Bumi begitu penasaran dengan apa yang sedang Bintang lakukan bersama Lizzy dan Annabeth yang sudah tentu tak jauh dari bergosip. Bumi berdehem dan mulai mengeluarkan suara untuk memanggil Bintang, tak sampai lima menit Bintang muncul dari balik pintu kamar bersama Lizzy dan Annabeth.
"Eh gue mau ke supermarket beli bahan masak nanti malam, lo mau ikut atau nitip something?" ucap Bumi salah tingkah membuat Lizzy dan Annabeth menahan senyum.
"Kita bisa ikut?" ujar Lizzy yang lebih dulu mendekat ke arah Bumi. Bumi menatap Bintang meminta persetujuan.
"Lo gak keberatan kalau kita ikut?" tanya Bintang yang juga ikut mendekat di ikuti oleh Annabeth.
"Ya nggaklah." Lizzy dan Annabeth berseru senang, Bumi mengulum senyum melihat kelucuan keduanya. Bintang yang melihatnya berdecak kesal dan lebih memilih keluar rumah lebih dulu.
"Lo jealous yah?" ujar Bumi yang tiba-tiba sudah berada di samping Bintang.
"Jangan gede rasa Mas,"
"Gue suka denger lo manggil gue Mas." Bintang mendaratkan pukulan di lengan Bumi, Bumi terkekeh melihat Bintang salah tingkah.
Bumi, Bintang, Lizzy dan Annabeth mengunjungi salah satu supermarket yang tak jauh dari kompleks rumah. Bumi lebih dulu memasuki supermarket dengan mendorong troli sambil berjalan ke arah bahan masakan, Bintang, Lizzy dan Annabeth hanya mengekori Bumi.
Bumi begitu cekatan memilah dan memilih bahan-bahan dan juga bumbu masakan, sesekali Bumi membantu beberapa ibu-ibu juga gadis muda yang kesulitan memilih bumbu dan juga bahan masakan.
Bintang bisa melihat tatapan kagum dari beberapa gadis muda yang di bantu Bumi. Di manapun Bumi berada ia sudah pasti akan menjadi pusat perhatian, dan Bintang tak memungkiri jika ia merasa beruntung bisa memiliki Bumi seutuhnya.
Lizzy dan Annabeth membantu Bumi mengambil beberapa bahan masakan sedang Bintang hanya diam mengekori Bumi kemanapun ia melangkah. Bintang sangat hobi makan tapi jika ia harus berkutat di dapur sepertinya ia akan memilih tidur dengan tidak bermimpi. Bintang bisa memasak bahkan masakannya sangat layak untuk di makan, hanya saja Bintang selalu merasa takut jika berada di dapur karena ia selalu membayangkan hal-hal yang mengerikan menimpanya. Seperti ketika ia mengiris bawang ia akan membayangkan jika jarinya akan ikut teriris pisau. Dan Bintang sangat bersyukur karena Mba Sari tak pernah mengizinkannya untuk membantunya di dapur apalagi soal masak memasak.
Bahan dan bumbu masakan sudah lengkap, Bumi mengantri untuk membayar belanjaannya di kasir sedang Bintang, Lizzy dan Annabeth menunggu di depan pintu keluar.
"You're so lucky honey Bie," ujar Annabeth yang di iyakan oleh Bintang.
"Yea, I'm so lucky. Girls don't you dare falling love with him, okay?" sambil berdecak Lizzy dan Annabeth mengangguk pasrah.
Bumi mendekati mereka dengan dua kantong belanjaan di sebelah kanan dan kiri.
"Bie lo ambil kunci di kantong gue bisa?" Bintang menangguk dan mulai meraba setiap kantong celana Bumi. Beberapa orang yang melihat menatap keduanya ngeri pasalnya dari pandangan lain Bintang seperti sengaja meraba tubuh bagian bawah Bumi.
"Mas kenapa mereka ngeliatin kita?" tanya Bintang setelah mendapat kunci mobil.
"Cie sekarang manggilnya Mas yah?" ledek Bumi menaruh kantong belanjaan di bagasi mobil.
Annabeth dan Lizzy lebih dulu masuk ke dalam mobil.
"Maksud gue itu, Mas baksonya dua mangkok." ucap Bintang tertawa.
Bumi berdecak dan masuk ke dalam mobil di ikuti Bintang.
"Mereka ngeri liat lo ngeraba-raba gue,"
"Lah gue kan nyari kunci."
"Mereka kan gak tahu, mereka cuma mikir lo lagi mesumin gue."
"Yang ada lo mesumin gue." ujar Bintang kesal, sedangkan Bumi hanya terkekeh geli.
Suasana mobil hanya di isi celetukan Lizzy dan Annabeth dengan bahasa mereka. Bumi hanya sesekali mengulum senyum melihat keduanya begitu lucu, dan itu tak luput dari pandangan Bintang yang membuat Bintang kembali kesal.
Sampai di rumah Revan dan Rehan sudah berdiri di teras rumah sambil berkacak pinggang, Bumi yang lebih dulu keluar dari mobil langsung nyengir tak berdosa.
"Lo gila Nyet pergi gak bilang-bilang dan rumah di kunci." ucap Revan kesal.
"Sorry kan gue gak tahu kalau lo berdua pulang cepat." balas Bumi sambil menenteng dua kantongan dan menyerahkannya pada Revan. Revan menatapnya galak tapi tak menolak begitu menerima kantongan itu.
Bumi membuka pintu rumah dan Revan lebih dulu masuk membawa dua kantongan berisi bahan masakan. Bumi mendekat ke arah Rehan yang sedari tadi diam tak bersuara.
"Epan kenapa Bi?" bisik Bumi.
"Dia di tolak sama Kak Kinah dan sepanjang jalan gue kena omelan dia." Rehan juga ikut berbisik.
Lizzy dan Annabeth lebih dulu masuk, Bintang ikut berhenti di tempat Bumi dan Rehan berbisik.
"Dan Epan udah nyerah Nyet, lo gak liat sih pas Kak Kinah nolak dan gak lama ada cowok seumuran Kak Kinah datang. Epan langung narik gue balik dan dia ngomel-ngomel." jelas Rehan menceritakan alasan di balik keketusan Revan.
Bintang mengangguk pelan, Bumi dan Rehan menatapnya heran.
"Salah satu dari mereka akan menyesal." ucap Bintang meninggalkan Bumi dan Rehan yang menatapnya bingung.
Bumi dan Rehan ikut masuk, mereka melangkah ke arah dapur mengikuti Bintang. Di dapur Revan, Lizzy dan Annabeth sedang meracik bahan-bahan masakan sambil mengobrol. Bintang menoleh ke arah Bumi dan Rehan seolah bertanya apa yang telah terjadi, Bumi dan Rehan hanya mengedikkan bahu tak tahu.
Bumi dan Rehan menghampiri mereka dan ikut bergabung meracik bahan-bahan, kini mereka berlima ikut terlibat dalam obrolan Lizzy dan Annabeth. Bintang hanya duduk diam menatap mereka yang tengah sibuk memasak. Bumi yang tak sengaja melihat Bintang yang duduk diam dan terbengong, segera menghampirinya dan mendaratkan kecupan di hidung Bintang. Mau tak mau Bintang tersadar dan mendaratkan pukulan pada lengan Bumi.
"Kenapa gak ikut gabung?" tanya Bumi yang ikut duduk di samping Bintang.
"Gak, gue cukup menikmati hasil masakan kalian." jawab Bintang yang masih menatap ke empat manusia yang sedang sibuk memasak.
"Lo gak jealous kan kalau gue dekat sama Lizzy dan Abeth?" tanya Bumi pelan, Bintang tertawa mendengar pertanyaan Bumi. Kini matanya beralih menatap Bumi.
"Ya nggaklah, gue malah senang kalau lo bisa akrab sama sahabat-sahabat gue." jawab Bintang sambil tersenyum yang membuat Bumi ikut tersenyum.
"Itu salah satu impian gue dimana pasangan gue nantinya bisa berbaur sama sahabat-sahabat gue, karena bagi gue mereka bukan cuma sahabat tapi udah jadi keluarga gue." ucap Bintang tersenyum menatap Lizzy dan Annabeth yang juga tersenyum padanya.
"Dan impian lo udah terwujud." ujar Bumi, Bintang mengangguk mengiyakan.
וו×
Up yahh, gak tau up selanjutnya kapan, ide mampet.
Ya'
KAMU SEDANG MEMBACA
(BS #1) B
Teen Fiction| status: selesai | Bumi suami Bintang, Bintang istri Bumi. Mereka harus menikah di usia 17 tahun. Ini bukan hanya cerita tentang Cinta, tapi di sini juga ada beberapa cerita tentang keluarga.
