14. Sisi Lain Aphrodite

5.8K 418 43
                                        

"Aku, Laura Aphrodite Donovon me-reject mu, Lucas de Vaugn sebagai mate-ku."

1 menit berselang, Louis hanya diam.

2 menit berselang, Lous mulai menampakkan seringai menakutkan.

Dengan perlahan tubuh Lucas yang masih diambil alih oleh Louis maju mendekat. Mendekati sang wanita yang masih berdiri dengan tatapan mematikan. Sementara Lucas yang masih mengamati hanya diam. Diam sambil menahan luka menyayat yang sulit dia hilangkan.

"Kau kira kau siapa berani me-reject ku heh?" Louis berbicara santai. Masih mempertahankan seringai menakutkan, Louis semakin mendekat, bermaksud semakin mengikis jarak dengan wanita yang sudah sukses membuat jiwa binatangnya keluar.

Saat Aphrodite tepat berada di depannya, Louis sedikit membungkuk untuk bisa menatap lebih dalam ke mata yang sedang menantangnya. Mengangkat tangan, Louis menyentuh pipi Aphrodite lembut. Perlahan Louis memegang dagu Aphrodite dan sedikit mendongakkannya agar menatap matanya, mata yang menyiratkan amarah dan luka mendalam.

Sesaat Loius terlena. Terlena saat akhirnya bisa merasakan kelembutan kulit wanita yang selama ini selalu menghiasi fantasi liarnya. Wanita yang selalu dia lindungi meski dari kejauhan. Wanita yang selalu dia inginkan meski dendam selalu menggerogoti hatinya.

"Kau milikku, selamanya akan tetap seperti itu. Hanya karena selama ini aku agak lunak terhadapmu, bukan berarti kau bisa membangkangku." Sambil melepaskan tangannya dari dagu Aphrodite, Louis kembali bersuara, "kau akan tetap disini, bersamaku. Tidak akan ada satu orangpun yang bisa merebutmu dan mengeluarkan mu dari wilayah teritori ku."

Menggeleng, Aphrodite menjawab parau, "tapi dia tidak. Dia tidak menginginkanku. Dia bahkan berniat untuk membunuhku. Kau lihat tadikan apa yang dia lakukan padaku? Apa salahku? Aku hanya ingin menyadarkannya. Aku hanya ingin dia berhenti membenciku. Tapi kenapa...."

Tidak tahan lagi, Aphrodite jatuh terduduk sambil menangis pilu. Sakit, hatinya sangat sakit. Aphrodite bahkan memukul-mukul dadanya yang terasa sangat sesak. Masih sambil menangis, Aphrodite kembali menumpahkan isi hati yang selama ini dipendamnya.

"Aku mengingatmu. Kau ada di sana saat itu. Saat kejadian tragis yang terjadi dua puluh tahun yang lalu, saat umurku masih lima tahun. Saat itu, ada segerombolan anjing liar yang mengepung mobil yang aku tumpangi. Supirku bahkan sudah sangat panik, tapi meski sadar tidak akan bisa menang, dia tetap melawan dan berusaha untuk melindungiku. Dia menyuruhku pergi, tapi aku tidak bisa. Kakiku seolah tertancap di sana dan tidak bisa digerakkan."

Mengambil napas dalam, Aphrodite mencoba mengatur napasnya agar sedikit tenang. Namun sia-sia, air matanya malah tidak mau berhenti mengalir. Louis yang sejak tadi diam-pun sadar dan berniat untuk maju mendekat. Tapi belum sempat mendekat, Aphrodite menggeleng tanda menolak.

"Aku belum selesai, tetap di situ dan dengarkan."

Menghapus air matanya kasar, Aphrodite kembali menambahkan, "mereka, para anjing itu bahkan membunuhnya, mengoyak dadanya dan mengeluarkan organ tubuhnya dengan paksa tepat di depan mataku. Kemudian mereka mendekatiku, bermaksud melakukan hal yang sama. Tapi itu tidak terjadi karena kau datang. Kau datang menyelamatkanku. Kau membunuh mereka semua untukku. Bahkan bukan hanya itu, kau selalu muncul saat aku membutuhkanmu walaupun bukan dalam bentuk manusiamu. Delapan tahun yang lalu, di kediaman Kim Hera, kau juga datang menyelamatkanku. Tapi kenapa, kenapa kau tetap tidak pernah mau menyapaku. Kau selalu langsung pergi setelah menyelamatkanku, itulah sebabnya kenapa saat itu aku langsung berbalik meninggalkanmu. Aku bosan, aku bosan selalu melihat punggungmu yang berangsur menjauh meninggalkanku." Aphrodite semakin menangis kencang sambil meremas dadanya menahan sakit yang selama ini selalu dia pendam.

My AlphaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang