Chapter 24

21.8K 973 18
                                        

Aku melihat mata mereka melebar dengan alis mata berkerut dalam. Mereka lalu saling bertatapan dan menatap lembaran di tanganku lalu menatapku.

"Bri, tidak ada apa-apa di lembaran itu" ucap Acacia dengan nada bingung. Mendengar itu aku diam, dan menatap lembaran di tanganku. Bagaimana dia bisa mengatakan tidak ada apa-apa? Kertas ini penuh dengan tinta merah, bagaimana mereka tidak melihatnya.

"Kau tidak melihatnya?" tanyaku sambil memampangkan lembaran itu ke depan wajah Acacia. Dia hanya menggeleng bingung.

"Kertas itu kosong, Brianna" ucap Christian dengan nada yang sama. Aku melihat mereka berdua dengan aneh karena aku tidak mengerti kenapa mereka tidak bisa melihat tulisan ini disaat aku bisa melihatnya dengan sangat jelas.

"Tapi ada tulisan di sini dengan tinta merah dan aku melihatnya" ucapku pada mereka berdua. Christian mengambil kertas itu dari tanganku dan melihatnya, membaliknya, memutarnya, tapi dia tidak mengatakan apa-apa.

"I see nothing, Brianna" Christian menatapku bingung dan aku menatap kertas itu bingung. Ada apa lagi ini? Kenapa hanya aku yang bisa melihatnya?

"Lebih baik kita sarapan lebih dulu" gumam Acacia memecahkan fokusku pada kertas itu. Christian mengangguk setuju dan mengangkatku untuk mengantarku ke ruang makan.

Selama itu yang kulakukan hanya menatap kertas di tanganku. Aku masih penasaran kenapa tidak ada yang bisa melihatnya. Apa Nanny menanamkan sihir di kertas ini sehingga hanya aku yang bisa melihat tulisannya di sini?

"Eat, Brianna" Christian meletakkan tangannya di pangkuanku membuatku kembali sadar. Aku mengangkat wajahku dan saat itu aku baru sadar kalau sedaritadi yang lain terus memerhatikanku. Mereka menatapku khawatir dan aku hanya tersenyum untuk memastikan mereka kalau aku tidak apa-apa.

"Kita akan membicarakannya lagi nanti" aku mengangguk pelan dan Christian tersenyum. Dia mencium pelipisku sebelum membiarkanku makan.

Selama makan aku hanya diam sambil mendengarkan perbincangan di meja. Christian, Frans, Alex, dan Ash membahas masalah keamanan di kastil ini, sedangkan yang lainnya, Acacia, Irene, Hunter, dan Tori hanya bercanda. Dan, di sini aku sendiri memikirkan semua hal.

Aku senang aku mendapatkan cara untuk membuka peti itu, hanya saja aku masih tidak mengerti kenapa hanya aku yang bisa membacanya. Apa itu berarti hanya aku yang bisa melakukannya dan tidak dengan bantuan siapa-siapa?

"Aku dan Brianna ada keperluan" ucap Christian tiba-tiba membuatku terkejut. Dia menatapku lalu mengambil tanganku sebelum mengajakku keluar dari ruang makan. Aku menatap yang lainnya dan tersenyum meminta maaf sebelum menutup pintu ruang makan.

"Ada apa?" tanyanya begitu jarak kami dengan ruang makan sudah cukup jauh. Dia berhenti dan memegang kedua pundakku, memaksaku mengahadapnya. "ada apa?"

"Nothing" gumamku pelan. Christian meletakkan dua jari tangan kanannya di bawah daguku dan mengangkat wajahku. Dia menatapku cukup lama sebelum menghela nafas berat dan kembali berjalan dengan tanganku di genggamannya.

Selama perjalanan aku hanya diam dan menunduk. Aku berjalan berdekatan dengan Christian dan aku hanya mengikutinya entah ke mana. Mataku terus menatap kakiku yang melangkah bersamaan dengan Christian dan aku baru menyadari kalau kakiku terlihat sangat kecil dibanding dengan kakinya. Mungkin orang yang melihat kami sangat melihat perbedaan ukuran kami. Puncak kepalaku hanya sampai di dagunya. Aku melihat tanganku dan menyadari kalau tangan Christian hampir menenggelamkan tanganku di tangannya. Tapi, walaupun begitu semuanya terasa pas dan nyaman, tidak ada yang ganjil.

"Sampai" ucap Christian tiba-tiba membuatku kembali sadar dan mengangkat wajahku. Aku melihat taman tempat Christian mengatakan padaku kalau aku sebenarnya adalah pasangannya. Senyum lebar langsung menghiasi bibirku dan aku menatap Christian dan dia juga tersenyum. Aku menariknya masuk dan melewati pintu kecil di taman itu dan duduk di kursi yang tersedia.

Love WarTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang