Bab 9: Kemajuan

713 15 0
                                        

Aku baru tahu nama kakak kelas tukang cari masalah itu dua hari setelah kejadian di pagar sekolah terjadi. Namanya Adam. Adam Wicaksono. Dia salah satu pimpinan geng sekolah kami yang ditakuti banyak orang. Orangnya bengis, kejam, dan tidak kenal ampun. Pantas saja ia bisa dengan mudah melepas plang besi yang terkait di pagar tempo hari. Konon, jika ada orang yang cari masalah dengannya, esok harinya dijamin akan pulang dengan luka lebam di sekujur tubuh. Aku merasa cukup beruntung saat mendengar hal itu.

Di lain sisi, aku makin dekat saja dengan Kamga. Dia makin sering mengobrol denganku. Kadang, ia bahkan memukul lembut bahuku. Meskipun dia mengikuti karate, dia tetap bisa menjaga kekuatan pukulannya agar tetap lembut dan tidak menyakiti siapapun. Bahkan, pukulan adikku saat sedang merajuk pun jauh lebih keras daripada pukulan yang biasa ia sarangkan ke bahuku. Aku tidak keberatan dengan hal itu, selama dia tidak berbuat lebih aneh daripada itu. Aku makin jatuh hati padanya. Aku yakin, perlahan namun pasti, aku akan mendapatkannya.

Kau tahu, di SMP mana pun, pasti akan ada olimpiade yang biasa disebut OSN. Aku juga ikut, tapi ikut di bidang Matematika. Ran mengikuti OSN bidang Biologi. Jadwal bimbingan belajar kami berbeda. Aku sebetulnya bisa saja langsung pulang. Tapi, malas juga sih. Apalagi, tidak banyak hal yang menarik di dalam rumahku. Rumahku memang nyaman, jarang sekali ada kegaduhan. Tapi, aku juga bukan anak TK yang harus selalu langsung pulang setiap kali pulang sekolah. Mau menceritakan kenangan apa aku nantinya?

Lagipula, novel Refrain yang kubaca juga sudah tanggung sekali. Sia-sia sekali jika aku membacanya di bus pulang, dan tiba-tiba sudah habis ketika aku baru duduk di kasurku selama lima menit. Aku kembali duduk di atas pagar pendek sekolah kami. Plang itu belum dipasang lagi sejak dilepas paksa oleh Adam tempo hari. Baguslah. Setidaknya, aku tidak akan membuat surat perjanjian untuk tidak duduk di atas pagar itu jika tiba-tiba terpergok guru BK yang resenya amit-amit itu.

Refrain adalah kisah sederrhana. Aku suka sekali ceritanya. Cinta memang susah untuk dinyatakan. Tapi, lebih berat lagi untuk memendam cinta itu sendiri. Aku suka alur-nya. Aku suka klimaks-nya.

Aku menengok ke kanan dan ke kiri, menjelajah seluas cakrawala, barangkali saja ada orang yang akan mendekat ke tempatku duduk sekarang. Bagus! Tempat ini sepi sekali. Mataku terfokus pada lembaran-lembaran putih berisikan berbaris-baris tulisan di depanku. Makin lama, pandanganku makin kabur. Hatiku makin mencelus, dan mataku makin panas. Tanpa bisa kutahan, air mataku jatuh satu-satu, membasahi seragam biru-putihku.

"Yaaah, ternyata elo. Hahahaha, cengeng, lo!" kata sebuah suara sengak. Pasti Adam. Apa dia tidak bisa membiarkan orang hanyut dalam novel roman? Apa yang ada di kepalanya hanya parang dan golok untuk menghajar orang? Aku kadang heran juga dengan orang satu ini.

"Lo nggak bisa ngeliat orang lagi menghayati novel, ya?" tanyaku geram padanya sambil menghapus air mata di pipiku. Sebetulnya, aku malu juga terpergok sedang menangis karena sebuah benda mati bernama novel. Tapi, yah, mau bagaimana lagi? Sudah terlanjur basah, lebih baik sekalian mandi saja.

"Bisa, tapi enggak buat elo," katanya masih sengak.

Kulihat garis hitam di bawah matanya ketika dia mengatakan kata "elo". Aku tahu dia pasti kurang tidur. Paling-paling dia baru beroperasi dan melakukan hal yang aneh-aneh dengan geng-nya tadi malam. Aku baru tahu kalau di dunia ini ada orang segila Adam. Dia betul-betul berbeda jauh dari Kamga. Kamga orangnya gentle, baik, ramah, dan... Lupakan. Aku sedang mabuk kepayang. Sebelum aku bicara sampai kau bosan, lebih baik aku berhenti saja.

"Kalo buat pacar elo yang teeeeeersayang itu?" tanyaku menggoda. Kulihat dia makin kesal saja padaku. Aku tidak takut. Aku bisa memanggil polisi kapanpun aku perlu, membayar pengacara selama yang kumau, dan menjebloskannya ke dalam penjara semenderita yang kuinginkan. Tapi, mungkin pacarnya akan menangis sejadi-jadinya selama tujuh-hari-tujuh-malam. Atau mungkin, ia akan berlutut di kakiku agar Adam bebas, membayar upeti berapapun yang kumau, dan menjadi pembantuku hingga turunannya yang ketujuh. Oke, lupakan kalimat yang terakhir tadi. Aku sudah berkhayal kelewat tinggi.

Lagi-lagi ponselnya berbunyi. Sama seperti beberapa hari lalu, ia juga menjawab panggilan pacarnya itu dengan suara menghamba. Kali ini, aku tahan mati-matian sampai aku hampir pipis di celana. Setelah selesai menelepon, dia menatap garang ke arahku sambil berkata, "Mau ngetawain gue lagi? Iya 'kan?! Jawab!"

Tawaku meledak saat itu juga. Tanpa perlu dijawab pun, dia pun sudah tahu jawabannya.

Ran akhirnya keluar juga dari kelas. Fyuh... Aku tidak harus berhadapan dengan makhluk bengal itu lagi. Tapi mulai besok, sepertinya aku harus membawa baju besi. Hahahahaha!

Aku, Kamu, Dia, dan KitaBağımlısı olacağınız hikayeler. Şimdi keşfedin