Sweety Venus - Chapter 5

13.4K 1.1K 29
                                        

"Tu-Tunggu, apa yang kau lakukan?"

Ethan tidak mempedulikan teriakan Diana dan menutup pintu mobil. Setelahnya dia mengitari mobil.

"Kenapa kau membawaku masuk ke sini? Apa kau ingin memerkosaku?!"

"Aku akan menidurimu di atas kap depan jika kau tidak berhenti berteriak seperti orang gila, Diana," ujar Ethan sangat jelas. Melawan Diana yang mabuk sangat menguras emosi lahir batinnya. Apakah dia sadar seberapa berisiknya dia?

"Kalau begitu, tiduri aku sesuka hatimu," ujar Diana pelan namun jelas seraya mencondongkan tubuhnya, "sekarang."

Siapa pun akan tergoda jika ada wanita yang memulai, bukan? Ia pikir ia akan mendapati pukulan setelah mengancamnya, namun Diana malah membalasnya. Ditambah tatapan murni dengan mata lembab itu membuatnya berdesir dan jantungnya berdebar.

Tatapannya yang seperti pemburu sedikit turun dan berhenti pada bibir yang terbuka sedikit. Apakah itu manis seperti aroma wanita ini? Bicara tentang aroma, parfum apa yang dipakainya? Wanginya sangat menyenangkan dan adaktif.

Ethan memajukan tubuh hendak mencium Diana namun ia malah memundurkan tubuhnya. "Omong-omong, bagaimana cara menggoda? Seharusnya aku belajar dari Sexy. Seperti ini?"

Diana menyandar tubuh di pintu mobil dengan kaku dan mengerikan. Benar-benar tidak sedap dipandang.

"Atau begini?" Lalu mengangkat kedua tangannya di atas kepalanya.

Dia memandang Diana tanpa ekspresi. Wanita ini sudah membuat suasana yang dibangun dengan baik menjadi kacau. Saat ia mengalihkan pandangannya ke depan, ia melihat kotak kue penyok di atas dashboard.

"Oh lihat apa yang kita punya di sini. Kau membeli kue." Ethan membuka penutupnya dan melihat bentuk kue yang ... sedikit cacat. Tanpa bertanya tentang bentuk kue, ia mencolek jarinya pada cream di kue lalu membawanya ke mulutnya. Pas, tidak terlalu manis. Tanpa sadar ia melirik bibir Diana lagi. Rasanya enak.

Tiba-tiba Diana berubah suram. "Rencananya aku akan memberikannya kepada bajingan itu, Thomas. Tapi jika kau ingin, ambillah. Aku tidak membutuhkannya lagi."

Ethan mengangkat sebelah alisnya. "Thomas?"

Diana memiringkan kepalanya dengan polos. "Bagaimana kau mengenal Thomas?"

Ethan bungkam. Ia menghela napas dalam sebelum mulai menjalankan mobil Diana. "Baiklah. Di mana rumahmu?"

Bukannya menjawab, Diana malah memasang wajah panik di campur marah. "Ini mobilku. Siapa kau? Oh my God, do you want to steal my magnificent car?!"

Ethan hanya menghela napas, mencoba mendiamkan Diana yang masih sibuk berceloteh.

"Help me! Someone is stealing my car!" Diana menjambak rambut Ethan hampir membuatnya menabrak pembatas jalan.

"Oh stop it, Diana! Kita bisa mati konyol jika kau tidak bisa diam!"

"Oh Tuhan, tolong ...!" Diana memukul wajah Ethan tanpa mempedulikan omongannya.

Sepanjang perjalanan Diana tak henti-hentinya menjambak dan berteriak histeris meminta tolong. Sementara Ethan berusaha menjalankan mobil yang ia kendarai agar tidak menabrak kendaraan lain walaupun harus menahan sakit akibat kekerasan yang dilakukannya.

Mobil mereka berhenti saat lampu merah. Diana membiarkan kepalanya bersandar di pintu mobil dengan kaca terbuka sepenuhnya, dan merana. Bergumam sendiri dengan sejuta ekspresinya.

"Aku sama sekali tidak tahu jika kau akan memilih batang daripada labiaku. Bukankah kau memilikinya juga? Jadi, untuk apa menginginkannya lagi?!"

"Diana, berapa kali kubilang tutup jendelanya."

Perkataan Ethan hanya dianggap Diana angin lalu. Detik berikutnya sebuah mobil ikut berhenti di sebelah. Dia memposisikan kepala keluar jendela membuat Ethan kembali memperingatinya.

"Hai," panggilnya lembut pada pengendara mobil itu. Seorang pria yang sudah lanjut usia.

Setelah mendapat perhatian penuh kakek itu, dia kembali berkata dengan wajah serius, "Kau tahu, aku mempunyai sesuatu. Sesuatu yang tidak dimiliki siapa pun. Hanya aku yang mempunyai itu."

Kakek itu menatap Diana penasaran.

"Aku akan mengatakannya padamu tapi kumohon jangan memberitahukan siapa pun. Janji?"

Kakek itu mengangguk tidak yakin. Dan Ethan pun ikut penasaran. Diana menjulurkan badannya keluar dari jendela, semakin mendekati dirinya ke mobil kakek itu. Lalu berbisik dengan suara nyaring, "Aku memiliki vagina."

"..."

Baik si kakek maupun Ethan hanya bergeming. Tidak ada yang merasa itu lucu, hanya Diana. Dia terkikik geli dengan wajah merah.

"Kau tidak punya, bukan? Hanya aku yang punya."

"Kembali duduk." Ethan menarik Diana kembali ke kursi dan menaikkan kaca mobil.

Diana menolehkan kepala. "Siapa kau? Oh aku mengingatmu ...." Diana kembali menatap kakek itu. "Perkenalkan ini temanku, Bung, si pencuri selangkangan!"

Kakek itu menggelengkan kepala sedangkan Ethan mendesah.

"Wait, wait, don't goHey, Daddy!" teriak Diana saat kakek itu melajukan mobilnya. Ia lalu menatap Ethan sebal. "Kau lihat? Sugar Daddy-ku pergi karena kau! Ini semua karena salahmu yang menyukai pisang!"

"Ayolah, apa yang bisa kau dapatkan dari pria tua itu?"

"Penisnya." Diana mengangkat jari telunjuk di samping wajah seolah sedang memberi pelajaran. "Penis orang dewasa lebih mengagumkan."

Ethan terkekeh singkat. "Aku tidak akan menampiknya. Milik kakek keriput tadi pasti mengagumkan."

"Big and healthy!" Diana mengangguk setuju sebelum cekikikan.

Ethan seketika kehabisan kata-kata selain tertawa kencang. Suara klakson di belakang membuatnya menatap ke depan. Ketika ia ingin menjalankan mobil kembali, Diana tiba-tiba mencengkeram kedua kerah atasannya membuat dia menghadapnya kaget.

Mata Diana memerah dan siap untuk menangis. "Kau bilang aku wanita spesial. Bukankah aku dewi keberuntunganmu?! Lalu kenapa kau mengkhianatiku?!"

Ditatapnya mata yang berkaca-kaca ini. Tampak jelas dia terluka dan kecewa di balik tatapan marahnya.

"Apa karena kau kecewa pada tubuhku? Apa aku tidak cantik? Aku akan memberikanmu seluruh jiwaku jika kau memintanya." Tangan serta bibirnya bergetar. "Bodoh ...."

Ethan mendesah panjang. "Jeremy sialan. Kenapa aku yang harus menerima amarahnya, Bajingan? Seharunya ini semua untukmu, Bedebah tidak tahu malu."

Diana mengangguk. "Jeremy sialan!"

Mengetahui bahwa Diana mengikuti umpatannya, dia merasa ini mengasyikkan. Karena kendaraan di belakangnya tidak berhenti menyalakan klakson dan berteriak, dia mulai melepaskan tangan Diana pada kerah kemejanya dan mengatur agar wanita ini duduk kembali di kursi. Tak lupa seraya mengumpat lagi, "Jeremy si bajingan menyedihkan."

"Jeremy si bajingan menyedihkan!"

"He's a piece of shit." Dia mulai menyetir kembali.

Diana kembali mengulangi ucapannya hingga sisa perjalanan panjang mereka berjalan mulus.


Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.



SWEETY VENUS [#2 VENUS SERIES]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang