Bagian Delapan

67.4K 2.5K 20
                                        

Sedangkan Zyan hanya mematung memikirkan apa yang sudah terjadi dan dia sangat menyesal sudah menuruti keegoisannya.

Zyan berlari keluar untuk mencari Vani dan berniat akan menyelesaikan masalah ini. sebenarnya Zyan sangat merindukan gadisnya itu.

Tasya itu adalah sahabat Zyan saat Zyan tinggal di paris dulu. dan dia datang berkunjung ke indonesia hanya untuk menemui Zyan dan keluarganya. sebenarnya Tasya mencintai Zyan dari dulu tapi dia terlalu takut untuk menyatakannya.

Zyan tidak menemukan Vani di manapun dan dia berlari menuju parkiran untuk mengambil mobinya dan melajukan menuju rumah Vani.

Sedangakan Vani dia sudah ada dikamarnya dengan menagis sejadi jadinya. dan itu membuat Rani bingung pasalnya tadi Vani pulang dalam keadaan menagis dan saat ditanya oleh Rani Vani hanya menggelengkan kepala dan berlari menuju kamarnya.

Zyan sampai di depan rumah Vani dan segera mengetuk pintu rumah Vani.

"nak Zyan ada apa yaa?"
tanya Rani saat melihat ternyata Zyan lah yang bertamu.

"Vani ada tante?"

"ada tuh dia di kamar.. pulang pulang langsung nangis..ya udah sana kamu ke kamarnya aja tante mau masak dulu"

"iyaa tante makasih"

Zyan mengetuk pintu kamar Vani berharap Vani mau membukanya. tapi setelah beberapa kali hasilnya nihil.

"Van, buka dong pintunya Kaka bakal jelasin semuanya.. kita selesaikan masalah ini.. ayo dong yang"
Ucap Zyan di depan pintu kamar Vani.

"kalau kamu gk buka pintunya kaka dobrak nih"

Zyan memutar kenop pintu tersebut dan ternyata pintunya tidak di kunci.

Zyan Point of View

Tenyata pintu kamar Vani tidak dikunci. aku masuk kedalam kamar Vani dan kulihat gadisku sedang tidur dengan posisi memeluk guling dan menelusupkan wajahnya kedalam guling tersebut.

Ku langkahkan kaki ku menuju ranjangnya dan aku duduk di pinggir tempat tidur miliknya dan kudengar isakan tangis dari dalam bantal tersebut yang ku tau pasti Vani sedang menangis.

aku rebahkan tubuhku disampinya dan ku peluk dia.
"akhhhhh!!!"
Teriak Vani kaget saat mengetahui ada orang yang sedang memeluknya.

"Ka Zyan?"
Ucap Vani saat tau kalau aku lah yang sedang memeluknya.

"Ngapain disini?!"
Ucapnya Ketus sambil mencoba lepas dari pelukanku namun aku tahan dengan semakin mengeratkan pelukannya.

"mau ketemu kamu"
Ucap ku sambil terus memeluknya dan menelusupkan wajahku kedalam lehernya.

"maafin Kaka"
Ucapku mengendorkan pelukanku dan melihat wajahnya tepatnya melihat mata indahnya.

aku bisa gila kalau dia tetap diam seperti ini malah sekarang dia memalingkan wajahnya. Ku tarik dagunya agar dia melihatku lagi dan ku hapus bekas air mata yang ada di pipi vani dan kucium kening, mata dan kedua pipinya.

Tapi lihat gadisku tetap diam tidak merespon apapun. lebih baik kalau dia marah marah dibandingkan harus diam begini.

"sweet maafin kaka tadi udah bentak kamu, ayo dong yang kamu jangan diem aja kaya gini"
Ucapku lembut sambil memandang wajahnya.

Authot Point of View 

Vani tetap diam tidak merespon Zyan dia malah memilih untuk tidak menatap mata Zyan.

"Vani maafin Kaka. aku tau kalau aku salah. aku udah leterlaluan sama kamu. gk ada niatan aku untuk bentak kamu. aku cuma kebawa emosi aja tadi maafin aku yah yang"
Ucap Zyan.

"Kamu bentak aku dan lebih membela perempuan itu di depan aku tadi"
Ucap Vani menatap mata hezel milik Zyan.

"iyaa aku tau dan soal Tasya aku berani sumpah aku gk ada hubungan apapun sama dia. dia cuma sebatas sahabat aku"

"kata orang laki laki sama perempuan bersahabat pasti tidak akan murni karna salah satu di antara mereka pasti ada yang menyukainya."

"tapi itu bukan aku. Van, ayo dong maafin Kaka yaa.. kamu boleh tampar aku kalau aku bentak atau buat kesalahan lagi sama kamu"

Vani akhirnya mengangguk memaafkan Zyan. Karena Vani pikir dia akan mencoba mempercayai ucapan Zyan.

"jadi?"
Tanya Zyan

"hmm aku maafin tapi kaka jangan pernah bentak aku lagi. janji?"
Ucap Vani sambil menganjukan Janji kelingkingnya.

"Janji"
Ucap Zyan menautkan kelingkingnya.

Mereka tatap tapan lama kelamaan Zyan mendekatkan wajahnya dengan wajah Vani dan akhirnya bibir Zyan menempel dengan bibir Vani. awalnya hanya kecupan tapi lama kelamaan Zyan memanggut bibir Vani dengan penuh gairah Zyan semakin mendalamkan ciumannya dengan memegang tengkuk Vani dan semakin memanggutnya.

"ASTAGA VANI ZYAN APA YANG KALIAN LAKUKAN!!!"

My Little Wife [COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang