjam-jam lamanya luntur begitu saja karena kelalaian satu orang.
"So-sori, Na. Gue nggak sengaja," ucap Rara, merasa bersalah.
"Lebay lo, Na. Cuma luntur sedikit doang aja, emang lo kesekolah mau jadi tante-tante girang atau jadi pelajar? Pake makeup segala," Khanza secara tidak langsung membela Rara.
Nala mendengus. "Heh, dandan itu penting supaya muka gak pucet kayak mayat. Lagian gue dandan juga nggak menor-menor banget kok. Iya kan, Mik?" Nala menoleh ke Mika yang tengah memperhatikannya.
Mika sontak salah tingkah. "I-iya aja deh gue. Entar pulang, anggota tubuh gue ada yang ngilang lagi. Iihh..." Mika bergidik sendiri.
Khanza tertawa. "Si bego."
Nala memutuskan mengacuhkan Mika dan beralih ke Rara. "Lo kenapa juga sih? Melamun gitu, emang lagi ada masalah?"
Rara menghela napas sesaat sebelum menjawab, "si Adit nggak masuk dan gue pikir, ini salah gue."
Alis mata Nala terangkat. "Cami gue nggak masuk?"
"Cami?" Mika bertanya.
Nala nyengir. "Calon suami."
"Najis," komen Mika. "Mana mau Adit jadi suami lo, gue aja gak mau apalagi dia!" tambahnya, dengan ekspresi geli.
Nala melotot. "Bawel lo ah, Mik! Siapa juga yang mau jadi istri lo! Amit-amit jabang bayi, deh!"
"Sssttt!" Khanza melototi Nala dan Mika secara bergantian, lalu bertanya kepada Rara, "emang si Adit kenapa gak masuk, Ra?"
Rara mengedikkan bahunya. "Gak tau. Line gue nggak dibales sama dia."
KAMU SEDANG MEMBACA
Sleeping Rara [On Editing]
JugendliteraturRara (15) hanya memiliki dua hobi, yaitu tidur dan... Tidur. Tidak terhitung berapa kali Rara tidur dalam waktu 24 jam. Makanya Rara dijuluki Sleeping Rara oleh seantero sekolah karena kebiasaannya yang suka tidur di sekolah. Tapi ini aneh dan la...
![Sleeping Rara [On Editing]](https://img.wattpad.com/cover/81933868-64-k231581.jpg)