Bab 15: Bebas!!!

520 11 0
                                        

Yes! Hari ini hari terakhir penderitaanku. Sebentar lagi, Adam akan kuhabisi, karena masa yang telah disepakati bersama sudah selesai. Rasanya, aku ingin cheers dengan seember wine agar puas. Aku datang pagi sekali, sampai kelasku pun belum terbuka. Aku menunggu di luar kelas. Tak lama kemudian, Kamga datang juga. Ia juga menunggu di depan kelas, sama sepertiku. Aku deg-degan lagi. Masalahnya, ia menunggu di depan kelas, sama sepertiku. Duduk bersamaku. Di sebelahku!

Napasku langsung terasa begitu sesak. Debaran jantung ini telah merenggut seluruh tubuhku. Debaran ini menghujam terlalu kuat, sampai menimbulkan rasa sakit. Sebegini dalamnyakah cintaku? Aku tidak percaya bahwa aku sudah begitu mencintainya, sampai ke lubuk hatiku yang paling dalam.

"Lo udah ngerjain PR Matematika, belom?" tanyaku mencoba membuka obrolan.

"Mmmm, udah, siih. By the way, makasih ya, kemaren udah ngajarin. You are my savior," katanya dengan mata berbinar, membuat degupan itu makin keras dan membabi buta. Aku hanya berharap bahwa yang kudengar salah, dan sebenarnya, dia mengatakan "you are my lover".

Tapi, bagiku, segitu saja sudah cukup. Aku sudah cukup bersyukur, apalagi jika mengingat para anggota "Kamga Fans Club" yang mati-matian berusaha hanya untuk berbicara dengannya.

Aku masih terus duduk dengan debaran jantungku ketika pintu sudah terbuka. "Lo ngapain duduk termenung di disitu mulu? Buruan, pintunya udah dibuka, tuh," katanya sambil menujuk ke arah pintu. Aku masih tidak sadar. Bahkan, aku makin menggila dengan debaran jantungku yang semakin terpompa naik. Bayangkan saja, dia memerhatikanku! Selain aku, yang pernah diperhatikan sampai tingkat seperti itu hanyalah Freya. Mataku berkunang-kunang karena terlalu bahagia. Oh, God, harusnya tadi aku membawa handy cam, sehingga aku bisa terus mengulang-ulang peristiwa itu secara konkret seberapapun sering kuinginkan.

Ternyata, tanpa handy cam pun aku masih bisa mengulang-ulang peristiwa tadi dengan mantap. Aku masih ingat sekali senyumnya, cara bibirnya bergerak... Aku ingat semuanya.

Aku tidak akan pernah lupa. Semua tentangnya. Setelah itu, aku hanya berjalan dengan linglung di belakangnya. Satu lagi yang kusuka darinya. Dia akan duduk di manapun tempat yang kosong. Dan tempat duduk di sebelahku kosong!

Jadi, seperti yang sudah kuharapkan, dia duduk di sebelahku. Aku bisa mencium dengan jelas bau Aigner yang mencuat dari bajunya. Baunya sungguh menggairahkan. Ini adalah surga bagiku. Aku bisa meliriknya kapanpun aku mau, menyentuhnya (meskipun hanya kemejanya) sebanyak apa pun kusuka (kan tinggal bilang kesenggol), dan berbicara dengannya meskipun tidak terlalu perlu.

Dia juga selalu merespon ku dengan respon positif, dan beribu kali ucapan maafnya terlontar dari mulutnya yang manis karena aku (pura-pura) merasa terganggu dan mengatakannya padanya.

Pagi ini, aku sudah cukup mendapatkan kebahagiaan. Semoga cadangan ini tidak akan habis sampai Adam memuntir-muntirku nanti sore.

***

Aku berjalan ke arah pagar menyebalkan itu.

"Last day, boy," kataku sambil mendengus kesal.

"Bisa nggak... Hari ini diganti sama satu permintaan?" tanyanya. Suara dan nada suaranya berubah jadi sangat aneh.

"Jangan-jangan lo mau nembak gue lagi. Iya kan? Ngaku lo!" desakku.

"Bukan, tapi... Apapun yang lo liat tentang gue, please... Gue mohon lo jangan kasih tauin ke siapa-siapa. Selamanya. Oke?' tanyanya dengan muka memelas yang baru pertama kali kulihat.

"Hhhhh, masalah gengsi, ya? Oke lah," kataku cepat, kemudian berbalik memunggunginya.

"Mmm, Ai. Satu lagi," katanya, membuatku berbalik arah.

"Apa?" tanyaku tidak sabar.

"Gue udah maafin lo. Makasih, dan maaf," katanya, kemudian pergi sambil menyulut rokoknya.

Aku bingung juga dengan maksudnya. Yah, tapi... Aku tidak begitu peduli. Aku cuma harus menutup mulutku. Mudah sekali! Kenapa dia tidak mengajukannya saja sedari awal? Dasar anak aneh!

Aku, Kamu, Dia, dan KitaBağımlısı olacağınız hikayeler. Şimdi keşfedin