34. Jalan Buntu

3K 257 35
                                        

"Dia, wanita bodoh itu berniat pergi dan meninggalkanmu."

Bagai tersambar petir, suara lemah Cathy membuat Aphrodite kian terpojok. Melotot, dia sengaja memasang wajah ganas ke arah wanita yang masih berbaring lemas.

Bukannya takut, Cathy malah membuang muka. Enggan melihat wajah bringas sang rival setia. Darren yang melihatnya memilih bungkam. Sementara Lucas hanya diam dengan ekspresi sulit dibaca. Membuat Aphrodite kian merana.

"Akhh kenapa si kucing kampung itu memilih waktu yang tidak tepat untuk berkhianat," batin Aphrodite nelangsa.

Lama terdiam, akhirnya terdengar suara kekehan menghina dari Lucas. Kekehan yang tidak pernah Aphrodite temukan tetapi sering ditemukan oleh Cathy dan Darren. Kekehan itu jelas janggal, membuat alam bawah sadar Aphrodite langsung memberikan peringatan tanda bahaya.

"Hal licik apa yang sudah kau lakukan?" Seperti biasa, respon Aphrodite selalu diluar dugaan.

Lucas memang sudah biasa, tapi tidak dengan Cathy dan Darren. Mereka berdua berbalik memandang Aphrodite heran. Bertanya-tanya makhluk seperti apakah Aphrodite sebenarnya.

Bukankah normalnya seharusnya Aphrodite ketakutan dan meminta pengampunan karena sudah ketahuan berniat pergi tanpa izin?

Tapi lihatlah apa yang terjadi sekarang, bukannya takut dan meminta maaf, dia justru menantang sang singa jantan yang tengah menahan murka dan semakin membuat panas suasana.

"Ah ternyata istriku sungguh cerdas. Semenjak meminum obat dari kakakku kau semakin pintar saja." Dengan tersenyum manis, Lucas membuat suasana kian tegang.

Lucas yang tersenyum dengan wajah kaku nyatanya jauh lebih mengerikan daripada Lucas yang marah-marah membabi-buta.

Menatap ke sang kakak, Lucas kembali tersenyum. Senyum yang sama sekali tak sampai ke matanya. Senyum yang lebih mirip dengan seringai sang dewa kematian.

"Aahh, tak ku duga bahkan kakakku yang terkenal sibuk dan sombong pun sampai datang kemari demi memastikan kesehatan adik iparnya."

Mereka masih diam, tidak ada yang mau membuka suara karena sadar Lucas sedang menunjukkan mode berbahaya.

Bukannya mereda, kediaman mereka justru membuat Lucas menjadi tidak sabar dan semakin mengeluarkan aura berbahayanya.

"Pergilah jika kau ingin pergi."

Deg...

Satu kalimat itu membuat mereka bertiga langsung memfokuskan atensinya ke arahnya dengan berbagai macam ekspresi.

Cathy menatap dengan mata melotot tanda tak percaya.

Darren menatap dengan satu alis terangkat tanda bertanya.

Dan Aphrodite, tentu saja dia menatap dengan tatapan berbinar penuh rasa haru dan syukur.

Tersenyum licik, Lucas kembali menambahkan, "tapi aku tidak jamin kau tidak akan kembali lagi dalam waktu kurang dari 24 jam." Dengan tanpa beban, Lucas bicara santai.

Aphrodite yang mendengarnya mengerutkan dahi dalam. Seketika tatapan berbinarnya musnah. Kalimat Lucas itu jelas mengandung banyak makna. Membuatnya lagi-lagi bertanya-tanya akan hal licik apa yang sudah sang suami lakukan.

Cathy yang tidak mengerti mengerutkan dahi dalam. Sementara Darren sudah mulai curiga.

"Kau tidak mencuri uang beserta kartu pengenalnya bukan?" Cathy bersuara, tidak tahan untuk tidak menyuarakan pemikirannya.

Lucas hanya diam tidak menanggapi. Seperti biasa, selain sang istri, maka wanita lain tidak penting baginya.

"Bukan, tapi dia sudah menyogok begitu banyak makhluk untuk menjadi sekutunya." Memutar mata malas, Aphrodite menjawab jengah.

My AlphaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang