Setelah mencampakkan pacarnya yang berselingkuh, Diana Hestia Stefanidi hanya ingin satu malam yang liar dan tanpa pikiran untuk melupakan segalanya. Sebuah klub malam. Musik keras. Beberapa minuman. Tanpa harapan.
Namun keesokan paginya, dia terban...
Ethan pikir mereka akan melakukan sesuatu yang liar untuk menghabiskan sisa malam ini. Namun kenyataanya, wanita ini benar-benar hanya ingin tidur. Diana menariknya untuk berbaring di sebelahnya, entah kekuatan dari mana yang dia kumpulkan. Dan mereka saling berhadapan. Dia yang tidak siap dan bingung kembali terkejut ketika Diana tersenyum manis, meletakkan kepala di dada bidangnya, memejamkan mata, lalu memainkan rambut pendeknya dengan jari-jari kecilnya.
Menatap langit-langit kamar, Ethan mendengus samar. Ini sama sekali bukan 'tidur' yang ia harapkan.
"Bulumu sangat pendek dan kasar," gumam Diana.
"Karena aku pria, Sugar."
Diana tersenyum tipis. "Tidak, kau itu wanita, Lily."
Setelah itu mereka kembali terdiam. Ia pikir Diana telah tidur, namun wanita ini kembali bergumam lagi.
"Aku membuat kue, menghabiskan gajiku bulan ini untuk baju sialan ini, dan perawatan berjam-jam di salon dan spa. Semua yang kulakukan hanya untuk dipandang cantik olehmu. Sia-sia, kan?"
"..." Mau tak mau Ethan mengingat kue di mobil Diana tadi. Wanita ini sungguh menyedihkan.
"Sungguh aku tidak habis pikir bagaimana caramu memandang hubungan yang berjalan dua tahun ini. Aku pikir hubungan kita ... spesial."
Setelah jeda yang cukup panjang, membuka mulutnya, Ethan membalas tanpa emosi, "... Tidak ada yang spesial di antara kita."
Gerakan jemarinya yang bermain di rambut pendek Ethan berhenti. Diana kemudian membuka matanya. Tatapan itu tampak kosong dan sedih. "Kau sangat jahat."
"Maka dari itu, lupakan aku. Dan jangan pernah mendapatkan pria yang lebih buruk dariku. Jika aku mengetahuinya, aku akan mengejekmu seumur hidupmu."
Diana terdiam sebentar sebelum mengangguk. "Hm!" Dipejamkannya matanya kembali dan dengan cepat tertidur.
Sementara itu Ethan tetap terjaga. Sebab, bagaimana wanita ini memeluknya dan napas hangat yang berada di lehernya benar-benar mengganggunya. Ini tidak bisa berlangsung terus. Dia pun bangkit hingga pegangan Diana terlepas. Tangan ringkih itu jatuh terkulai di kasur.
Dengan tangan menumpu sisi wajah rupawannya, tatapan malas Ethan menatap keseluruhan fitur wajah kecil yang tertidur pulas. Tanpa aba-aba jari-jari besar dan kuatnya membelai sisi wajah Diana dengan lambat. Saat jarinya menyentuh pinggiran bibir mungil itu, dia terdiam sejenak. Setelahnya masih tanpa suara, jari-jarinya bergerak ke bibir yang halus dan lembut itu, mengusapnya. Ia kemudian menarik bibir bawahnya sedikit, membukanya.
"Hmm ...."
Bagaimana rasanya ketika dia membawa miliknya ke sana? Tangannya dengan lihai bergerak masuk sedikit, merasakan sensasi panas pada ujung jarinya. Dan hasil yang ia dapatkan selanjutnya erangan terganggu Diana yang mengernyit. Dia menyeringai. "How adorable."
Ketika hendak menarik jarinya, sesuatu yang lembut menyentuh jarinya membuat dia membeku. Perasaaan seperti tersentak aliran listrik itu datang dan ia merasakan sesuatu yang menggeliat di antara kakinya. Dia pun terkekeh miris. Sial. Itu hanya lidah, oke?
Menghela napas, dia beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi di kamar tersebut.
***
"Haa ...."
Bulu mata itu sangat panjang dan lentik, mata hitamnya yang besar dan basah sungguh indah, hidungnya kecil, dan bibir merah mudanya juga kecil dan lembut. Ingin sekali ia melepaskan bra merah mudanya sekarang dan meremasnya.
Di bawah shower, salah satu tangannya yang berotot menyentuh dinding di depannya terlihat kuat. Dia menunduk melihat seseorang bersimpuh tengah memegang pilarnya yang berat dengan kedua tangan mungilnya. Miliknya itu menyentuh sisi wajah kecilnya. Mata besar dan murni itu mendongak, menatapnya lurus.
"Ingin aku membuatmu merasa senang?"
Suara lembutnya ditambah mulut kecil yang terbuka dan lidah terjulur sedikit bersiap ingin menyenangkannya membuat Ethan menggeram dan mengumpat. Napasnya sedikit memburu melihat lantai di bawahnya yang kosong dan hanya bebannya yang mengalir bersama air ke drainase.
Memejamkan mata, dia menyandarkan dahi di dinding dan terkekeh. Dia sungguh seperti sampah. Bagaimana bisa dia membayangkan wanita itu di bawahnya? Terlebih lagi .... "Man, what a mess. Dia tidak pernah mengatakan hal tadi."
Begitu keluar, dia hampir terkena serangan jantung ketika melihat Diana yang terduduk dan menangis seperti hantu.
"Tuhan!" Ethan mengusap dadanya.
"Di mana Lily-ku? Aku tidak mendapatinya di mana-mana."
Ethan mengembuskan napas. Dia naik ke ranjang setelah melepas bathrobe dan berbaring di sebelahnya lagi. Diana secara naluriah memainkan rambut Ethan dan memejamkan mata. Padahal rencananya dia akan kembali ke kamarnya. Namun menyedihkan, dia harus menjadi mainan wanita ini lagi.
Well, karena dia sudah menuntaskan kebutuhannya tadi, tentu saja tidak masalah menetap di sini. Pikirnya yang berusaha positif. Setelah itu wanita yang memeluknya sedang mengusap hidungnya di dada bidangnya. Kemudian gumaman manis terdengar.
Diana membuka mata secara perlahan dan mendapati dinding ash white yang asing tidak seperti dinding kamarnya yang berwarna pink harmony. Bau maskulin yang terasa akrab dengan cepat masuk ke indra penciumannya. Lengan kiri yang kekar sebagai bantalnya sedangkan lengan satunya memeluk pinggangnya posesif. Diana juga dapat merasakan embusan napas hangat yang teratur di tengkuknya membuatnya kaku dan merinding.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Berusaha untuk tidak panik, ia mencoba mengatur ulang ingatannya kembali tentang tadi malam mulai dari ia yang menangkap basah Jeremy di kantor, dia yang nekat masuk ke night club sendirian, minum, sedikit menari nakal, mungkin? Hanya itu yang ia ingat. Sisanya ia serahkan kepada si pria yang masih tertidur ini.
Diana menghela napas, menertawakan dirinya dalam hati. Selamat, Diana .... Bukankah ini yang kau inginkan?Tetapi kenapa dia merasa semakin bersedih? Menyedihkan karena balas dendam seperti ini tidak membuatnya puas.
Omong-omong, dengan siapa aku tidur?
Rasa penasaran dengan si pria yang sudah mengambil keperawanannya timbul tiba-tiba. Dengan perlahan dia menoleh ke belakang. Begitu melihat wajah pria yang tidak asing, dia terdiam selama tiga detik sebelum matanya terbelalak.
Ethan O'Connor?!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.