Alexa keluar dari kamar ganti dengan raut wajah yang benar-benar ditekuk. Marsha yang melihat ekspresi sahabatnya itu tak bisa menahan tawanya.
"Wahahaha-- lo kenapa dah lex ?"tanya Marsha.
Mendengar Marsha tertawa Alexa bukannya menjawab malah mengacuhkan Marsha.
"Ehh iya deh iya, jangan ngambek dong." Ucap Marsha sambil menarik tangan sahanatnya itu.
"Gue males sama Daniel."
"Ya allahh, lo berdua kapan dah akurnya ? Perasaan berantem mulu."
"Ya siapa sih yang gak kesel kalo suaminya sendiri gak mau ngalah." Tutur Alexa dengan nada penuh kekesalan.
"Hah ? Maksud lo ??"
"Jadi gini..."
FLASHBACK ~ON~ + ALEXA POV
Aku dan Daniel masuk ke dalam ruang ganti. Aku sebenarnya lelah, namun karna memang acara yang sengaja akan diselesaikan hari ini juga terpaksa aku harus menerimanya. Mau bagaimana lagi ? Menolak saja tidak akan merubah apapun.
"Daniel, kamu keluar dulu deh. Aku mau ganti baju." Ucapku.
"Kamu mau orang-orang mikir aneh ? Lagian kita sudah suami istri. Apa susahnya sih ? Tinggal ganti baju."
Wah, apaan nih orang. Tinggal keluar aja susah, lagian orang mau ngomong apapun terserah mereka lah. Yang penting mereka gak macem-macem ya gak ?
"Lah. Kok ngegas sih ? Pokoknya gua mau ganti baju disini dan lu keluar. TITIK!" Kataku sambil menahan amarah.
Namun sepertinya kata-kataku hanya dianggap angin oleh Daniel. Ia masih tetap melepas kancing bajunya.
Aku mendengus sebal. Susah memang mempunyai tunangan, eh suami kerasa kepala sepertinya.
Daniel membuka bajunya dan memperlihatkan setiap inci perut sixpacknya.
"DANIEL!!!" teriakku sambil menutup mata.
Argghhh! Sekarang mataku sudah ternodai.
"Apa ?"
"Kamu tuh bisa gak sih sopan dikit ? Gak liat ada orang disini ? Pede banget buka baju sembarangan." Celotehku sambil tetap menutup mata.
"Kamu lupa ? Kita kan sudah menikah. Kamu istriku dan apa salahnya ?"
Pipiku seketika merona, rasanya jantungku berdetak tak karuan mendengar perkataannya.
Aku bingung. harusnya aku tidak merasakan hal seperti ini. Apa aku sudah mulai memiliki rasa ?
"Kenapa diam ?" Tanyanya polos seakan-akan tidak pernah melakukan sesuatu yang berdosa.
"Au ah."ucapku dan langsung pergi meninggalkannya.
Saat tanganku sudah menyentuh knop pintu tiba-tiba ada tangan kekar yang menahanku.
"Biar aku yang keluar." Ucapnya.
Argghh! Kenapa tidak dari tadi ?!
***
Aku mengganti pakaian sebelumnya dengan gaun berwarna putih yang desainnya tidak terlalu mewah namun sangat pas dengan ukuran tubuhku.
Untuk acara kali ini aku mengubah gaya rambut tanpa menggunakan jasa perias dari salon-salon mahal. Aku ingin tampil sesuai dengan style ku sendiri.
Sambil membentuk rambut dan memoleskan make up natural diwajahku sesekali aku menggumamkan lagu kesukaanku.
Namun tiba-tiba suara gedoran pintu mengejutkanku hingga menjatuhkan botol parfum yang ada ditanganku.
Aku menggerutu tak jelas menuju pintu, dan membukanya dengan kasar.
"Bunyi apa tadi ?" Tanya Daniel yang sudah berada didepan pintu dengan wajah sok polosnya itu.
"Lo itu kalo ngetuk pintu bisa pake perasaan dikit gak sih ?" Tanyaku tak sabaran.
"Kau berada dikamar ini sudah sejak lama. Jadi aku ngetuk pintunya agak keras, aku fikir terjadi sesuatu."jawabnya santai namun terdengar begitu formal.
"Gak usah alesan lah. Emang ada niatan bikin gua kaget kan ?" Tanyaku sambil berlalu berniat menyimpun bekas pecahan botol parfum itu.
Daniel hanya diam.
Entah kenapa dia hanya diam.
Aku memungut satu persatu beling kaca itu, sampai akhirnya satu beling tajam menancap ditelapak tanganku.
Sakit, sangat sakit.
Namun aku menahannya agar tak berteriak dan menangis didepan pria menjengkelkan yang sudah menjadi suamiku beberapa jam lalu.
Aku mencoba melepaskan beling itu dari tanganku sambil menggigit bibir bawahku agar tak mengeluarkan suara.
Sssettt.
Tanganku berhasil diraih oleh tangan kokoh yang bisa kutebak adalah tangan Daniel.
Daniel menatap mataku dalam-dalam. Sebenarnya kalau boleh jujur tatapannya membuatku takut.
"Jangan mencoba menahan rasa sakit sendiri. Kita sudah mengikrarkan janji untuk selalu bersama-bersama dalam suka maupun duka."
Aku tak kuasa menahan perih dan air mata saat Daniel mencoba menarik paksa beling yang menancap ditangaku itu.
"Sa-sa-sakitt." Gumamku.
Ia mengambil plaster yang berada dilaci meja rias dan menutup lukaku setelah beling itu tercabut.
"Dasar cengeng."ucapnya.
"Apaan sih ? Ini kan juga gara-gara lo!"
"Bukan aku. Tapi kamu yang ceroboh."
Argh! Terserah lah. Aku sudah muak satu ruangan dengan pria seperti ini.
FLASHBACK OFF & ALEXA POV END.
"Ahahahaaha.." Marsha tak bisa menahan tawanya lagi mendengar cerita sahabatnnya ini.
"Kok ketawa sih ?" Tanya Alexa dengan nada kesal.
"Hahaha..sorry sorry gua udah gak kuat." Jawab Marsha sambil masih terus tertawa.
"Lama-lama kalian semua nyeselin ya."
"Wahh, jangan gitu dong lex. Lagian juga lo lucu banget. Kalo udah nikah semua yang dilakuin itu harus sama-sama, termasuk kalo lo mau ganti baju."
"Ya tapi lo gak tau kan ? Betapa omes(otak mesum)nya dia. Siapa tau di om-om pedopil. Eww."
"Ya gak mungkin lah. Kalo emang dia pedopil, pasti lo udah diapa-apain sama dia dari dulu."
"Udah deh. Gua males bahas tu om-om sumpah."
"Yaudah deh iya. Semerdeka lu lex."
*******
"Kalau memang 'jujur' yang membuat kita menjauh. Aku rela harus terus berbohong, agar kita tetap bersama." -Athara
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
UNEXPECTED
Romance[OnGoing] .Sequel MY FIRST LOVE STORY. (bisa langsung dibaca) Memimpikan seorang pria tampan, baik hati, penyayang dan selalu melindungi tentu saja menyenangkan bukan? Bahkan tidak sedikit orang yang akan memohon agar ia menjadi sosok yang nyata. Ta...
