Bab 22: Air Terjun

509 9 0
                                        

Sepertinya doaku terkabul. Hanya Kamga seorang yang membenciku, bukan seluruh dunia. Aku juga tidak terlalu bermasalah. Toh, itu hak-nya untuk membenciku atau justru memujaku.

Hari itu aku girang sekali. Entah kenapa, rasanya senyum melekat dengan kuat di wajahku. Aku mengerjakan soal latihan di sekolah dengan riang, bahkan mengerang sebal ketika pelajaran hari itu usai. Aku menjelma menjadi makhluk studyholic yang tak pernah kubayangkan.

Aku betul-betul malas pulang. Akhirnya, aku hanya duduk kembali di atas pagar itu dan membaca novel Hunt For the Atlantis karangan Andy McDermott. Seperti yang sudah kuduga, Adam datang ke tempat itu tak lama kemudian.

"Idih, lo nggak solat Jum'at?" tanyaku bergidik sambil menatap ke arahnya.

"Emang, cowok alim yang ada di pandangan elo kayak gitu?" tanyanya sambil menggesek-gesekkan sepatunya ke hamparan kerikil di bawahnya.

"Bukan pandangan gue. Pandangan agama dan semua orang juga gitu," kataku sambil kembali mencari-cari halaman yang terakhir kubaca. Tiba-tiba saja ia berbalik arah dan langsung pergi meningglkanku begitu saja.

"Lo mo kemana?' teriakku ketika dia sudah berada agak jauh dariku.

"Masjid, solat Jum'at. Gue pengen jadi anak alim," katanya sambil terus melangkah. Aku hanya geleng-geleng kepala, kemudian melanjutkan bacaanku.

***

Ran akhirnya keluar dari kelas dengan membawa setumpuk lembar soal yang harus ia kerjakan. Aku takjub sekali melihatnya mengerjakan soal yang tingginya selangit itu dengan sabar dan serius. Kalau aku jadi dia, aku mungkin hanya akan mencari jawabannya di internet, atau mungkin aku hanya bermain cap-cip-cup sepanjang waktu saat mengerjakan soal. Toh, aku tidak akan mati kalau ternyata jawabannya salah semua.

Aku lagsung melompat dan mebantunya membawa kertas soalnya. Pasti berat sekali soal sebanyak itu. Apalagi ketika aku membaca isinya. Ketika membacanya saja, aku sudah seperti membaca prasasti Mulawarman atau apalah itu, dengan huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta.

Dalam sekejap, aku langsung menemukan semua jawaban dari soal-soal yang dijamin membuatku gila itu: HANYA TUHAN YANG TAHU.

Bebanku terasa hilang semua ketika kami sudah mencapai halte. Aku dapat merasakan lagi indahnya dunia, kesegaran alam, dan ketenangan lahir-batin duniawi. Oke, aku hiperbolis sekali. Yang pasti, aku merasa lega sekali ketika punggungku tidak harus dibebani oleh kertas-kertas bertuliskan bahasa yang tidak kumengerti itu.

Bus yang ditunggu Ran akhirnya datang juga. Aku sebetulnya ingin membawakan kertas soal itu lagi, namun seorang laki-laki telah membantunya duluan. Aku mengenal laki-laki itu sebagai Ivan, teman sekelasku yang selalu memerhatikan Ran di saat jam pelajaran berlangsung.

Aku berteriak mengucapkan sampai jumpa. Begitu keduanya menoleh padaku, aku mengerling nakal pada mereka.

***

Hari itu hari Jum'at. Hari saat aku harus mati-matian memeras otak karena berlatih OSN Matematika. Soal-soal yang dihadapi Ran di OSN Biologi memang banyak dan susah, tapi bukan PELAJARAN SMA.

Sebelum berangkat ke bimbingan OSN, aku sempat menyalakan laptop-ku terlebih dahulu, membuka Twitter. Di tab lainnya, aku membuka Facebook. Aku baru tahu kalau ternyata hari itu bertepatan dengan hari ulang tahun Adam. Yang lebih mengherankan lagi, aku lupa kalau aku pernah berteman dengan Adam di Facebook.

Seperti tradisi lamaku, siapapun yang ber-ulang tahun pasti kuberi ucapan selamat. Aku mengetikkan ucapan selamat ulang tahun cepat-cepat, dan mengucapkan selamat ulang tahun padanya lewat Twitter juga. Dengan rakus, kugigit burger makan siangku. Aku juga membuka Google untuk melihat-lihat foto yang bagus untuk kujadikan wallpaper laptop ataupun profile picture Blackberry Messenger-ku.

Aku, Kamu, Dia, dan KitaBağımlısı olacağınız hikayeler. Şimdi keşfedin