Part 26 : Annoying Daniel!!

1.2K 44 0
                                        

Alexa POV

"Kau menantangku? Bagaimana kalau kita lomba memasak?" tawar Daniel yang langsung disambut anggukan olehku.

"Oke! Siapa takut." jawabku yakin.

Memangnya sehebat apa dia dalam memasak? Toh biar bagaimanapun dia juga seorang pria yang gila berkerja. Tentu saja ia tak mempunyai waktu untuk belajar memasak. Benarkan?

"Jangan meremehkan begitu gadis kecil." kata Daniel sambil mengacak-ngacak lembut rambutku.

Apa ia bisa mendengar isi fikiranku?

Bagaimana mungkin ia tau sedari tadi aku meremehkannya?

Tapi, siapapun yang berada diposisiku saat ini pasti akan memikirkan hal yang sama. Wajah pria dihadapanku ini memang benar-benar tidak meyakinkan.

"Kau memang tidak terlihat meyakinkan Daniel. Kau adalah seorang pr--" belum sempat aku melanjutkannya Daniel sudah memotongnya terlebih dulu.

"Seorang pria? Kenapa seorang pria 'selalu' mendapat penilaian tidak bisa memasak? Memangnya kau tau apa tentangku?" potong Daniel dengan nada sarkastik.

Jika pria ini memang sengaja ingin membuatku kesal, maka kuakui dia berhasil.

"Hey! Aku cuman bilang kalau aku tidak yakin. Bukan menilaimu tidak bisa memasak!"kataku mengoreksi kata-katanya.

"Tapi, tetap saja itu sebuah penilaian, gadis kecil. Lalu apa yang harus kulakukan untuk meyakinkanmu?" pria itu mendekatkan wajahnya padaku, membuat jantungku tak bisa berdetak secara normal.

Hey?! Apa dia sengaja?

"Bukannya kita mau lomba memasak hari ini? Dan lagi apa kau tidak bekerja?" tanyaku sambil mengalihkan pandangan agar tak menatap matanya.

"Kau lupa aku siapa? Aku pewaris satu-satunya Arthur Company, aku bisa meliburkan diri sebanyak yang aku mau. Lagi pula tidak ada meeting apapun hari ini."kata Daniel dengan angkuhnya.

"dan untuk lomba memasak, sekarang kita hanya berdua. Tidak ada yang menilai masakan kita."lanjut Daniel.

Pria ini benar-benar sombong dengan kekuasaanya. Rasanya, tak akan ada habisnya membicarakan kejelekan orang didepanku ini.

Tapi..tunggu dulu, memangnya kenapa kalau kami cuman berdua? Bukannya bisa tetap lomba?

"Tapi, aku bisa menilai masakanmu, begitu juga sebaliknya."kataku dengan nada bingung.

"Kenapa kau ini polos sekali, Alexa? Bagaimana kalau aku mengatakan masakanmu tidak enak? Atau mungkin kau yang mengatakan masakanku tidak enak? Padahal rasanya enak. Itu bisa saja terjadi."

Apa dia bilang? Memangnya aku ini orang yang mau menang Sendiri?  Aku bukan seperti dia.

"Kau menuduhku? Aku bahkan tidak berfikir sampai kesitu!"kataku yang sudah mulai kesal.

"Aku tidak pernah bisa membaca pikiranmu. Maka dari itu aku menebaknya."kata Daniel santai.

"Tapi kalau yang tebakanmu itu salah namanya menuduh tau!"kataku dengan bibir yang sudah mengerucut.

Enak saja menuduh orang sembarangan.

"Oke. Sudah cukup. Kau tetap tidak akan menang melawanku. Bagaimana kalau aku saja yang memasak, kau tetap disini."perintah Daniel yang langsung kusambut dengan gelengan.

"Tentu saja aku harus ikut melihatmu memasak. Bagaimana kalau nantinya kau memasukan sianida ke makananku?" kataku dengan tatapan mencurigai.

Aku tidak peduli bagaimanapun reaksinya. Biar dia tau bagaimana rasanya dituduh suatu hal yang bahkan tidak kau fikirkan.

UNEXPECTEDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang