32' Is not a Last Goodbye, right?

2.7K 149 13
                                        

Lama ya nunggu update-nya? Mohon maaf yang sebesar-besarnya, yaaaaa, baru bisa update sekarang. Sebenarnya sih alasannya karena gue lagi sibuk nonton channel-nya Miawaug si gamers, plus sibuk main game.

Hehehehehehe.

Ampun, kakak-kakak.

***

"Oh."

Hanya itu yang keluar dari mulut Rara sebagai balasan, bukan respon yang Adit bayangkan pada awalnya. Ia mengira Rara akan marah atau mungkin menangis, karena sejujurnya Adit juga sedih, galau, bingung, dan dilema akut. Ia berani bersumpah kalau dirinya juga tidak ingin seperti ini. Berpisah dari gadis yang disayanginya sama saja ia bunuh diri secara perlahan-lahan dan menyakitkan.

Tapi masalahnya, bersekolah di institut seni terbaik di New York adalah impian terbesarnya sejak kecil. Dia ingin sekali bersekolah disana untuk menimba ilmu musik sebanyak-banyaknya dan mengembangkan talentanya dalam bermusik. Ia ingin menjadi yang terbaik dari yang terbaik. Apalagi disaat kedua orang tuanya--pada akhirnya setelah sekian lama--mengijinkannya untuk menggapai impiannya. Butuh perjuangan untuk membuat mereka mengerti kemauan Adit, makanya dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini hanya karena asmara.

Toh, mereka masih tetap bisa menjalani hubungan mereka sebagai pasangan walaupun statusnya berubah menjadi LDR alias Long Distance Relationship.

"Kamu nggak marah?"

"Aku masih syok," jawab Rara polos, pandangannya menerawang entah kemana. "Ini terlalu dadakan buat aku."

Adit menghela napas. "Maaf."

Keheningan menghampiri mereka. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Rara masih sibuk menerka-nerka apa yang terjadi, sementara Adit sibuk memikirkan bagaimana perasaan Rara saat ini. Ia takut, takut Rara akan membuat keputusan yang tidak-tidak.

Hampir setengah jam mereka tinggal dalam diam, tidak bersuara sambil menatap pemandangan mobil berlalu-lalang--ralat, sambil melamun maksudnya. Sampai akhirnya salah satu dari mereka memutuskan untuk berbicara.

"Aku pikir ini hari yang paling membahagiakan buat aku," ucap Rara, membuat Adit refleks menoleh menatapnya. "Aku dapet kejutan yang belum pernah aku alami. Tapi ternyata aku salah. Aku malah dapet satu kejutan lagi yang menurut aku ini adalah yang terburuk."

Hati Adit seketika menciut ketika rentetan kalimat yang keluar dari mulut Rara terdengar sangat menyedihkan. Ini hari ulang tahunnya yang seharusnya menjadi hari terindah bagi Rara, tetapi Adit malah mematahkan kebahagiaan itu.

"Aku minta maaf," lirih Adit. "Maaf karena aku pilih hari ini untuk kasih tau kamu. Aku terpaksa, karena aku..." Lidahnya mendadak terasa pahit untuk meneruskan kata-kata selanjutnya. "Aku... berangkatnya besok."

Rara sontak menoleh, sorot matanya menyiratkan keterkejutan nyata. "Kamu gila, ya?"

"Tapi yang ini hanya sebentar, kok. Aku cuma ikut audisi, cari apartemen, abis itu balik lagi untuk nunggu keputusan dari sananya. Paling cuma dua minggu, nggak bakal--"

"Kenapa kamu baru bilang sekarang? Kenapa kamu nggak bilang dari kemarin-kemarin? Aku ini pacar kamu, Adit." Rara menyela frustasi, raut kecewa jelas tergurat di wajahnya.

"Karena aku belum siap. Aku masih dilema, aku takut kamu sedih. Aku takut kamu marah. Aku takut--"

"Takut aku nggak setuju?"

"Bukan--"

"Takut aku ngehalangin impian kamu?"

"Apaan, sih, kamu?" sahut Adit heran, sembari maju selangkah mendekati Rara dan kemudian menangkup kedua pipinya dengan lembut. "Aku nggak pernah mikir kayak gitu, Ra." Adit menatap Rara lekat-lekat, berusaha menunjukkan kalau dirinya tidak berbohong.

Sleeping Rara [On Editing]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang