19

75 4 0
                                    

DOR!!!
  Sebuah peluru melesat keluar dengan cepat menuju ke arah Nina. Gadis itu tertembak di bahunya, seseorang telah membelokan arah tembakan pistol itu. Nina terjatuh di atas rumput, di hadapan Geo. Darahnya membentuk sebuah genangan di sekelilingnya.

   "Lo mau ngebunuh Nina hah?" tanya Tamara kesal, dia lah yang membelokan arah tembakan pistol itu.

   "Dia bisa ngebunuh lo!" balas Devano ikut kesal.

    Sementara kedua orang itu sibuk mengomel, Geo bangkit berdiri, lalu berjalan melewati kedua orang itu. Darahnya masih terus menetes sepanjang jalannya.

   "Dev, bunuh dia. Kalo gak dia yang bakal bunuh lo berdua" katanya dari kejauhan. Devano kembali menarik pelatuknya.

   "Jangan!" Tamara menghadang arah tembakan Devano. Dia menggeleng kuat. Memohon.

   "Dia bukan Nina yang lo kenal, Ra" kata Devano lirih.

   "Ya, dengarkan kata Devano, Tamara" terdengar suara dari belakangnya. Tamara menoleh ke belakang dan mendapati Nina sudah duduk manis di atas genangan darahnya. Baju gadis itu sekarang berubah menjadi merah pekat karena darahnya dan darah orang yang dibunuhnya.

   "Nina..." panggil Tamara ragu-ragu. Nina tersenyum lembut padanya, bukan di buat-buat, tapi tulus dari hati.

   "Ya, lo tau gue punya alter-ego kan?" tanya Nina pelan, Tamara mengangguk pelan hampir tak kentara.

   "Hurry to kill me, Tamara" katanya. Tamara terdiam. Devano tak lagi menodongkan pistol nya. Dia ikut terdiam mendengarkan.

   Tamara membuang muka dari Nina, dan matanya menangkap pergerakan di balik dinding labirin, matanya mengikuti pergerakan itu dan seseorang melompati dinding labirin yang tinggi itu.

   Jleb!
    Untuk yang kedua kalinya, Nina tertusuk dari belakang. Bahu kirinya terasa berat, ada yang bersandar di sana.

   "I kill you, Nina Arzenitha" ucap Geo lirih, dengan nafas tersengal-sengal.

   Darah mengalir keluar dari sudut bibir gadis itu. Nina tersenyum. Tangannya bergerak mengelus rambut Geo pelan. Kali ini, darahnya terkuras banyak. Tamara membelalak terkejut di tempat, terdiam, tak bisa berkata ataupun bergerak. Devano meraih tangan gadis itu yang gemetar, menggenggam nya erat.

   "Wah... Wah... Wah... Nina sebenarnya pilihanmu itu apa dan siapa?" suara itu sungguh mengganggu pendengaran Nina. Althea sudah berjongkok di hadapannya, sambil menopang dagu.

   "Oh, Nina ku sayang, kenapa kau tidak bisa membunuh teman-temanmu, tapi bisa membunuh sahabatmu ini?" Althea tersenyum mengerikan. Nina diam, tak menjawab. Tenaganya sudah habis malam ini, dia sudah lelah.

   "Okay, aku tau kau sangat menyayangiku Nina, dan kau membunuhku karena kau terlalu sayang padaku, begitu pun dengan Anani" lanjutnya. Nina membuka mulutnya, ingin bicara.

   "Itu kecelakaan, operasinya yang gagal, aku tidak ada sangkut paut dengan kematian Nani" jawabnya dengan suara serak.

    Mereka terdiam mendengarkan pembicaraan antara Nina dan sesosok gadis remaja, yang hampir transparan itu. Geo mengangkat kepalanya, dan menarik kasar pisau yang dia gunakan untuk menusuk Nina. Gadis itu memuntahkan darahnya sendiri.

   "Gawat nih, darahmu bisa terkuras habis lho, kau tau kan golongan darahmu itu langka, Nina" kata Althea dengan nada mengejek.

   "AB bisa menerima donor dari golongan apa saja, Althea"

   "Ya, kau benar"

    Bruk!
    Nina ambruk seketika. Saat itu juga, Althea memasuki tubuh gadis itu. Tak butuh waktu lama, Nina bergerak, tangannya meraih sebuah gunting, beranjak berdiri. Lalu, berlari menghampiri Tamara dan menusuknya, lagi. Mencabut gunting itu kasar, beralih ke Devano.

VILLATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang