"Nikolas?" tanyaku tidak percaya. Nikolas? Jadi selama ini yang dimaksud kakek oleh Dante adalah Nikolas. Kenapa aku tidak menanyakannya? Stupid me! Jadi selama ini Nikolas mengenal Nanny dan penyihir yang dimaksud keluarga Blythe adalah Nanny. Nanny yang membantu Nikolas mengunci petinya dan Nanny adalah penyihir terakhir yang dimaksud keluarga Blythe. Ini menjadi tidak mengherankan kalau aku mendapat mimpi mengenai perang itu, karena bisa saja sesama keturunan penyihir memiliki hubungan yang membuat mereka seperti berenkarnasi.
"Ya" jawab Christian pelan. Aku mengerti sekarang kenapa tadi dia sangat berat mengatakannya. Aku ingat kalau Christian sangat dekat dengan Nikolas saat Nikolas masih ada di sini.
"Lalu bagaimana?" tanyaku begitu sadar kalau satu-satunya sumber pengetahuanku berada di dalam peti yang tidak bisa terbuka oleh siapa pun kecuali Zosh atau Nanny.
Semua diam begitu pertanyaan itu keluar dari mulutku dan aku tau kalau mereka memikirkan hal yang sama. Kerut terlihat dikening masing-masing mencoba mencari jalan keluar lainnya, tapi mereka tau itu tidak mungkin. Kalau mereka mengetahui jalan lain untuk membangunkan Nikolas, mungkin mereka sudah melakukannya.
"Terlalu banyak beban di sini. Bagaimana kalau kita istirahat sebentar dan jangan terlalu keras memikirnya. Santai saja untuk hari ini dan semoga saja kita bisa memecahkan masalah ini" usulan Tori langsung dibalas dengan anggukan lemas. Frans menatap Tori dan mencium pelipisnya.
Christian mengambil tanganku dan mengajakku keluar dari ruangan itu. Pundakku langsung terasa sangat ringan dan nafasku tidak terasa sesak lagi. Aku baru sadar kalau ruangan saja bisa membuatku seperti itu.
"Kau ingin pergi ke suatu tempat?" tanya Christian kepadaku. Aku memikirkan tempat mana yang ingin kudatangi. Aku butuh tempat yang membuatku santai dan bisa membuatku melupakan ini semua walaupun hanya untuk sementara. Aku menutup mataku sambil memegang tangan Christian dan mencoba membayangkan kemana aku ingin pergi.
Setelah beberapa detik, aku membayangkan aku mendengar suara burung-burung yang saling bersautan, suara gesekan daun-daun pohon karena tertiup angin, dan sentuhan rambutku yang bermain di wajahku. Aku juga membayangkan aku duduk di rumput dan melihat pemandangan, suatu tempat yang menampung air, entah itu danau, sungai, ataupun laut. Duduk bersama Christian sambil mengejek satu sama lain atau hanya diam dan menikmati keberadaan satu sama lain. Mungkin itu yang aku butuhkan.
"Aku tau tempat yang kau mau" ucap Christian tiba-tiba membuatku memukul tangannya, aku tau dia membaca pikiranku tadi.
Christian menungguku di dalam kamarku selama aku mengganti bajuku di kamar mandi. Melihat apa yang aku inginkan, Christian memintaku mengganti bajuku menjadi yang lebih hangat karena dia mengatakan udara hari ini cukup dingin. Itu kenapa aku memilih oversized sweater, mid-thigh skirt, dan stocking untuk menghangatkan kakiku. Flat shoes kesayanganku menjadi pilihanku saat ini dibanding converseku yang terletak di sudut ruangan.
Selesai itu aku merapikan barang-barang yang akan kubawa dan menghampiri Christian. Aku tersenyum melihat caranya berpakaian. Dia memakai jeans yang kubelikan dan sweater, dan untuk mengatakan kalau dia terlihat hot adalah kesalahpahaman. He's beyond hot.
"You look cute" mataku langsung menatapnya tajam begitu kalimat itu keluar dari mulutnya.
"I don't do cute"
"But you are"
"Okay, you look adorable, Blythe" aku menahan tawaku dengan menutup mulutku saat melihat ekspresi terkejut Christian.
"I'm a man, love, I'm not adorable"
"But you are"
"Touche" aku memutar bola mataku ke arahnya sambil memasang beanie di kepalaku. Aku memutar badanku dan menarik tangan Christian.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love War
VampireBrianna Keegan Autenberry. Dia tidak pernah tau tentang hal yang berada di kegelapan. Hal yang bersembunyi di balik gelap agar tidak tertangkap saat mengikutinya. Dia tidak pernah tau kalau dia akan tertangkap. Dan dia tidak pernah tau akan seperti...
