Acacia dan aku berbincang. Dia menceritakan tentang semua hal dan semuanya membuatku tertawa. Dia benar-benar anak yang konyol. Aku bahkan tidak menyangka kalau seseorang Lady Acacia bisa melakukan hal itu. Aku selalu membayangkan seorang Lady adalah orang yang penuh sopan santun dan halus, yaa seperti di dongeng-dongeng pengantar tidur, tapi setelah mendengar semua yang diceritakan Acacia, jelas saja pemikiranku langsung berubah 180 derajat.
"Tapi sayang, Christian tidak pernah mau ikut campur" dia mengejek Christian, membuat orangnya yang sedang duduk di sofa melihat ke arahnya jengkel. Aku hanya tertawa. Mereka bersaudara tapi sifat mereka sangat berbeda jauh. Acacia terlihat jelas lebih ceria sedangkan Christian jauh lebih serius. Dan itu mengingatkanku kalau memang sedaritadi Christian tidak tertawa, tersenyum pun tidak, yang dia lakukan sedaritadi hanya melihat Acacia dengan kesal. Dan aku mulai berpikir kalau dia membuat skenario dalam otaknya bagaimana dia akan membalas Acacia.
Tiba-tiba Christian berdiri dan merapikan pakaiannya. Aku harus mengalihkan pandanganku karena aku benci melihatnya seperti itu. Dia terlihat hot seperti itu. It's impossible! Tubuhnya yang tinggi dan tegap dibalut dengan kemeja hitam dan celana hitam membuatnya terlihat semakin misterius dan edible. What?! Edible?! Oke, aku tidak mau melanjutkan pemikiranku. Terlalu berbahaya.
Jam dinding berbunyi, Christian dan Acacia saling pandang seperti mereka sedang memberikan kode satu sama lain. Aku hanya melihat bergantian ke arah mereka dan menyadari kalau bibir mereka bergerak seperti mereka berbicara tapi tanpa suara. Tapi aku tau kalau mereka mengeluarkan suara karena aku seperti mendengar bisikan yang sangat kecil. Ini seperti yang tadi dilakukan Acacia.
Setelah beberapa detik berlalu, akhirnya mereka melihatku, Christian seperti biasa melihatku tanpa ekspresi, sedangkan Acacia melihatku dengan senyum lebar dibibirnya. Tak lama Christian pergi begitu saja meninggalkanku dengan Acacia.
"Ini waktunya tidur!" teriak Acacia senang. Aku melihatnya tidak percaya. Waktu tidur? Dia ini remaja atau anak kecil? Aku baru tau kalau waktu tidur masih berlaku.
Dia tersenyum ke arahku dan langsung menarikku. Aku hanya mengikutinya karena aku masih tidak tau lorong ini menuju ke mana dan lorong yang lain menuju ke mana. Tempat ini benar-benar luas. Aku ingin tau seperti apa pemandangan tempat ini dari luar.
"Kau bisa menempati kamarku sementara" dia tersenyum dan membuka kamar dua pintunya. Aku harus menutup mulutku karena isi kamarnya. Ini benar-benar besar! Ukurannya hampir sama seperti rumahku. Apa yang biasa dia lakukan di kamar sebesar ini? Sepertinya aku bisa bermain bola di kamar ini. Oke, sebenarnya tidak separah itu, tapi kamar ini memang benar-benar besaaar!
"Aku harus pergi sebentar. Anggap saja kamarmu sendiri" aku mengangguk dan melihatnya menghilang di balik pintu besar itu. Aku melihat ke sekitar kamarnya. Ini benar-benar luar biasa. Sekaya apakah mereka sampai mempunyai kamar seperti ini? Dan ada berapa kamar seperti ini di rumah, hell, ini sepertinya bukan sebuah rumah.
Aku berjalan ke arah balkon dan membuka pintu pembatas kamar dengan balkon. Pemandangan yang sangat indah langsung menyambutku begitu aku berdiri di pinggir balkon. Benar dugaanku, ini sebuah kastil. Kupikir tidak ada lagi tempat seperti ini. Ini sangat sangat besar.
Setelah beberapa detik mengagumi keindahannya, aku baru menyadari kalau tempat ini berada di kedalaman hutan. Di luar tebih pembatas kastil ini hanya berisi pohon. Mungkin itu alasan mereka mendirikan tembok besar, untuk menghalangi hewan buas yang ada di hutan ini agar tidak bisa memasuki kastil.
Aku menggelengkan kepalaku dan kembali ke dalam kamar. Sebuah meja menarik perhatianku dan membuatku mendekat ke arahnya. Ini sepertinya barang-barang penting di sini. Aku melihat di sana terdapat tumpukan buku-buku tebal dengan bahasa asing, menurutku bahasa latin. Ada juga beberapa pajangan lucu dan alat tulis. Sepertinya ini tempat Acacia membaca.
Menuju ke tempat lain, mataku menangkap pemandangan yang menarik perhatianku. Satu dinding di penuhi foto berbingkai yang tertata. Aku mendekat dan menyadari kalau ini adalah foto keluarga. Aku melihat foto Acacia dengan seorang anak kecil sedang bermain di pantai dan sekian banyak lagi foto lainnya. Dan ada juga Christian yang sedang dalam suatu acara formal. Untuk yang satu itu adalah foto candid karena Christian tetap menatap fokus ke depan dan tidak mengetahui pengambilan foto ini. Aku tersenyum saat menyadari kalau dia terlihat hot di sana.
Aku melihat foto lainnya dan aku tiba pada foto terakhir yang membuatku menahan nafasku. Itu adalah foto yang sudah sangat lama, tapi aku masih bisa melihat dengan jelas gambar apa yang ada di foto itu. Di sana ada sepasang suami istri dengan dua anak. Saat aku melihat anak cowok yang berdiri di depan kedua orangtuanya, aku langsung tau kalau itu adalah Christian. Matanya yang membuatku langsung yakin kalau itu adalah Christian. Dan anak kecil lainnya adalah Acacia, senyuman di bibir anak itu membuat nama Acacia langsung muncul di kepalaku. Selanjutnya aku melihat ke arah orangtua mereka. Walaupun sang ayah terlihat sangat kaku dan serius, tapi aku bisa melihat rasa senang di matanya. Dia menikmati saat-saat ini sama seperti yang lainnya. Tangannya melingkar erat di pinggang istrinya yang tersenyum manis. Sekarang aku tau darimana Acacia mendapatkan sifatnya. Mereka terlihat bahagia di foto itu.
Aku menatap foto itu selama beberapa menit dan akhirnya satu hal menamparku. Orangtuaku! Bagaimana aku bisa melupakan mereka?! Mereka pasti bingung mencariku yang tiba-tiba menghilang.
"No!" aku langsung jatuh di lututku dan menangis. Aku baru sadar, dengan kebaradaanku di sini itu berarti aku meninggalkan mereka. Orangtuaku. Mereka pasti khawatir dan aku sedari tadi hanya tertawa dan berbincang dengan Acacia tanpa memikirkan mereka.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka dengan kasar dan sosok Christian langsung berada di depanku. Dia berlutut di depanku dan menatapku dengan heran.
"You okay, Brianna?" aku menatapnya kesal, tidak, aku lebih dari kesal. Aku marah. Aku marah karena dia menanyakan hal itu padaku, aku marah karena dia membawaku ke sini, aku marah karena dia! Ini semua karena dia!
"You asked me?! You think I'm okay?!" teriakku kencang di depan wajahnya. Rahangnya mengeras menahan sesuatu. Aku terus menangis dan tanganku sibuk menghapus air mataku.
"Kau menculikku ke sini dan kau bertanya padaku apa aku baik-baik saja? Kau pikir aku akan baik-baik saja? Tidak! Kenapa? Karena kau membawaku ke antah-berantah ini dan menjauhkanku dari orangtuaku! Dari keluargaku!" aku menatap matanya selama aku mengatakan itu, dan aku mendapat banyak pandangan emosi yang ada di matanya. Mungkin kalau tidak dalam keadaan seperti ini aku akan langsung meminta maaf karena berteriak seperti itu. Well, aku memang bukan orang yang selalu sopan dan blablabla, tapi aku tidak pernah berteriak sepetti itu. Tapi untuk situasi seperti ini, itu pengecualian.
Rasanya aku ingin menamparnya karena yang dia lakukan hanya diam dan memandanganku dengan matanya yang terus saja menunjukkan semua emosi yang dirasakannya. Aju ingin dia menjelaskan semuanya bukan berdiri diam di sana dan membiarkanku buta dengan semua hal yang terjadi sekarang.
"Leave" gumamku sambil terus menghapus air mataku. Ini memalukan. Kenapa dia harus melihatku disaat aku seperti ini? Dan kenapa harus menangis?
Tiba-tiba pintu terbuka dan Acacia menatapku khawatir. Aku menatapnya dan Christian tanpa ekspresi berharap mereka mengerti kalau aku menginginkan waktu untuk sendiri. Aku tak tau apa yang akan kulakukan tapi yang jelas dengan adanya mereka bersamaku akan memperburuk suasana saat ini.
Acacia yang memang sudah terlihat lebih normal langsung keluar ruangan. Aku tau dia penasaran dengan apa yang terjadi, tapi dia cukup pintar untuk tidak mengeluarkan pertanyaan.
"Leave. Aku tak mau melihatmu sebelum kau memberikanku alasan kenapa kau membawaku ke sini" aku pergi ke kamar mandi dan meninggalkan Christian berdiri di sana. Setelah beberapa menit, aku mendengar pintu kamar terbuka lalu tertutup. Aku tau dia sudah keluar dan aku kembali menangis.
Aku harap dia memberikanku jawaban secepatnya karena aku tidak ingin lama di sini. Aku ingin pulang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love War
VampireBrianna Keegan Autenberry. Dia tidak pernah tau tentang hal yang berada di kegelapan. Hal yang bersembunyi di balik gelap agar tidak tertangkap saat mengikutinya. Dia tidak pernah tau kalau dia akan tertangkap. Dan dia tidak pernah tau akan seperti...
