Chapter 26

19.6K 885 21
                                        

Selama bermenit-menit setelah menceritakan apa yang kumimpikan pada Christian, aku hanya duduk di sofa dengan Hunter di sampingku sambil memelukku. Frans meminta Hunter untuk menenangkanku karena setelah Christian mendengar ceritaku, dia langsung meledak. Dia menyalahkan Nikolas karena apa yang Nikolas lakukan. Dia berpikir kalau Nikolas sangat egois sampai dia memilih untuk tertidur di peti dibanding membantu mereka melewati apa yang sudah terjadi. Emosinya lebih meningkat lagi begitu dia teringat dengan Lexa. Dia berpikir Lexa seharusnya masih bisa di sini sekarang kalau saja Nikolas mau membantu mereka melewati perang itu. Dan setelah itu dia mengatakan kalau Nikolas juga bodoh karena dia tidak menjelaskan pada Christian apa yang akan terjadi.

Mendengar itu semua jelas membuat emosiku naik. Aku kembali merasakan tanganku memanas, itu kenapa Hunter ada di sampingku sekarang. Walaupun aku bisa merasakan dia juga marah dengan Christian karena menyangkutkan Nanny dalam emosinya dengan Nikolas, dia tetap mencoba menenangkan dirinya agar dia tetap bisa menenangkanku.

Dan akhirnya, di sinilah aku, menunggu Frans yang sedang menenangkan Christian di ujung ruangan. Aku tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka katakan, tapi aku tau mereka masih berdebat. Frans berusaha untuk memberi penjelasan pada Christian agar dia tidak terus terbalut dalam amarahnya dengan Nikolas.

"How's your hand?" aku melihat tangan kananku yang masih di selimuti sarung tangan. Rasanya baik-baik saja, aku tidak merasakan panas atau apapun.

"Okay. Thanks" Hunter mengangguk dan mencium pelipisku sebelum mengalihkan pandangannya pada Irene dan mereka berkomunikasi melewati pikirannya. Ya, aku lupa mengatakan kalau dia bisa melakukan itu dengan Irene. Well, sebenarnya aku bisa, hanya saja sulit untukku.

Aku kembali meletakkan kepalaku di pundak Hunter dan menunggu Christian yang sepertinya sudah mulai tenang. Mataku melirik Christian dan Frans yang sedang berpelukan. Frans sedang mengatakan sesuatu pada Christian dan dia hanya mengangguk mengerti. Setelah itu, Frans memberikan tepukan pelan di punggung Christian dan mereka kembali berjalan ke arahku.

"We need to take a rest. We'll discuss this tomorrow" ucap Frans sebelum dia dan Tori menghilang di balik pintu ruang tengah. Tidak lama Acacia dan Ash menyusul, dan tinggallah aku , Christian, Hunter, dan Irene di ruangan ini.

"Brianna" Christian mengulurkan tangannya ke arahku dan aku bangkit untuk menyambutnya. Tapi, tangan Hunter yang masih melingkar di pundakku menahanku. Aku meliriknya dan melihatnya menatap Christian dengan tajam tapi Christian tidak memperdulikannya dan tetap menatapku.

"I'm okay. He'll never hurt me" ucapku meyakinkan Hunter, tapi dia tidak mendengarkanku dan tetap menatap Christian. Aku melirik Irene untuk meminta bantuan dan dia tersenyum padaku.

"Hunter" panggil Irene pelan dan Hunter langsung mengalihkan pandangannya ke arah Irene. It must be the mates bond. "let's go"

Hunter melihatku sebentar untuk memastikan aku baik-baik saja bersama Christian, aku hanya mengangguk dan mencium pipinya sebelum akhirnya dia pergi bersama Irene.

"Let's go" aku mengambil tangannya dan dia langsung menarikku mendekat dan mengangkatku sebelum dia berlari cepat menuju kamar tidur kami. Aku merasa ada sesuatu yang berbeda di cara dia memelukku, sesuatu yang lebih berhati-hati. Dia seperti menjauh lagi.

"Aku menghancurkan malam ini, right?" gumamnya pelan sambil menurunkanku dari pelukannya dan mendudukkanku di tempat tidur. Dia duduk di sampingku dan menumpukan sikunya di lutut. Kepalanya tertunduk dalam dan jari-jarinya terkait di rambutnya.

"You need to rest" aku meletakkan tanganku di pundaknya sebelum berdiri dan pergi ke kamar mandi untuk bersiap-siap sebelum tidur. Baju Christian yang digantung di gagang pintu menarik perhatianku dan aku mengganti dressku dengan itu. Selesai membersihkan riasan di wajahku, aku keluar dari kamar mandi dan kembali ke tempat tidur.

Love WarTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang